Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Lamunan Aya


__ADS_3

Kenangan itu memang menakutkan tapi aku harus berani untuk melewatinya sekali lagi.


~Oneta Athaya


...****************...


Reyn menggelengkan kepalanya. Dia menolak ajakan itu.


"Reyn mau sama Aya, Kak. Nanti Aya pergi dan lama buat kesini. Jadi Reyn mau sama Aya dulu," kata Reyn suaranya yang cukup nyaring dan membuat Aya mengalihkan tatapannya.


Ucapan itu membuat wajah Ane berubah.


"Reyn kan nanti bisa telfon Aya," sahut Aya ber celetuk.


"Reyn tahu tapi kita gak bisa main bareng. Reyn gak bisa lihat Aya langsung!" jawab Reyn dengan tegas.


"Kan masih ada Kak Ane, Reyn. Reyn bisa main bareng Kak Ane, kita jalan bareng juga. Kak Ane gak bakal ninggalin kamu," ujar Ane yang memegang tangan Reyn sejak tadi.


"Gak mau. Reyn mau sama Aya!" balas Reyn yang membuat mata Ane berkaca-kaca.


Mau tak mau, Ane akhirnya melepaskan tangan Reyn. Meski masih kecil tapi Ane yang usianya lebih tua sedikit dari Reyn sedikit mengerti.


Akhirnya mereka mulai memasuki bandara. Keluarga besar itu benar-benar harus berpisah di sini. Wajah sedih dan tak ikhlas ada disana.


Apalagi Reyn, yang terus memegang tangan Aya yang membuat gadis kecil itu cemberut. Dia benar-benar kesal karena Reyn memegang tangannya sejak tadi tanpa mau dilepaskan.


Pemandangan ini, keadaan ini tentu membuat Almeera takut. Perasaan seorang ibu tentu tentu terlihat disini. Ketakutan dan juga kecemasan di masa depan sangat amat terlihat.


"Ada apa, Sayang?" tanya Bara yang membuat Almeera sadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Aku takut dengan persaudaraan mereka, Kak," jawab Meera yang membuat Bara menoleh. "Aku takut jika dewasa nanti. Mereka akan terlihat..."


"Jangan pikiran itu, Sayang. Itu belum terjadi. Mereka masih kecil. Masa depan merek masih jauh," sela Bara mencoba menenangkan istrinya.


"Tenanglah!" lanjut Bara sambil mengusap tangan Almeera.


"Aku yakin suatu hari nanti. Cinta persaudaraan merek lebih besar daripada cinta antar pasangan. Mereka akan saling mengerti, saling memahami satu dengan yang lain!" balas Bara yang membuat Almeera mengangguk.


Mereka akhirnya sampai di tempat perbatasan. Perbatasan di antara penumpang dan juga keluarganya. Perpisahan yang merupakan bagian paling menyakitkan.


Almeera, Bara dan keluarga mulai berpamitan. Mereka saling bersalaman dan memeluk satu dengan yang lain.


Air mata, kesedihan dan juga sesak memenuhi keadaan itu. Semua orang benar-benar tak suka dengan kejadian ini.


Aya benar-benar mengingat semuanya. Setiap detail yang terjadi di masa lalu saat dia masih kecil. Sampai akhirnya kenangan paling abadi dirinya kini mulai muncul dan dia ingat.


"Reyn punya hadiah untuk Aya. Tunggu yah!" Reyn berlari ke arah ibunya.


Aya melihat semuanya. Sampai akhirnya Reyn kembali lagi pada keduanya.


"Buat Aya!" kata Reyn sambil memberikan sebuah gelang.


"Gelang?" tanya Aya sambil menerima gelang itu dan menatapnya.


"Terima ya, Ay. Anggap itu gelang perpisahan kita!"


Bukan hanya itu, Reyn memberikan boneka Cooky pada Aya dan diterimanya.


"Jaga untukku yah!" kata Reyn dengan wajah polos khas anak kecil.

__ADS_1


"Simpan hadiah dari Reyn. Disini juga ada bando dari Reyn."


Aya menerima paper bag itu. Namun, dengan setia dia memeluk boneka cooky di tangannya juga.


"Ayo, Aya!" panggil Almeera yang membuat keduanya menoleh.


Aya dan Reyn saling menatap. Anak Bara memang senang bersama Reyn. Dia hanya merasa risih pada tingkahnya.


"Makasih yah. Reyn selalu baik sama Aya. Meski Aya sering marah, Reyn gak pernah marah balik," kata Putri Bara itu dengan mata berkaca-kaca. "Aya pamit. Aya bakalan selalu inget sama, Reyn."


"Boleh Reyn peluk, Aya?"


Entah kenapa, Aya yang biasanya jutek akhirnya membiarkan tubuh mungilnya di peluk Reyn. Dua anak itu adalah dua takdir yang entah bagaimana di masa depan.


Saling memiliki, menyatu atau akan menemukan takdir yang lain.


"Selamat tinggal, Reyn. Sampai jumpa di pertemuan selanjutnya," kata Aya saat pelukan mereka terlepas.


Tanpa diduga. Reyn mengecup pipi Aya sambil mulai menangis.


"Sampai jumpa, Aya. Reyn bakalan nungguin Aya disini untuk pulang."


"Ayo, Sayang!" Kata Almeera yang membuat lamunan Aya buyar.


Perempuan itu terkejut dan mengangguk. Dia lekas menggelengkan kepalanya seakan menghapus ingatannya di masa lalu.


"Fokus, Ay. Ingat kata Kak Thalla. Semuanya pasti berjalan dengan baik."


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2