Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Ditolak atau Diterima sebagai menantu


__ADS_3

...Terkadang tak selamanya kehidupan anak harus mendapatkan campur tangan kedua orang tua. Namun, ada beberapa hal yang terkadang harus dibicarakan ketika sebuah tanggung jawab dan keputusan diambil oleh seorang anak tanpa melibatkan orang tua....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...***...


Aufa merasakan tangannya dingin. Dia menunduk dan bersembunyi di balik tubuh Abraham yang kekar. Dia benar-benar merasa saat ini jantungnya berdegup kencang. Dia bahkan merasa perkenalan ini entah kenapa akan begitu sulit.


Ingatannya memutar saya keduanya menikah. Ya, Aufa ingat jika pihak keluarga yang datang dari keluarga suaminya hanya Bia. Namun, sekarang, dia baru tahu jika orang tua Abraham masih ada.


Lalu kemana mereka saat menikah?


Kenapa hanya ada Abraham dan Bia saja.


"Sayang," Panggil Abraham pelan lalu menarik tangan Aufa agar berdiri di sampingnya.


Aufa jujur takut. Namun, saat dia merasakan genggaman tangan Abraham yang terus menggenggam tangannya, dia berusaha untuk tenang.


Aufa memberanikan diri untuk mendongakkan kepalanya. Mencoba melihat bagaimana reaksi dan ekspresi keluarga suaminya sekarang.


"Meera," Pekik Bara terkejut saat Almeera terlihat sesak nafas.


Semua orang mendekat. Begitupun dengan Abraham dan Aufa.


"Ibu. Ibu baik-baik saja?" Kata Abraham dengan ketakutan yang besar.


Bara mencoba menangkup kedua wajah istrinya. Ada ketakutan yang jelas di kedua matanya.


"Sayang tenanglah," Kata Bara dengan suaranya lembut. "Tatap aku!"


Terlihat Almeera kesusahan. Namun, matanya memandang kedua bola mata Bara. Pria yang sejak dulu masih bertahta paling tinggi di hatinya.


"Tarik nafas pelan dan buang. Jangan terlalu dipaksakan. Pelan-pelan, Sayang," Ujar Bara dengan pelan.


Almeera mencoba tenang. Dia mengikuti arahan suaminya dengan tetap menatap dua bola mata Bara yang begitu menenangkan.


Hal ini selalu seperti ini. Masih sama dan akan tetap sama. Bara benar-benar membuktikan cintanya, menebus segala kesalahannya di masa lalu. Menebus semua hal yang pernah ia lakukan di masa lalu.


"Bagus. Istriku pintar. Tenang dan jangan memikirkan apapun," Ujar Bara yang membuat Abraham tercenung.


Hatinya tersentil. Dia baru menyadari jika banyak hal yang sudah diperbuat dan membuat ibunya menjadi seperti ini. Abraham sadar selama ini membuat ibunya sedih, kepikiran dan drop. Namun, dia juga melakukan ini untuk pembuktian pada dirinya sendiri.


"Kalian keluarlah. Biarkan ibu istirahat," Ujar Bara tanpa menoleh pada putra putrinya.


Athalla dan Athaya saling tatap. Begitupun dengan Bia. Gadis cantik itu menarik tangan kedua adik kembarnya dan segera keluar dari ruang rawat ibunya.

__ADS_1


Sedangkan Abraham. Dia menatap ke arah istrinya. Bisa Abraham lihat tatapan penuh sesal dan takut di sana.


"Ayo," Ajak Abraham dengan menarik tangan istrinya bersamanya.


Namun, saat keduanya berbalik. Almeera menghentikan gerakan keduanya.


"Apa kamu ingin pergi tanpa menjelaskan apapun pada Ayah dan Ibu?" Kata Almeera dengan suaranya yang serak dan terputus.


Abraham terdiam. Dia menarik nafasnya begitu dalam. Menggenggam tangan istrinya dengan erat lalu kembali berbalik untuk menatap ke arah kedua orang tuanya.


"Apa kamu ingin membuat Ibumu banyak pikiran, Bang?" Ujar Bara menambahi.


Tatapan mata Abraham berkaca-kaca. Dia menyesal dan dia selalu berada di titik terlemah jika sudah berhadapan dengan ibunya. Penyesalan itu ada di depan mata tapi dia tak pernah menyesali apapun yang berkaitan dengan Aufa.


Dia menyesal tak menceritakan semuanya dari awal. Dia menyesal membuat ibunya selalu sakit.


"Abang…" Kata Abraham dengan tersendat.


Pria itu perlahan menarik tangan istrinya untuk mendekat. Semua yang dilakukan Abraham tentu ditatap dan dilihat oleh Almeera serta Bara.


"Maafin Abang, Bu," Ujar Abraham memulai.


Dia memegang kedua tangan ibunya. Menatap mata wanita yang selalu memandangnya penuh teduh.


"Abang menikah tanpa bicara pada Ibu dan Ayah," Ujar Abraham dengan jujur.


Almeera masih diam. Namun, tangannya mengusap kepala putra pertamanya itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Bisa Abang ceritakan pada kami?"


Abraham terdiam. Namun, sebelum menjawab dia menatap ke arah istrinya yang berdiri di dekat ranjang pasien ibunya. Kepala itu mengangguk.


"Abang akan menceritakan semuanya pada, Ibu dan Ayah. Tapi, tolong kenalkan istriku dulu," Cicit Abraham dengan pelan.


Aufa mendongak. Dia menatap ke arah suaminya. Tak percaya jika Abraham masih sempat mengenalkannya.


Perempuan itu terlihat takut. Aufa terlihat gugup dan juga ragu. Namun, tanpa diduga. Al Meera mengulurkan tangannya ke arah Aufa.


"Kemari, Nak. Duduklah!" Kata Al Meera dengan begitu keibuan.


Aufa terlihat menelan ludahnya paksa. Namun, dia menerima uluran tangan itu dan duduk tepat di samping wanita yang melahirkan suaminya itu.


"Aufa?"


"Iya, Bu. Namaku Aufa," Kata gadis itu dengan pelan.

__ADS_1


Tanpa diduga, dia mencium punggung tangan Almeera dan membuat Abraham tersenyum. Dia tak menyangka banyak perubahan pada diri istrinya. Aufa sudah lebih kalem, lembut, sopan dan juga peka pada sekitarnya.


Almeera tersenyum. Dia mengusap kepala wanita yang merupakan menantunya itu dengan sayang.


"Kamu umur berapa, Nak?"


"22 tahun," Jawab Aufa dengan menunduk.


"Masih kuliah?"


"Bagaimana Ibu bisa tahu?" Tanya Aufa dengan frontal. "Eh. Maaf, Bu. Aufa… "


Almeera tersenyum. "Jangan takut pada Ibu. Ibu tak akan memakanmu."


Aufa tersenyum. Ternyata mertuanya tak seperti mertua mertua di luar sana. Mertua yang pernah dia dengar katanya jahat tapi ini tak ada dalam sosok mertua perempuannya.


"Kamu pasti semester akhir. Ya kan?"


Aufa mengangguk. "Iya, Bu."


"Terus kalau kamu kesini. Berarti?"


Aufa tersenyum. "Izin."


"Abang… " Kata Almeeera melirik putranya.


Abraham menarik nafasnya begitu dalam lalu dihembuskan. Ternyata ketakutannya begitu dalam. Dia sendiri sampai lupa jika orang tuanya bukan tipikal orang tua yang menjatuhkan.


Baik Almeera maupun Bara selalu menanyakan padanya. Apapun kesalahan dia, mereka selalu menunggu penjelasannya.


"Abraham mengajaknya kesini untuk mengatakan semuanya dengan jujur, Bu. Abraham ingin Ibu dan Ayah tau. Lalu Abraham juga ingin Aufa mengenal keluarga kita dan tahu identitas Abang."


"Maksudnya?"


Abraham tersenyum. Dia menatap ke arah istrinya lalu mengusap kepalanya.


"Tanyakan pada Aufa. Dia tahu Abang sebagai apa disana," Ujar Abraham pada ibunya.


Almeera mengalihkan tatapannya pada Aufa. "Memangnya Aufa tahu Abang, sebagai apa?"


Aufa terdiam. Entah kenapa dirinya merasa takut untuk menjawab. Dia merasa saat dirinya menatap ke arah Bara. Ke arah mertua laki-lakinya. Wajah pria itu seperti familiar di matanya. Namun, entah dimana dia pernah melihat tapi yang pasti. Wajah itu tak asing di matanya.


Aufa benar berusaha mengingat. Mencoba memutar ingatannya dimana pernah bertemu atau melihat wajah mertuanya. Namun, ternyata ingatannya tak sepandai itu dan akhirnya perlahan dia membalas tatapan mata Almeera untuk menjawab.


"Sebagai montir, Bu. Dia adalah seorang montir di sebuah bengkel miliknya."

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2