
Hancurnya seorang kakak adalah melihat tangisan adik yang sangat ia sayangi karena kesalahannya.
~Abraham Barraq Al-Kahfi
***
"Sayang," Pekik Aufa saat dia baru saja turun dan melihat jendela rumahnya terbuka.
Abraham tentu lekas mendekat. Dirinya langsung menatap sekeliling.
"Bi…Bia!" Teriak Aufa dengan mengetuk pintu kamar.
Abraham yang tak sabar tentu masuk melalui celah jendela. Ya, dirinya benar-benar ketakutan. Dia khawatir pada adiknya.
Telinganya masih ingat betul jika semua pintu dan jendela sudah dikunci oleh Bia. Namun, bagaimana bisa jendela itu masih terbuka.
"Bia!"
Abraham lekas berlari menuju kamarnya. Dia menendang pintu kamar itu dengan kuat sampai terbuka.
"Bia!" Teriak Abraham saat dia melihat kondisi adiknya yang tragis.
Ya, dia melihat kamarnya acak-acakan. Namun, yang lebih menyakitkan adalah kondisi adiknya yang menyedihkan.
"Bia bangun!" Teriak Abraham dengan membalut tubuh adiknya menggunakan selimut.
Dia melihat kondisi Bia yang tragis. Luka di ujung bibir, rambutnya terbuka dan acak-acak. Lalu tubuhnya yang penuh lebam.
"Bia bangun, Bi. Bangun!" Teriak Abraham dengan menangis.
Dia meletakkan kepala adiknya di pangkuannya. Memeluknya dengan menangis histeris. Hal yang begitu membuatnya gagal. Hal yang membuatnya menyesal.
__ADS_1
Kenapa dia meninggalkan Bia.
Kenapa dia pergi dengan keadaan hati yang keraguan.
Sampai akhirnya matanya menangkap sesuatu di dekat kepala sang adik. Abraham lekas meraih lembaran itu dan membaca tulisan yang ada disana.
"Bagaimana hadiah dariku? Indah bukan? Nikmati hadiah kecilku ini atas perbuatanmu yang membuat keluargaku hancur berantakan," Kata Abraham membaca tulisan itu dengan jantung bergemuruh.
Tanpa diberi nama. Tanpa diberitahu siapapun. Abraham tentu langsung tahu siapa yang menulis surat ini. Siapa yang telah melakukan ini pada adiknya. Siapa yang telah menghancurkan dan mengambil kehormatan adiknya. Siapa yang telah membuat Bia menyedihkan seperti ini.
"Semi!" Teriak Abraham lalu lekas menggendong tubuh sang adik dan membawanya keluar.
Bersamaan dengan itu. Pintu utama terbuka dan terlihat Aufa masuk dari sana.
"Sayang!"
"Buka pintu mobil, Aufa!" Pekik Abraham yang membuat Aufa mengangguk.
Abraham meletakkan kepala adiknya di pangkuan sang istri dan langsung menutup pintu mobil.
"Ada apa ini, Sayang? Kenapa sama Bia?" Tanya Aufa yang masih dilanda keterkejutan.
Dia menatap adik iparnya. Air matanya tentu mengalir. Kondisi Bia yang dalam keadaan seperti ini membuat hati kecil Aufa tercubit.
"Pakaikan jilbab Bia, Sayang. Biarkan tubuhnya terbalut selimut. Dia… "
"Dia kenapa, Abra?" Tanya Aufa tak tahan.
Dia tentu khawatir. Aufa sangat menyayangi Bia seperti adiknya sendiri. Meski mereka jarang ketemu. Namun, hubungan mereka selalu lancar. Kontakan di chat online selalu berjalan.
"Bia diperkosa."
__ADS_1
"Apa!" Pekik Aufa dengan mata terbelalak tak percaya. "Siapa, Abra? Siapa pelakunya?"
"Semi!"
Abraham mengendarai mobilnya dengan cepat. Bagaimanapun dia juga harus berhati-hati. Dia bukan hanya membawa adiknya. Namun, sang istri dalam keadaan hamil juga harus dia perhatian.
Entah jalan yang lengang atau Tuhan memang membantunya. Perjalanan menuju rumah sakit sangat amat diperlancar. Abraham lekas turun dari mobil dan masuk sambil memanggil suster.
"Suster. Suster!"
Para suster yang ada berjaga tentu mendekat.. Abraham lekas membuka pintu belakang. Meraih adiknya dari pangkuan sang istri lalu menggendongnya dan meletakkan di atas brankar.
"Cepat, Suster. Cepat!" Teriak Abraham yang tak tenang.
Aufa berjalan menyusul. Dia tahu suaminya itu khawatir. Hingga membuatnya tak marah untuk berjalan di belakang. Bagaimanapun dia tahu bagaimana khawatirnya sang suami.
Jika dia diposisi Abraham juga akan seperti itu.
"Biarkan aku masuk, Suster!" Teriak Abraham saat Bia dibawa masuk ke dalam ruangan.
"Anda tunggu disini, Tuan!"
"Nggak!"
"Abra!" Panggil Aufa pelan memegang tangannya.
Panggilan itu membuat Abraham sadar. Dia menoleh dan melihat istrinya menggeleng.
"Sabar ya, jangan gegabah! Tunggu disini, Sayang. Biarkan dokter memeriksa Bia dulu," Ucap Aufa dengan lembut sambil membawa Abraham duduk.
~Bersambung
__ADS_1