
...Percayalah apa yang pasangan kita lakukan adalah hal terbaik untuk kita. Banyak cara mereka untuk menyatakan cinta yang mereka punya dengan cara yang mereka ambil....
...~Abraham Barraq Alkahfi...
...***...
Sebuah ketukan pintu membuat pasangan suami istri itu mendongak. Tak lama pintu itu terbuka dan terlihat tiga orang berpakaian rapi, berjas, kemeja, bersepatu dan berdasi mulai berjalan mendekat ke arah Abraham.
"Ada yang bisa kami bantu, Tuan?" Tanya salah satu dari mereka yang membuat Aufa semakin tak mengerti.
Matanya mengerjap berulang kali. Dia menatap ke arah Abraham dan tiga orang itu yang terlihat begitu segan pada suaminya.
"Ya. Bisakah kau memberikan perkembangan saham di perusahaan mertuaku?" Tanya Abraham dengan begitu tegas.
Aufa tak tahu harus melakukan apa. Dia seakan patung yang benar-benar dihadapkan banyak kejutan. Bibirnya ingin bertanya tapi dia ingat apa yang dikatakan oleh suaminya tadi.
Duduk diam sebelum Abraham sendiri yang akan menceritakan padanya. Dia cukup harus percaya pada suaminya sampai pria itu siap dengan segala hal yang akan diceritakan padanya.
Salah satu pria disana mulai membuka tas mereka, mengambil tablet dan segera mencari apa yang diminta Abraham. Setelah itu mereka memberikan pada Abraham dengan sopan.
"Itu, Tuan," ucapnya dengan sopan.
Abraham diam. Dia membaca grafik itu. Benar-benar turun dan butuh dana yang besar. Abraham mulai memutar otaknya. Dia mencari sesuatu hingga akhirnya keputusan mulai dia ambil.
"Berikan dana yang cukup untuk mempertahankan perusahaan mertuaku," Ucap Abraham final.
"Apa!" Pekik Aufa dengan mata terbelalak.
"Tapi, Tuan. Dana yang dibutuhkan besar. Jika Anda… "
"Aku tak peduli! Yang pasti! Lakukan apa yang aku minta," Kata Abraham tak mau dibantah. "Dan kau!"
Abraham menunjuk salah satu dari mereka. Tatapan wajahnya serius. Abraham benar-benar sudah memikirkan semuanya. Mungkin inilah saatnya. Saat dimana dia harus jujur pada semuanya.
Jujur tentang dirinya demi menyelamatkan kehidupan dan perusahaan mertuanya itu.
"Siapkan tiket untuk penerbanganku dan istriku kembali ke rumah," Pinta Abraham yang membuat orang kepercayaan pria itu menatap tak percaya.
"Tapi, Tuan… "
"Lakukan apa yang aku minta sekarang! Aku tak bisa mengundurnya lagi," Kata Abraham tanpa mau dibantah.
__ADS_1
Tatapan mata pria itu begitu tajam. Apa yang dikatakan Abraham sudah menjadi keputusannya yang besar. Dia tak akan mundur lagi. Dia tak akan bersembunyi lagi. Mungkin semua keluarganya akan tau statusnya.
Mungkin saat inilah semua harus terbongkar. Jati dirinya dan statusnya semuanya akan mulai terbuka.
"Baik, Tuan. Kami siapkan semuanya," Jawab ketiganya bersamaan.
Mereka lekas pergi dari sana meninggalkan Aufa dan Abraham yang mulai kembali berdua. Perempuan dengan jiwa yang mulai meronta itu perlahan memilih duduk.
Dia rasanya ingin melayang. Jujur melihat penampilan dan cara bicara suaminya sangat berbeda jauh seperti biasanya. Ini sudah bukan Abraham miliknya. Bukan Abraham seorang montir yang ia kenal.
"Sayang," Panggil Abraham sambil mengusap pipi kanan Aufa.
Aufa terkejut. Dia spontan mendongak dan menatap kedua bola mata Abraham yang terlihat begitu berbinar menatapnya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan?" Tanya Abraham yang sangat tahu dan peka.
"Siapa kamu sebenarnya?" Tanya Aufa dengan cepat.
Perempuan itu tak bisa menahan rasa penasarannya. Dia benar-benar ingin tahu siapa sebenarnya suaminya ini.
"Aku, Abraham suamimu, Sayang," Jawab Abraham dengan enteng.
Kepala Aufa menggeleng. Perempuan itu menatap lebih serius.
Abraham tersenyum. "Kamu akan tau nanti setelah ikut aku. Semua rasa penasaran kamu akan terjawab."
"Memangnya kita mau pergi kemana? Kamu masih sakit. Jangan aneh-aneh. Luka kamu di lengan, dahi dan… "
"Ustt!" Abraham menutup bibir istrinya dengan jari telunjuknya.
Dia tahu dirinya terluka. Namun, perusahaan mertuanya saat ini sangat membutuhkan dirinya dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh ayahnya.
Entah kenapa di saat kondisi saat ini dia menyesal tak menerima permintaan papanya untuk mengurus salah satu perusahaan mereka. Jika dia mengurus sendiri, bukankah semuanya berjalan dengan lancar. Namun, Abraham menggelengkan kepalanya.
Dia tak boleh menyesal. Ini sudah jalan yang ia ambil. Dirinya bisa berdiri di kedua kakinya sendiri adalah hal yang sangat membanggakan.
"Ada kamu yang akan membantuku, Sayang," Kata Abraham dengan pelan. "Jadi, maukah kamu merawat pria sakit ini?"
Aufa mendelik. Dia memukul lengan suaminya sampai Abraham mengadu.
"Biarin! Bicara kok sembarangan banget! Kamu sehat. Kamu cuma terluka dan aku siap bantuin kamu!" Seru Aufa dengan nada suara kesal.
__ADS_1
Abraham hanya tertawa kecil. Tangannya mengusap kepala istrinya dan mengacak-acaknya sedikit.
"Unch istriku yang ngambek. Jangan cemberut gitu. Ntar aku cium, baru tahu rasa!" Ancam Abraham yang berhasil membuat Aufa menutup mulutnya dengan tangan dan melototkan matanya ke arah Abraham.
***
"Kalian beneran mau pergi?" Tanya Papa Akmal yang baru saja masuk ke ruang rawat Abraham.
Pria itu sudah duduk di pinggir ranjang. Punggung tangannya sudah tak ada infus yang menancap karena pria itu ingin hari itu juga berangkat ke negara tempat tinggalnya.
"Iya, Pa. Maafkan Abraham. Abra akan membawa Aufa sebentar," Kata Abraham dengan begitu sopan.
Papa Akmal tersenyum. Dia menepuk pundak menantunya dengan pelan.
"Selesaikan urusan kalian. Papa yakin Abraham sudah mengambil keputusan yang terbaik," Ucap Papa Akmal dengan begitu bijaknya.
"Mama kemana, Pa?" Tanya Aufa yang sangat merindukan mamanya.
"Mama ada di rumah. Dia benar-benar menjual semua perhiasannya, Aufa. Mama merelakan semuanya," Kata Papa Akmal dengan wajah yang berubah menjadi sedih.
Aufa tahu perasaan papanya. Dibalik sikap mamanya yang manja dan egois. Papanya selalu setia dan tabah menghadapi sifat mamanya.
"Aufa yakin Mama ikhlas melakukan itu, Pa. Mama hanya ingin membantu, Papa," Ujar Aufa dengan pemikirannya yang luar.
Papa Akmal tersenyum. Dia menatap putrinya dengan bangga. Untuk pertama kalinya dia melihat putrinya begitu bijak.
Tak ada lagi Aufa berpikiran pendek, berpikiran egois tanpa memikirkan perasaan orang sekitarnya.
"Iya. Kamu juga, Papa bangga sama kamu, Sayang. Kamu sudah berubah menjadi anak yang peka. Suamimu berhasil merubahmu dengan baik," Kata Papa Akmal yang membuat Aufa tersenyum.
"Sudah waktunya, Pa," Sela Abraham sambil menurunkan kedua kakinya ke lantai. "Kita pamit. Kita akan pergi sekarang juga."
Papa Akmal mengangguk. Pasangan suami istri itu segera pamit dan mencium tangan Papa Akmal.
"Do'akan Abraham ya, Pa."
"Papa selalu mendoakan kalian."
Akhirnya Abraham dan Aufa mulai naik ke dalam mobil. Supir pribadi Abraham yang selama ini diam di rumah utama mulai mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang agak cepat.
Aufa tak banyak bicara. Meski dia penasaran tentang mobil ini dan perlakuan supir yang sangat istimewa. Sedangkan Abraham, pria itu terlihat mulai menghubungi seseorang hingga tak lama panggilan itu tersambung.
__ADS_1
"Jemput aku di bandara nanti. Aku dan istriku pulang!"
~Bersambung