Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Berkenalan Ulang


__ADS_3

...Terkadang perkenalan yang baik perlu dilakukan antara satu dengan yang lain untuk memulai ulang kenangan baru di antara keduanya. ...


...~JBlack...


...****************...


Wanita itu terus memegang pipinya sambil melakukan sesuatu dengan ponselnya agar tak ketauan jika dirinya sebenarnya merasa salah tingkahnya


"Aku mau taruh buah-buahanku aja dulu dah, Bra!"


Kata Fort pamit. "Aku ke mobil dulu yah."


Abraham mengangguk.


"Kami tunggu disini," Kata Abraham agar istrinya bisa menemukannya.


"Oke."


Namun, pandangan Abraham tiba-tiba tertuju pada tangan temannya itu. Dia merasa Abraham sedang keberatan membawa buah-buahanku itu dan dia mengangkat kepalanya hingga mata Fort mengedip manja kearahnya.


"Mel, bantuin Fort bisa? Tangannya sepertinya sakit," Kata Abraham yang membuat pandangan Mela teralih.


"Bantuin Fort bawa buah itu ke mobil Mel. Dia keberatan loh!" Kata Abraham pada sahabat istrinya.


"Gak perlu. Aku bisa… "


"Kamu kesusahan, Fort. Biarkan Mela yang akan membantu!"


Jika sudah begini Mela tak bisa selamat atau berkilah lagi. Dia mau tak mau harus membantu sahabat suaminya itu.


"Ayo, Sayang. Kamu pesan apa?"


Rasanya Aufa ingin meledakkan tawanya puas. Ketika matanya menatap wajah Mela yang begitu canggung dan malu menjadi satu.


Dia merasa puas melihat ekspresi sahabatnya itu. Menurutnya Mela berada di ujung tanduk.


"Thanks ya, Bra. Aku taruh ini dulu!"


Akhirnya Fort mulai beranjak berdiri diikuti Mela. Dua manusia itu saling berdiri canggung. Terutama Mela, dia mengusap belakang lehernya yang terasa canggung dan kaku.

__ADS_1


"Sini aku bantu bawain, Kak Fort!" Kata Mela yang bingung harus mengatakan dan memanggil apa.


Panggilan itu ternyata membuat Abraham dan Aufa rasanya ingin tertawa. Namun, pasangan suami istri itu benar-benar menahan tawa mereka untuk melihat dua orang manusia yang benar-benar sedang malu-malu kucing.


Sedangkan Fort langsung menoleh. Dia memberikan buah itu lalu keduanya segera berjalan ke luar dari tempat makan itu.


"Eh… " Kata Mela saat tiba-tiba Fort berhenti di depannya. "Ada apa?"


"Jangan panggil aku begitu," Kata Fort yang membuat jantung Mela semakin tak karuan.


"Bukankah kita sudah berteman?"


"Iya," Sahut Mela yang tak tahu harus menjawab apa.


"Fort," Kata Fort sambil tersenyum yang membuat Mela menganggukkan kepalanya.


Fort mengulurkan tangannya. Dia ingin bersalaman seperti seorang teman yang menanyakan kabarnya pada teman lamanya.


Mela yang begitu gugup akhirnya mulai mengulurkan tangannya juga. Hingga perlahan kedua tangan itu mulai menyatu dan saling bersalaman.


"Hai, Fort," Kata Mela dengan tubuh yang hampir lemas.


Ah rasanya kulit keduanya yang bersentuhan membuat sesuatu dalam diri mereka semakin berdegup kencang. Seakan arti salaman di antara mereka membuat awal baru untuk masa depan keduanya.


"Tapi rasanya kurang sopan…"


"Aku pemilik nama. Jadi aku berhak meminta siapapun memanggil namaku, 'bukan?"


Mela tak bisa menjawab lagi. Akhirnya dia hanya mengangguk.


"Baiklah. Mari kubantu membawa buahnya, Fort," Kata Mela yang merasa kaku dengan panggilan pertamanya ini.


Mela mengangguk. Keduanya lekas kembali melanjutkan perjalanan menuju ke arah tempat dimana mobil milik Fort berada.


"Terima kasih atas bantuannya, Mela."


Langkah kaki keduanya berjalan bersama. Dengan


Mela yang berjalan di belakang tubuh Fort. Jujur Mela merasa tak kuasa berdiri di samping pria itu. Seakan sosok pria itu seperti memiliki pesona yang begitu kuat.

__ADS_1


"Kenapa kamu berjalan di belakang saya?" Tanya Fort yang tiba-tiba menghentikan gerakan langkah kakinya.


Pria itu berbalik. Dia menatap sosok Mela yang ikut berhenti dengan kepala menunduk.


Mela merasa tangannya berkeringat dingin. Ah kemana sikap bar-bar dirinya. Kemana sikap berani dirinya yang biasanya cerewet kini tenggelam di telan bumi.


"Emmm… "


"Ayo!" Tanpa diduga Fort menarik tangan Mela agar berjalan di sampingnya.


Mela sampai menahan nafas. Dia seakan hampir pingsan saat kulit itu menyentuh kulit tangannya.


"Ayo!"


Mela hanya mampu mengangguk. Dia perlahan mulai mengikuti langkah kaki Fort. Keduanya segera turun ke lantai pertama. Ke tempat parkir dimana mobil milik pria tampan itu berada.


"Letakkan disini!" Kata Fort saat dia membuka pintu bagasi.


Dengan pelan, perempuan itu mulai meletakkan kantong buah yang dia bawa ke bagasi dengan pelan. Dia takut kantong itu rusak jika terlalu keras. Begitupun Fort, dia menyusul ikut meletakkan tepat di sebelah kantong yang Mela letakkan. Kemudian setelah rapi dia lekas menutup pintu bagasi dengan pelan.


"Terima kasih banyak, Mel. Bantuan kamu sangat membantuku," Ujar Fort dengan tulus.


"Sama-sama."


"Ayo kita kembali ke atas. Abra dan Aufa pasti sudah menunggu kita!"


Ah kita? Ya Tuhan kenapa mendengar kata kita saja membuatnya tak karuan. Kenapa seakan suara berat itu menusuk gendang telinganya dan menggetarkan hatinya.


Apa karena baru kali ini dia dekat dengan seorang pria. Apa karena baru kali ini dia bisa bersama dengan pria lain kecuali papa kandungnya sendiri.


Selama ini Mela adalah wanita yang fokus akan kuliahnya. Dia tak pernah mendekati pria manapun. Dirinya dam Aufa adalah dua wanita yang fokus akan kuliahnya. Jika tak ada insiden atau tugas apapun yang diminta kerja kelompok. Maka Aufa dan Mela bisa melakukan semuanya sendiri.


Fokus akan karya dan bakatnya sendiri. Namun, Mela tak menyesali semuanya. Dia juga tek menyesal telah berteman dengan Aufa. Dia bahkan tak kecewa karena selama ini tak mendekati pria satu pun. Dirinya sejak dulu selalu yakin bahwa jodoh akan datang di saat waktu yang sudah tepat.


"Mela!"


"Ya?" Sahut Mela yang terputus dengan lamunannya.


"Kenapa kamu diam saja. Ayo masuk!"

__ADS_1


Mela hampir saja memukul kepalanya sendiri. Terlalu fokus akan lamunannya dia tak sadar bahwa dirinya berdiri di depan pintu lift. Mela segera masuk menyusul Fort yang sudah masuk lebih dulu. Dia benar-benar merasa gila jika terus berada di samping Fort.


~Bersambung


__ADS_2