Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Syndrom Morning Sickness


__ADS_3

...Terkadang ketika kita sudah jatuh cinta. Maka apapun tentangnya akan menjadi sebuah kenangan indah yang tak mampu dilupakan. Namun, berbeda dengan sebuah obsesi yang hanya ingin memiliki tanpa ingin tahu apakah cintanya berbalas atau tidak....


...~JBlack...


...****************...


Malam semakin larut. Suasana yang sangat tenang dan damai terlihat di luar sana. Namun, berbeda dengan keadaan di taman belakang rumah Abraham.


Ya, malam ini terlihat meja panjang di pasang di sana dengan alat-alat barbeque yang sudah tertata rapi dan siap digunakan. Ya hari ini, malam ini, keluarga Abraham merencanakan untuk makan malam di taman belakang dengan BBQ bersama.


Beberapa bahan makanan, ikan dan semua bumbu sudah disiapkan sejak sore hari. Hingga malam ini semua orang tinggal memasak dan menggunakannya.


"Bawa kemarin ikannya, Abra. Papa akan memasaknya," Kata Papa Akmal yang mulai menyalakan api pemanggang.


Abraham, pria yang memakai celana panjang dan kaos serta jaket tebal itu sejak tadi hanya duduk diam di samping istrinya. Ya, Abraham benar-benar tak mau berjauhan. Bahkan dia memegang tangan istrinya dan mendekatkan di hidungnya seakan aroma tubuh Aufa adalah sebuah obat.


Abraham sejak tadi siang atau lebih tepatnya seharian ini melakukan aktifitas yang aneh. Ya pria itu akan merasakan mual-mual dan muntah jika dekat dan melihat makanan apapun.


Ya makanan apapun yang dimakan oleh dirinya akan dikeluarkan lagi. Ataupun makanan yang dimakan oleh orang terdekatnya membuatnya ingin muntah.


Abraham melihat ikan segar di dalam wadah itu dengan pandangan tak percaya. Hanya sebuah biaknya saja membuat perutnya saat ini tak enak. Namun, dia tak enak hati menolak permintaan papa mertuanya dan membuatnya dengan tak ikhlas melepas tangan Abraham dan segera beranjak berdiri.


Membawa ikan dalam wadah itu sambil menahan nafas. Ya menahan nafas sebaik mungkin sampai wadah itu berpindah ke tangan papa mertuanya.


Uwek.


Abraham menutup mulutnya saat dia tak kuasa menahan rasa mualnya lagi. Bara yang masih menata alat pemanggang spontan mendongak.


"Kamu baik-baik saja,Nak?" Tanya Bara dengan khawatir.


"Iya, Abra. Wajahmu pucat sejak tadi, Nak. Apa kamu sakit?" Tanya Papa Akmal yang juga tak kalah khawatir.


Abraham menggeleng. Dia mencoba mengatur nafasnya agar dirinya sedikit lebih tenang.


"Abra baik-baik saja, Pa, Ayah. Selama tak ada makanan di dekat Abra. Entah kenapa melihat makanan seperti ikan tadi, lalu tadi masakan padang Ibu dan Mama. Abraham ingin mual muntah. Maaf jika Abra terkena tak sopan. Tapi… "


"Papa tahu maksud kamu," Kata Akmal dengan spontan yang membuat Abraham mendongak.


"Maksudnya?" Tanya Abraham dengan bingung.


"Bertanyalah pada Mama. Bilang Abang mual ketika melihat makanan seperti papa dulu," Kata Papa Akmal yang membuat Abraham menoleh ke belakang.

__ADS_1


Dia bisa melihat mertuanya, ibunya dan istrinya sedang menyiapkan meja makan yang panjang. Dia juga melihat dari pintu penghubung rumah dan taman, sahabat istrinya, Mela datang sambil membawa beberapa piring di tangannya.


"Duduklah di sana! Biarkan Ayah dan mertuamu yang memanggang. Kamu duduklah, Nak. Kondisimu tak baik-baik saja," Kata Bara pada putranya yang langsung diangguki kepala.


Pria itu akhirnya kembali duduk dan membuat Aufa yang sibuk membantu mertua dan mamanya menata makanan yang sudah siap menoleh.


"Kok kesini, Sayang? Kamu gak bantuin Ayah sama Papa?" Tanya Aufa sambil mendudukkan dirinya di samping sang suami.


Kepala Abraham menggeleng. "Aku mual melihat ikan mentah itu."


Abraham terlihat lesu. Dia meletakkan kepalanya di atas meja karena terasa pusing. Dia merasa sakit dan berdenyut hingga membuat Aufa khawatir.


"Kamu demam?"


Aufa meletakkan tangannya di dahi suaminya. Namun, semuanya baik-baik aja.


"Kamu boong ya? Gak demam," Ujar Aufa dengan jujur.


"Aku gak boong, Sayang. Beneran liat ikan tadi aku pengen mual," Ujar Abraham dengan jujur.


Aufa masih mengerutkan keningnya. Jujur dirinya belum percaya karena kondisi suaminya yang baik-baik saja.


"Apa kamu mual beberapa hari ini, Nak?" Tanya Mama Bela yang menghentikan aktifitas tangannya.


"Iya, Ma. Lebih parahnya hari ini," Kata Abraham dengan jujur. "Papa tadi juga bilang. Kalau Abra harus… "


"Bertanya sama Mama?" Sela Mama Bela yang membuat Abraham mengangguk.


"Memangnya Papa kenapa, Ma?" Tanya Aufa yang sama-sama penasaran.


Almeera yang tadi tangannya tak tinggal diam ikut berhenti. Dua wanita yang tak lagi muda itu akhirnya duduk bersebelahan menatap Abraham dan Aufa.


"Dulu Papa kamu sama seperti Abra," Kata Mama Bela memulai.


Wanita yang masih terlihat cantik itu menatap ke depan. Seakan dirinya memutar ingatannya lagi di masa lalu tentang dirinya dan suaminya yang sangat amat dia ingat.


Dia sangat ingat kejadian ini karena memang sangat amat mengasyikkan walau kasihan.


"Ayo, Pa. Temani Mama makan itu. Mama pengen banget," Kata Mama Bela dengan perut yang membesar terlihat begitu lucu dan gemas.


Papa Akmal menggeleng. Wajahnya yang tampan seakan begitu menolak permintaan istrinya.

__ADS_1


"Mama mohon. Mama ingin makan disuapin Papa. Ya… ya? " Rengek Mama Bela dengan pandangan memohon.


Ibu hamil itu mengedipkan matanya dengan lucu. Bak anak kecil yang ingin sesuatu pada suaminya dan harus dituruti.


"Ya, Pa? Plis. Mama ingin banget!" Rengek Mama Bela memohon.


Akhirnya Papa Akmal yang kasihan pada istrinya apalagi sedang hamil lima bulan, membuatnya tak bisa untuk menolak. Pasangan suami istri itu akhirnya masuk ke sebuah restoran seafood.


Memesan makanan yang diinginkan Mama Bela dan sampai akhirnya makanan matang itu siap saji. Aroma seafood yang khas dicampur bumbu sangat menggiurkan untuk Mama Bela.


Namun, berbeda dengan Papa Akmal. Saat makanan itu sampai di meja makan mereka. Saat itulah pria tampan pada zamannya itu sangat amat tersiksa.


"Suapin Mama ya, Pa?"


Papa Akmal mengangguk. Dia berusaha menetralkan dirinya dan jantungnya. Berusaha menahan rasa mual yang ingin keluar dan juga perutnya yang bergejolak.


Dengan pelan pria itu mulai menyuapi istrinya dengan kepala tak melihat apapun.


"Papa! Ikhh!" Seru Mama Bela saat tangan Papa Akmal bergerak ke sembarang arah. "Tangan Papa yang bener! Dilihat dong, Mama dimana!"


Suara Mama Bela mulai kesal dan membuat Papa Akmal mulai khawatir. Akhirnya dia mulai menatap istrinya dan menyuapinya.


"Emmm ini enak banget, Pa," Kata Mama Bela dengan semangat. "Ayo Mama suapin Papa juga. Seafood kan kesukaan Papa."


Mama Bela mengambil sendok. Dia meletakkan udang di atas nasi lalu mulai menyendoknya dan mengulurkan ke arah bibir suaminya.


"Ayo buka mulut!" Kata Mama Bela.


Papa Akmal menatap sendok itu dengan ngeri. Bahkan dia sampai menutup mulutnya karena merasa perutnya bergejolak kuat.


"Nggak, Ma!"


"Ayo buka mulut!"


"Ma!" Mohon Papa Akmal.


"Makan, Pa! Ayo!"


Akhirnya Papa Akmal membuka mulut. Dia menerima suapan itu dengan muka memerah.


"Awas dimuntahin. Mama bakalan marah dan Papa tidur diluar!"

__ADS_1


"Saat itu Mama tak tahu jika Papa mual muntah ternyata karena syndrom kehamilan Mama," Kata Mama Bela dengan terkekeh pelan. "Mama paksa papamu makan sampai ya bisa dia telan."


~Bersambung


__ADS_2