
Mungkin sebuah perasaan mampu merasakan hal yang lebih peka terhadap keadaan sekitar daripada pikirannya sendiri. Namun, terkadang apa yang dirasakan manusia sering kali mereka hiraukan.
~JBlack~
...****************...
Langit yang cerah mulai berubah gelap. Bintang kecil yang indah begitu menyinari langit dengan begitu indah. Sepasang suami istri terlihat begitu bersiap-siap di dalam rumahnya dengan seorang perempuan cantik yang menunggu di ruang tamu.
"Kamu yakin gak mau ikut, Bi?" Tanya Abra untuk kesekian kalinya.
Bia, perempuan yang tengah mengerjakan sesuatu dengan laptopnya itu menggelengkan kepalanya.
"Nggak, Bang. Bia di rumah aja. Banyak tugas yang harus Bia lakukan," Ucap Bia dengan sungguh-sungguh.
"Kalau kamu butuh sesuatu, lebih baik kamu pakai kamar kita, Bi," Seru Aufa yang baru saja keluar dari kamarnya bersama Abra. "Kamar kamu tinggal dipasang AC aja. Daripada kamu kepanasan. Kamu pakai kamar kakak sama Abang kamu dulu."
Bia terlihat tak enak hati. Namun, matanya kembali menatap kakak ipar dan abangnya sendiri.
"Jangan gak enak hati, Bi. Abang juga minta maaf karena belum beli AC untuk kamar itu."
Bia tersenyum. Dia meletakkan laptopnya lalu berdiri dan mendekati sepasang suami istri yang sangat dia sayangi itu.
"Abang gak usah minta maaf. Bia tahu Abang sibuk."
__ADS_1
Abraham mengangguk. Entah kenapa dia merasa berat meninggalkan Bia sendirian di rumahnya.
"Udah sana berangkat! Keburu telat loh yah!"
"Kamu yakin gak ikut?" Tanya Abraham lagi mencoba membujuk sang adik.
"Yakin, Bang. Bia gak bisa ikut. Bia beneran. harus kerjain laporan ini!"
Akhirnya mau tak mau, Abraham meyakinkan pilihan adiknya. Dia mencoba percaya dan menenangkan pikirannya yang kacau.
"Kamu gak usah mengantar kami keluar. Kamu disini aja. Hati-hati yah," Kata Abraham lalu memeluk adiknya dengan pelan.
Ada perasaan tak karuan. Ada perasaan mengganjal dalam dirinya. Ada sesuatu yang tak bisa dijabarkan dengan kata yang membuatnya hanya mampu memeluk Bia seakan tak ingin meninggalkannya.
"Kakak yang harusnya hati-hati. Jangan mengebut! Ingat, Kak Aufa sedang hamil yah!" Balas Bia sambil memeluk kakaknya dengan hangat.
Hubungan adik kakak ini memang sangat akur. Ajaran orang tua membuat keduanya begitu saling menyayangi satu dengan yang lain.
Aufa tak cemburu. Dia hanya tertawa dan bahagia melihat kebahagiaan ini. Bergantian, Bia mencium punggung tangan Aufa dan keduanya berpelukan.
"Nanti kamu tidur di kamar kakak oke. Buka aja jilbabnya. Kakak dan Abang Abra bakalan tidur di kamar kamu."
"Tapi, Kak?" Sela Bia dengan melepaskan pelukannya dan menatap Aufa yang berbicara dengan serius padanya.
__ADS_1
"Kakak serius, Bi. Gakpapa. Hanya malam ini kan? Jadi selesaikan pekerjaan kamu. Oke?"
Bia menatap kedua bola mata Aufa. Tatapan penuh harap yang membuatnya tak bisa untuk menolak.
"Oke!"
Akhirnya Aufa dan Abra mengangguk dengan bahagia melihat adik mereka setuju dengan kemauan mereka dan demi kebaikan Bia.
"Kami berangkat yah."
Keduanya segera menggandeng tangan sang istri dan berjalan keluar dengan diikuti Bia di belakangnya. Namun, Bia tak mengantar sampai mobil, dia hanya berdiri di depan pintu rumah yang lampu depannya temaram karena lampunya memang sudah diganti redup oleh Bia sendiri.
Hingga Abraham dan Aufa masuk, Bia akhirnya melambaikan tangannya sampai mobil yang membawa kakak dan kakak iparnya itu pergi.
...****************...
Di sisi lain, seorang pria yang berdiri di seberang jalan, tepat di balik pohon besar di depan rumah Abraham dengan mata setengah sadar karena minum itu segera meraih ponsel di dalam saku celananya.
Dia mencari nomor kontak tuannya dan lekas memanggilnya.
"Semuanya aman, Tuan! Anda bisa datang kemari!"
~Bersambung
__ADS_1