
...Masalah apapun yang terjadi, itu datang dari pihak manapun. Dua orang yang saling mencintai akan berusaha menghadapi sama-sama. ...
...~Abraham Barraq Al-Kahfi...
...****************...
Pria dengan wajah lelah dan pikiran pusing itu menunduk. Dia mengambil sebuah potret foto yang jatuh tepat di kakinya. Semua mengambilnya dengan tangan gemetaran.
Dia menatap foto itu dengan sorot mata tajam. Sorot mata amarah yang begitu mendalam.
"Foto ini… " Gumam Semi dengan pikiran yang mulai dipenuhi oleh emosi.
"Montir sialan!" Umpat Semi dengan amarah yang berkobar.
Pria itu menggenggam foto itu sampai terlipat dan rusak. Matanya benar-benar berkilat amarah. Dia semakin menaruh benci dan emosi pada pria yang telah mengambil wanitanya.
"Abraham. Kau menghancurkan semuanya! Kau merusak keluargaku dan membuat orang tuaku ketahuan dan bercerai!" Gumam Semi denagn nafas yang berat.
Benar-benar emosi memenuhi pikirannya. Semi benar-benar diambang batas. Matanya menatap bagaimana hancurnya keluarganya dan ditambah bukti yang didapat mamanya ternyata kiriman dari sosok yang sama yang waktu itu mengirim kotak juga padanya.
"Pergi kau dari sini! Aku benar-benar tak mau kau disini!" Seru Mama Semi final.
Mata pria itu menatap sedih tapi tangannya terkepal kuat. Kepalanya benar-benar penuh akan kebencian. Kebencian yang berserang untuk satu nama.
__ADS_1
Abraham! Pria yang masuk dalam daftar hitam hidupnya. Pria dengan nama itu yang akan dihancurkan balik.
"Tunggu pembalasanku, Montir Sialan. Aku akan merusak apa yang kau punya sampai hancur!" Gumam Semi dengan emosi yang meledak.
***
Seorang perempuan baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Dia menatap sosok suaminya yang sepertinya sedang melakukan panggilan penting. Terlihat jelas dari wajah Abraham yang sangat serius.
"Apa tak bisa diganti oleh orang lain, Om?" Tanya Abraham yang terlihat frustasi.
Aufa masih diam. Dia perlahan memilih duduk tepat di samping suaminya. Aufa menatap wajah Abraham yang terlihat sangat serius.
"Baiklah. Abraham akan kembali segera mungkin. Dalam minggu ini Abraham akan terbang kesana. Terima kasih banyak kabarnya, Om. Abraham benar-benar merepotkan," Kata Abraham dengan suara penuh penyesalan.
Aufa masih penasaran. Jujur dirinya begitu takut terjadi sesuatu lagi. Baru saja mereka bahagia disini. Berkumpul dengan keluarga yang penuh hangat.
"Sudah mandi?" Tanya Abraham saat matanya menatap istrinya yang sudah ada disampingnya.
"Sudah, Sayang," Jawab Aufa dengan pelan.
"Boleh aku tidur di pangkuanmu, Sayang?"
Abraham menatap penuh harap. Entah kenapa Aufa yakin ada masalah yang serius.
__ADS_1
"Tentu. Kemari!"
Akhirnya Abraham mulai merebahkan kepalanya di pangkuan istrinya. Pria itu memejamkan matanya menikmati elusan tangan lembut Aufa di kepalanya.
Tak ada suara apapun. Tak ada obrolan apapun. Aufa benar-benar memberikan waktu dengan menatap wajah suaminya yang terlihat frustasi.
"Barusan Om Jonathan menelpon, Sayang. Dia kakak ibuku," Kata Abraham memulai.
"He'em?" Sahut Aufa dengan lembut.
"Om Jonathan memintaku segera kembali ke Indonesia. Bengkel dan rumah selesai direnovasi dan juga perusahaan memintaku segera kembali. Om Jonathan tak bisa mengurus dua perusahaan sementara waktu karena istrinya sakit," Lirih Abraham bercerita.
"Om Jonathan sudah bilang pada Ayah. Bahwa perusahaan yang sementara waktu dipegang Om Jo akan dikembalikan padaku karena dia mengurus istrinya."
Aufa masih diam. Dia ingin mendengar semua keluh kesah suaminya itu. Dia ingin memberikan waktu suaminya mengatakan apa yang saat ini dirasakan.
"Aku harus segera kembali ke Indonesia. Aku harus mulai kembali ke perusahaan. Apa kamu tak marah jika kita kembali ke Indonesia dalam waktu dekat?" Tanya Abraham pelan sambil membuka matanya dan menatap sorot mata Aufa yang sedang menatapnya juga.
Aufa terlihat tersenyum. Dia mengusap kepala itu penuh sayang.
"Tentu aku mau, Sayang. Aku mau. Mau di manapun kamu, mau disini, mau di Indonesia. Aku akan ikut kemanapun kamu pergi. Aku gak mau kamu ngelakuin semuanya sendirian," Kata Aufa dengan pelan dengan tatapan mata penuh cinta.
Abraham tersenyum. Dia benar-benar tak percaya istrinya sudah banyak berubah. Penuh pengertian dan pemikiran yang dewasa. Sudah sangat jauh dari Aufa yang ai temui pertama kali.
__ADS_1
"Terima kasih banyak sudah mengerti aku, Sayang. Kita akan kembali bersama sahabat kamu, Mama dan Papa. Lalu aku akan meminta Bia juga untuk datang ke rumah kita dan menemani kamu."
~Bersambung