
Perjuangan seorang ibu bukanlah hal yang mudah tapi mereka terus berusaha untuk membuat seorang anak terlahir dengan selamat dan menyapa dunia.
~Aufa Falisha
***
Semakin jarum jam bergerak. Perut Aufa semakin sering terasa sakit. Bahkan Aufa sudah tak bisa berjalan karena punggung dan bagian perutnya benar-benar sakit dengan tempo yang lebih sering.
Dalam hal ini, Abraham benar-benar tak meninggalkan Aufa sedikitpun. Dia terus duduk di samping Aufa sambil memegang tangannya.
"Jangan menyiksa mamamu, Sayang. Lihatlah! Mamamu sudah sangat kesakitan," Kata Abraham sambil mengelus perut istrinya.
Aufa tersenyum. Namun, tak lama dirinya mengaduh karena sakit itu kembali datang dan lebih sakit.
"Mas. Sakit banget… "
"Bi… Bia!" Panggil Shaka saat merasakan genggaman istrinya semakin kuat.
Tentu Bia yang tertidur di sofa karena waktu sudah tengah malam spontan terbangun. Dia berjalan mendekat sambil membetulkan jilbabnya.
"Kenapa, Kak?"
"Kakak ngerasa basah, Bi," Ucap Aufa yang membuat Bia perlahan mengangkat selimut yang menutupi bagian bawah kakak iparnya itu.
Tentu calon dokter itu lekas memencet tombol di samping ranjang. Dia tahu ini sudah waktunya. Waktu dimana calon keponakannya akan lahir di dunia.
"Ya, Tuan?" Kata seorang suster yang masuk ke dalam ruangan Aufa.
"Air ketuban ya sudah pecah, Suster!" Ucap Bia yang membuat suster itu mengangguk.
Akhirnya semuanya bersiap. Ya, bahkan Aufa dipindahkan ke ruang bersalin. Wanita itu benar-benar terus mengaduh kesakitan dengan tangan memegang jari suaminya
"Tuan tunggu disini," Kata suster saat mereka mulai masuk ke ruang bersalin.
__ADS_1
"Saya ingin menemani istri saya di dalam!" Ucap Abraham dengan tegas.
Akhirnya suster tak bisa mengatakan apapun lagi. Dia mengizinkan Abraham masuk dan berdiri di samping istrinya.
"Pakai pakaian steril dulu, Tuan," Ucap seorang suster perempuan yang membawa baju steril berwarna biru.
Abraham melakukan semuanya dengan cepat. Dia juga tak mau meninggalkan istrinya begitu lama karena Abraham tahu Aufa terus mencarinya.
Tak lama dokter wanita yang menangani masa kehamilan Aufa masuk. Dia menyapa pasangan suami istri itu dengan ramah.
"Saya cek dulu ya, Bu. Sudah pembukaan berapa," kata Dokter lalu mulai mengangkat kaki Aufa dan membukanya.
Abraham tak peduli apapun. Yang ada dalam pikiran dan di depan matanya adalah bagaimana wajah istrinya yang sedang berjuang.
"Sudah waktunya!" Ucap dokter yang membuat Abraham menoleh. "Pembukaannya lengkap, Tuan. Jadi sudah waktunya untuk mengejan!"
"Terus tarik nafas melalui hidung lalu buang melalui mulut ya, Bunda," Kata dokter dengan suaranya yang benar-benar ramah.
Aufa tentu mengikuti semuanya dan dengan setia Abraham terus mengusap kepala istrinya. Membisikkan kata-kata penyemangat agar Aufa kuat dan berjuang untuk melahirkan anak mereka.
"Iya, Dokter," Balas Aufa dengan nafas terengah.
Akhh sakit itu kembali muncul. Akhirnya Aufa benar-benar mulai mengatur nafasnya. Sampai akhirnya dia mulai mengejan dengan cara yang sudah diajarkan oleh dokternya itu.
"Bagus! Ayo terus, Bunda!" Kata dokter menyemangati.
Abraham dengan setia mengusap keringat di dahi istrinya. Dia benar-benar bisa merasakan kesakitan Aufa. Apalagi saat istrinya mengejan, genggaman tangan Aufa semakin kuat dan membuat Abraham tahu bagaimana perjuangan istrinya.
"Ayo, Sayang. Kamu pasti bisa!" Bisik Abraham yang membuat Aufa mengangguk.
Aufa kembali mengejan. Dia benar-benar menekan perutnya itu dengan suara yang benar-benar seperti dia telan sendiri karena berusaha agar anaknya segera menyapa dunia.
Nafasnya memberat. Jantungnya berdegup kencang saat rasa lelah itu mulai menyergap dirinya.
__ADS_1
"Lagi, Bunda!"
Aufa melakukan sekali lagi. Dia benar-benar berjuang dengan sekuat tenaga.
"Kepalanya sudah kelihatan," Kata dokter yang entah kenapa seperti angin segar untuk Aufa.
Dia semakin bersemangat. Bahkan dirinya benar-benar mulai berusaha untuk satu kali tarikan nafas lagi.
"Ayo, Bunda. Ini hampir sampai," Kata dokter yang membuat Aufa semakin erat menggenggam tangan suaminya.
Semua ini dia lakukan untuk calon buah hati mereka. Calon anak yang sangat dinantikan keduanya. Sampai akhirnya Aufa kembali mengejan dengan semangat luar biasa. Dirinya mengeluarkan sisa tenaganya demi buah hati mereka berdua.
Oek…oek…
Akhirnya suara tengisan itu memenuhi ruang bersalin Aufa. Suara tangisan bayi yang sangat dinantikan pasangan suami istri Abraham dan Aufa.
Suara yang sangat ingin didengarkan oleh keduanya kini terdengar dengan jelas.
"Selamat, putra kalian terlahir dengan sehat," Ucap dokter yang membuat Abraham menangis.
Dia mencium seluruh wajah istrinya tanpa memikirkan suster yang masih ada disana. Dia benar-benar merasa bahagia. Dia benar-benar merasa bangga pada istrinya.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih banyak," Ucap Abraham sambil menciumi wajah istrinya dengan perasaan bahagia. Terima kasih sudah berjuang demi anak kita"
Aufa mengangguk. Dia merasakan kebahagiaan itu. Bahkan kebahagiaan keduanya semakin bertambah saat dokter meletakkan bayi mungil itu di atas dada istrinya.
"Biarkan dia mencari sumber asinya sendiri, Bunda," Kata dokter yang membuat Abraham menatap bayi mungil yang tubuhnya masih memerah itu dengan air mata yang menetes.
Dia juga mengulurkan tangannya dan memegang jemari mungil dan lucu itu dengan jarinya.
"Selamat datang di dunia, Alsaki Boy Shankara."
~Tamat
__ADS_1
Yey akhirnya cerita ini sampai di penghujung akhirnya setelah beberapa bulan aku kerjakan. Huhu rasa bahagia dan puas akhirnya bisa menyelesaikan kisah ini.
Jangan diunfavorit dulu yah, bakalan ada ekstra bab nanti dan tunggu kisah baru Dayana yang akan rilis hari ini.