
...Terkadang masa lalu mampu membuat kita kuat di masa depan. Hal itulah yang terjadi padaku. Sadar karena sakit dan bahagia di masa lalu hingga membuatku terbangun dan tersadar akan semuanya....
...~Abraham Barat Alkahfi...
...****************...
"Abang!" teriak Bia dengan tawa kencang saat dia merasakan tangan kakak laki-lakinya yang menggelitik perutnya.
"Ampun, Bang. Ampun!"
Bia berteriak dengan kencang. Dia memang paling tak kuat dengan gelitik di perutnya. Rasanya tangan kakaknya itu tak mau berhenti dan membuatnya tak henti tertawa.
"Gak mau. Kamu lagi main rahasia rahasianya dari Abang. Kamu bisik-bisik sama Papa kan? katakan dulu, apa yang kamu bicarakan!"
"Hhah gak mau!" kata Bia dengan menahan tangan kakaknya yang tak mau berhenti. "Rahasia!"
"Oke. Main rahasia yah. Siap Terima serangan Abang?"
Tangan Abraham semakin lincah. Dia bergerak menggelitik dengan kencang dan membuat Bia benar-benar tak mampu menahannya lagi.
Air matanya keluar karena dia tertawa sampai menangis. Rasa geli itu tentu terasa di perutnya.
"Papa bantu aku!"
Bara tertawa. Namun, dia tak tahan melihat putrinya yang terus meminta tolong. Akhirnya Bara mendekat dan menangkap putranya.
__ADS_1
Pria itu memeluk putranya dari belakang dan membuat tangan Abraham terlepas dari perut adiknya.
"Horee!" teriak Bia dengan bahagia. "Pegang yang kuat, Ayah? Sekarang kita serbu Abang!"
Bia membalas dendam. Dia menggelitik perut kakaknya dengan wajah bahagia. Sungguh bibir Bia tertawa saat melihat kakaknya bergerak kesana kemari.
Dia bahkan sampai merasa puas saat kakaknha meminta ampun.
"Ampun, Bi! Ampun!"
Ayah dan kedua anaknya itu tentu sangat terlihat akur. Tawa bahagia saling terdengar disana. Mereka begitu menikmati waktu bersama ini.
"Berhenti. Haahahha. Papa lepaskan!," kata Abraham menyerah. "Aku udah gak tahan!"
Kegiatan yang sangat sederhana di lakukan di rumahnya sudah mampu membuat tawa anaknya kembali. Walau harus dipancing setidaknya itu sudah berhasil.
Sampai akhirnya. Ya masa lalu itu berhasil. Berhasil membuat Abraham kini terduduk dengan nafas tak beraturan.
Masa lalu itu berhasil membuat Abraham terbangun. Ya terbangun dari tidur panjangnya. Terbangun dari luka yang mengenai kepalanya.
Dadanya kembang kempis. Dirinya benar-benar tak menyangka dengan apa yang terjadi. Nafasnya seakan bersahutan dan mencoba menghirup oksigen yang kini bisa dia hirup dalam keadaan sadar.
"Mama," Lirih Abraham sambil menatap sekeliling. "Aufa!"
Dua nama yang keluar dari mulutnya. Dua nama pertama yang dia ingat setelah ingatan dan tidurnya itu begitu dalam. Matanya menunduk. Dia merasa sakit di lengannya.
__ADS_1
Pria itu menatap keadaannya. Dia menatap kondisinya dan kembali menatap sekeliling.
"Rumah sakit?" Ujarnya dalam diam.
Dia berusaha menurunkan kedua kakinya. Dia berusaha untuk turun dari ranjang pasien. Pria dengan tubuh yang tak memakai apapun hanya celana pasien panjang itu berusaha untuk berdiri dengan tegak.
Dia hanya ingin memenuhi satu orang. Dia merindukan satu orang. Satu orang wanita yang selalu dia dengar suaranya saat matanya terpejam.
Perempuan yang merupakan istrinya. Perempuan yang ia cintai begitu dalam. Perempuan yang mendapatkan dirinya dan memiliki hatinya. Perempuan pertama yang ia cintai setelah ibunya. Perempuan yang membuatnya bisa sampai di titik ini.
"Aufa," Lirih Abraham dengan memegang pinggiran ranjang pasien.
Dia merasa kakinya sakit. Dia merasa kakinya lemas tak bertenaga. Namun, pria itu tetap berusaha sebaik mungkin. Pria itu berusaha untuk kuat meski kakinya mulai terasa sakit.
Saat dirinya berusaha melepaskan tangannya. Suara pintu ruangan yang terbuka membuat Abraham menoleh.
Disana, di pintu itu. Dia melihat sosok perempuan yang ia cari baru masuk. Sosok perempuan yang memenuhi hatinya itu berdiri di sana.
Begitupun Aufa. Perempuan itu sama kagetnya. Perempuan itu sama terkejutnya. Dia bahkan menegang di dekat pintu sampai akhirnya dia mulai sadar.
Sadar jika suaminya itu benar-benar nyata. Benar-benar bangun dari tidur panjangnya.
"Abra!"
"Aufa!"
__ADS_1
~Bersambung