Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Kamu Percaya sama aku?


__ADS_3

...Ternyata kekuatan terbesar kita adalah pahitnya masa lalu. Kekuatan yang mampu membuat hidup kita sampai ada di titik ini dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik....


...~Abraham Barraq Alkahfi...


...***...


Abraham menatap istrinya dengan lekat. Ya dia merindukan wanita itu. Dia merindukan aroma tubuh istrinya yang sangat dia cintai. Aroma tubuh wanita yang sangat membuatnya candu.


Dengan pelan. Dengan berusaha menguatkan kedua kakinya. Dia bersandar di ranjang pasien. Kemudian dengan kekuatan yang ada, pria itu membuka kedua tangannya. Dia membuka kedua tangannya agar istrinya itu berlari kedalam pelukannya.


"Sayang," Panggil Abraham dengan pelan.


Aufa mengangguk. Ini nyata. Ini bukan khayalannya. Suaminya itu sadar dan ada di depannya.


Dengan cepat perempuan itu berlari ke arah Abraham. Air matanya mengalir dengan deras dan dengan sekali gerakan.


Akhirnya setelah beberapa hari mereka tak bisa saling memeluk. Tak saling mencium. Kini Aufa dengan bebas memeluk erat tubuh Abraham.


"Kamu bangun, Sayang. Akhirnya kamu sadar. Kamu kembali sama aku," Kata Aufa dengan menangis dalam pelukan Abraham.


Abra hanya mampu tersenyum . Dia tak bisa mengatakan apapun karena memang dirinya masih sangat sakit di bagian kakinya. Jujur dia mulai oleng. Saat dia hampir jatuh. Aufa yang sadar menahan tubuh itu dengan memeluknya.


"Sayang, kamu baik-baik aja kan?" Tanya Aufa dengan panik.


Abraham mengangguk. Aufa dengan pelan membantu suaminya duduk.


"Kaki kamu sakit?"


Abraham menunduk. "Iya. Kayak kaku gitu."


"Kamu tunggu disini oke. Aku panggil dokter dulu," Ujar Aufa yang mulai berdiri.


Abraham menarik lengan istrinya dan membuat langkah kaki Aufa urung melangkah.


"Jangan kemana-mana," Pinta Abraham dengan wajah pucatnya.


Aufa menggeleng. Dia mendekati suaminya lagi lalu menangkup kedua sisi wajahnya itu.


"Aku gak kemana-mana. Aku cuma mau panggil dokter, Sayang. Biar dokter ngecek kondisi kamu dulu. Okey?"


Akhirnya Abraham menurut. Aufa membantu suaminya duduk dan bersandar setelah itu dia keluar untuk memanggil dokter.


Tak ada yang mampu membayangkan bagaimana perasaan Aufa sekarang. Bahagia, senang dan juga haru. Semua itu bercampur menjadi satu.


Dia benar-benar berlari ke tempat dimana ruangan dokter. Memanggilnya dan kembali ke ruangan suaminya itu. Kondisi yang terlalu bahagia, membuat Aufa lupa jika di ruangan itu juga ada tombol memanggil dokter.


Sepertinya terlalu bersemangat dan bahagia. Membuat Aufa lupa segalanya. Dia segera kembali ke arah suaminya dan tersenyum.


Begitupun Abraham. Pria itu mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Aufa dengan pelan.


"Kamu sehat kan? Kamu baik-baik aja kan?" Tanya Abraham dengan khawatir.


Aufa tersenyum. Dia membalas memegang tangan Abraham dan menciumnya.


"Seharusnya aku yang tanya itu, Sayang. Mana yang sakit sekarang? Kamu terluka karena ngelindungin aku. Kamu begini karena jagain aku," Kata Aufa dengan mata mulai berkaca-kaca.


Abraham tersenyum. Dia menepuk dadanya sendiri dengan pelan.


"Aku baik dan sehat."


Saat Aufa hendak menjawab. Dokter dan perawat mulai datang dan membuat pembicaraan keduanya terhenti.


Beberapa dokter dan perawat mulai memutari Abraham. Mengecek kondisi pria itu dengan baik. Sedangkan Aufa mengambil beberapa jarak dari ranjang pasien. Namun, matanya tetap fokus menatap ke arah suaminya.


Aufa tak membuat mengalihkan tatapannya. Dia takut jika ini hanya mimpi. Dia takut jika ini hanya khayalannya.


"Anda benar-benar luar biasa, Tuan. Anda. Bisa pulih dan sadar. Bahkan saya yakin kepala Anda terbentur sangat kuat. Benar?"

__ADS_1


Abraham mengangguk. Dia masih ingat, kobaran api yang besar saat itu membuat kepalanya tergantung kayu dari samping kirinya sampai akhirnya dia tak sadar.


Dia benar-benar mengingat itu. Semua yang terjadi pada malam kejadian kebakaran itu. Dia juga melihat istrinya tanpa takut berlari dengannya. Melewati banyaknya asap dan api di kanan kirinya.


Abraham melihat semuanya. Bagaimana istrinya bertahan dan tak mengeluarkan sikap manjanya disaat keadaan genting seperti malam itu.


"Tak ada keluhan apapun. Kondisi Anda stabil tapi Anda harus tetap istirahat dulu. Banyak istirahat sebelum Anda meminta pulang," Ujar dokter yang membuat Abraham tertawa.


Dokter ini tau saja jika sebenarnya dia sudah malas disini. Dia ingin pulang. Dia ingin keluar dari rumah sakit secepatnya.


"Terima kasih banyak, Dokter!" Kata Aufa sambil menangkup kedua tangannya di depan dada.


"Sama-sama. Kami permisi."


Setelah kepergian dokter. Aufa berjalan melangkah mendekati suaminya itu.see nakal yaAbraham yang melihat tersenyum. Dia kembali memeluk istrinya dengan pelan.


"Cepet sembuh, Suaminya Aufa. Cepet sembuh lukanya yah," Kata Aufa dengan pelan.


Abraham semakin mengeratkan pelukannya. Dia ingin Aufa merasakan bahwa dia benar-benar sudah sembuh.


"Lepas! Kamu terlalu kuat ihh!" Aufa memukul tangan dia itu dan membuat Abraham tertawa kecil..


"Aku sudah sembuh, Sayang. Bahkan aku sangat sehat!" Kata Abraham dengan bercanda.


Aufa menyipitkan matanya. Dia menjauh dari Abraham dan menatap pria itu dengan tajam.


"Kalau sudah sembuh. Ayo jalan dan kita pulang!" Kata Aufa menantang.


Abraham tertawa kecil. Dia sangat suka membuat istrinya itu marah dan mengoceh. Menurutnya wajah Aufa yang kesal sangat amat terlihat cantik dan semakin beraura.


"Gak bisa kan?" Kata Aufa dengan kesal. "Kamu masih sakit dan harus istirahat. Jangan nakal dan nurut. Kamu harus dirawat dulu oke?"


Abraham mengangguk patuh.


"Nah gitu. Suaminya Aufa adalah pria penurut. Aku benar-benar sangat mencintaimu, Sayang," Kata Aufa dengan pelan.


"Gitu doang?" Sindir Aufa dengan mata melotot.


"Aku juga mencintaimu," Ujar Abraham yang membuat bibir Aufa melengkung ke atas.


Aufa kembali mendekat. Dia kembali duduk dan matanya tak lepas dari tatapan mata Abraham.


"Kamu mau makan?"


"Boleh," Jawab Abraham dengan cepat.


Aufa lekas mengambil makanan yang sebenarnya beberapa menit sebelum Abraham sadar sudah di antar ke kamarnya.


Tiap hari makanan itu di antar sesuai jamnya.


"Ayo buka mulut!" Pinta Aufa yang langsung dituruti oleh Abraham.


Pria itu perlahan membuka mulutnya. Dia menerima suapan demi suapan dari istrinya itu.


"Papa kemana, Sayang?"


Jantung Aufa hampir berhenti berdetak. Dia belum menceritakan semua masalah yang terjadi. Ya dia sendiri bahkan hampir lupa akan masalah yang terjadi pada keluarganya.


Aufa terlihat menghela nafas berat. Hal itu tentu membuat Abraham khawatir dan curiga. Dia bisa melihat ekspresi suaminya yang berbeda dan berubah.


Dia bisa melihat ekspresi Aufa yang seakan mengandung kekhawatiran dan kesedihan.


Hal itu membuat Abraham menegakkan punggungnya sedikit. Dia meraih piring di tangan istrinya dan meletakkan di atas meja. Lalu pria itu membawa istrinya mendekatinya.


"Ada apa, Sayang?" Pinta Abraham dengan lembut.


Aufa terlihat seperti menahan air mata. Dia menarik nafasnya begitu dalam dan menghembuskannya.

__ADS_1


"Perusahaan Papa sedang ada masalah. Perusahaan keluarga bangkrut," Kata Aufa memulai cerita.


Akhirnya perlahan Aufa menceritakan semuanya. Semua masalah yang terjadi semenjak Abraham tak sadarkan diri. Tak ada yang Aufa tutupi. Wanita itu benar-benar menceritakan semuanya dengan jujur.


"Bagaimana bisa? Siapa yang mencuri dan membawa uang perusahaan?"


"Katanya itu staff baru Papa di bagian keuangan," Ujar Aufa menjawab sesuai dengan apa yang papanya katakan.


"Lalu sekarang?"


"Papa mulai menjual rumah kami dan beberapa aset untuk membayar gaji karyawan. Papa juga mencari pinjaman untuk menutup semua kerugian. Perusahaan Papa benar-benar hancur. Papa benar-benar memulai perusahaan itu dari nol lalu sekarang kenapa ada orang yang sangat jahat mencurinya," Lirih Aufa dengan menangis.


Abraham tak menjawab apapun. Dia hanya menarik istrinya dalam pelukan dan mengusap punggungnya.


"Aku kasihan sama Papa. Papa benar-benar kecewa sama dirinya sendiri. Mama juga menjual semua perhiasan untuk membantu Papa," Kata Aufa menceritakan semuanya.


"Papa tak mencari investor baru atau rekan kerja baru lagi?" Tanya Abraham dengan pelan.


"Papa sudah mencobanya. Mencoba mencari rekan bisnis baru tapi seperti ada orang dibalik ini semua. Semua penawaran tak diterima," Ujar Aufa dengan menghapus air matanya.


Abraham tercenung. Kepalanya memutar. Dia mencoba menelaah semua kejadian yang terjadi dalam hidupnya sekarang. Kejadian dimana bengkel dan rumahnya yang terbakar lalu perusahaan mertuanya yang bangkrut.


Kenapa kejadian ini seakan berurutan. Bahkan saling bersahutan. Bersamaan antara satu dengan yang lain. Pemikiran Abraham tentu kembali menjelajah. Mencoba memahami sampai akhirnya pikirannya teringat akan kejadian di mall.


Kejadian dengan kata-kata yang sangat dia ingat betul. Pria dengan obsesi yang besar pada istrinya. Pria dengan hati yang penuh amarah.


"Apa ini karena dia?" Gumam Abraham dalam hati.


Bagaimanapun Abraham sangat pandai menganalisa. Dia pandai berpikir dengan begitu akurat dan mencoba mengingat satu per satu hal yang terjadi dalam hidupnya.


"Amarah dan dendam. Akan menjadi satu jika dia sudah begitu emosi dan tak terima," Ulang Abraham dalam diam.


Dia benar-benar memikirkan hal itu. Dia hanya diam sambil memeluk istrinya karena pikirannya berkelana.


"Aku yakin ini karena ulahnya!" Kata Abraham final.


Abraham ingat. Dia tak memiliki musuh siapapun disini. Yang tau dirinya juga hanya orang-orang didekatnya. Sekitarnya dan pelanggan. Jika pelanggan, Abraham bisa pastikan semuanya puas dan aman.


Lalu keluarga? Tak ada keluarga yang tahu. Teman? Apalagi, bukankah dia kabur kesini.


Ya hanya satu orang. Hanya satu orang yang ia yakini dan patut dicurigai.


"Semi. Ya, pria itu pasti pria itu yang berada di balik ini semua," Ujar Abraham dalam diam. "Aku harus membantu Papa."


"Sayang," Panggil Aufa berulang kali dan membuat Abra akhirnya tersadar dari lamunannya.


"Ya?"


"Bagaimana nasib Papa dan Mama setelah ini? Dimana kita akan tinggal?" Tanya Aufa dengan pandangan yang begitu menyedihkan.


Baru kali ini Abraham melihat istrinya itu ketakutan. Baru kali ini dia melihat Aufa khawatir pada keluarganya. Baru kali ini dia bisa melihat bagaimana istrinya yang lemah.


"Aku takut Mama dan Papa sakit. Aku takut Papa dan Mama…"


"Usttt!" Abraham menutup bibir istrinya dengan jari telunjuk.


Kepalanya menggeleng pertanda jika Aufa jangan melanjutkan ucapannya. Pria itu perlahan memegang tangan Aufa. Menggenggamnya dengan erat.


"Kamu percaya sama aku kan?" Tanya Abraham dengan serius.


Aufa mengangguk.


"Aku percaya sama kamu!"


"Kalau kamu percaya. Jangan tanyakan apapun nanti. Apapun yang aku lakukan, kamu harus menerima semuanya sampai akhirnya aku menjelaskan sendiri sama kamu. Kamu harus menerima semuanya dan jangan bertanya dulu. Kamu harus selalu percaya sama aku dan aku tak akan pernah membohongi kamu. Oke?"


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2