
...Percayalah sebuah kebohongan itu seperti bom atom. Dia bisa meledak kapan saja dan terbongkar di hadapan siapapun ketika waktunya telah tiba....
...~JBlack...
...***...
"Apa yang kau dapatkan hari ini untukku?"
"Ini kabar baik sekaligus buruk, Nyonya!" Kata seorang pria dari seberang telepon terlihat serius.
Jantung perempuan yang tak lagi muda itu terasa berdegup kencang. Mama Semi, wanita itu yang selama ini mengumpulkan bukti itu menghela nafas berat.
Bagaimanapun dia harus siap dengan apa yang akan dia dengarkan. Bukankah ini yang selama ini diharapkan. Apa yang dilakukan oleh suaminya itu dibelakangnya. Apa yang dilakukan oleh suaminya itu bermain wanita di belakangnya.
"Katakan padaku!"
"Tuan sudah lama berselingkuh dengan sekretarisnya ini, Nyonya."
"Sekretaris?" Ulang Mama Semi tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Iya, Nyonya. Wanita ini adalah sekretaris tuan. Perselingkuhan ini berjalan hampir satu tahun. Dan yah, Tuan Semi mengetahuinya!"
Deg.
Jantung Mama Semi mencelos. Dia merasa hampir saja menjatuhkan ponselnya jika tak menggenggamnya erat.
Dia mencoba menguatkan dirinya. Mencoba menahan air mata yang hampir menetes karena pengkhianatan ini.
"Lanjutkan!"
"Tapi Tuan Semi melakukan itu terpaksa, Nyonya. Dia diancam oleh Tuan tak mendapatkan bagian miliknya jika mengatakan pada Anda!"
Mama Semi mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar tak percaya pada suaminya itu. Berani mengancam anaknya sendiri demi kesenangannya. Demi wanita tak jelas dan miskin dia rela merusak pernikahannya sendiri.
__ADS_1
"Tuan… "
"Cukup!" Kata Mama Semi dengan tegas. "Cukup sudah penjelasan darimu!"
Mama Semi menghembuskan nafas beratnya. Inilah bagian tersulit. Bagian yang benar-benar membuatnya harus mengambil jalan ini.
"Dimana Tuan sekarang?" Tanya Mama Semi dengan tegas.
"Tuan ada di hotel, Nyonya!"
"Berikan alamatnya padaku. Aku akan datang kesana dan memergoki mereka sekarang!"
***
Di tempat lain lebih tepatnya di dalam sebuah hotel. Terlihat seorang pria itu bersusah payah menelan ludahnya paksa. Pemandangan yang sangat amat menggiurkan membuat gelora dalam dirinya membara. Meski lampu ruangan hotel ini minim cahaya atau temaram.
Namun, dengan jelas Papa Semi bisa melihat pemandangan yang sudah sejak tadi membuatnya ingin menerkam sosok wanita di depannya ini
Dia meletakkan kedua tangannya di leher Papa Semi hingga wajah mereka berhadapan. Papa Semu bisa melihat tatapan sayu dari wanita selingkuhannya itu.
Tatapan mendamba yang sudah sejak tadi mereka inginkan. Tatapan yang penuh cinta membuat mereka berdua benar-benar usaha kehilangan akal.
"Aku ingin menghabiskan waktu yang panjang dan panas denganmu. Kau mau, Sayang?"
Kedua pasang mata itu saling menatap. Mereka dapat melihat gairah dalam diri mereka masing-masing yang membuat Papa Semi maupun wanita itu tak bisa lagi menahan.
Entah apa yang sudah dilakukan sekretaris pada dirinya sendiri. Hingga hari ini Papa Semi berani keluar dari kantor. Alasan ada meeting dengan klien dan malah berakhir di hotel.
Tanpa kata, Papa Semi dan wanita saling mendekat. Keduanya langsung menerkam bibir mereka untuk saling berciuman. Bak seperti suami dan istri itu kedunya tak ada yang mengalah.
Wanita itu menarik kepala Papa Semi agar semakin mendekat dan mereka saling menyesap tanpa mau mengalah. Sedangkan Papa Semi, pria itu menekan tengkuk selingkuhannya juga hingga ciuman mereka mulai menuntut.
Wanita itu memutar posisinya. Dia mendorong sang kekasih sampai menempel di dinding dekat pintu kamar. Tangannya mencari kunci pintu dan segera memutarnya agar tak ada yang bisa masuk dengan sembarang.
__ADS_1
Saliva keduanya sudah belepotan. Baik Papa Semua dan wanita itu mereka semakin menggila. Tak membiarkan bibir mereka terlepas hanya untuk mengisi pasokan oksigen. Hingga saat mereka sudah tak kuat, bibir mereka dilepas dengan tidak ikhlas.
Kabut gairah sudah memenuhi keduanya. Nafas mereka terengah-engah tak memberi jeda lagi, mereka kembali memagut merenggut indahnya bibir keduanya dengan tangan mulai menari ke sana kemari.
Saat wanita itu merasakan sebuah genggaman kuat di area bukitnya. Perempuan itu melepaskan pagutannya. Dia menggigit bibirnya karena takut akan membuatnya mengeluarkan suara desah yang sangat indah.
"Menjeritlah, Sayang! Kamar hotel ini tak akan membuat suaramu terdengar di luar sana," bisik Papa Semi lalu menyerukan kepalanya di leher sang kekasih.
Wanita mencengkram kepala pria yang usianya jauh diatasnya. Mengusap rambutnya saat bibir Papa Semi menyesap lehernya dan ia yakini meninggalkan bekas kemerahan di sana.
Hingga tak lama, tubuh mereka memutar. Tubuh atasannya itu menunduk. Dia mulai menjelajahi area bukit dengan diikuti bibir yang saling berlomba bak layaknya seorang bayi.
"Sayang!" pekik sekretaris gila itu dengan pelan dan menatap atasannya yang ganas.
Papa Semi yang usianya meski tak lagi muda, dia masih terlihat kuat. Pria itu kini melanjutkan aksinya. Dia menyejajarkan kepalanya dengan lembah basah dan wangi menggoda. Dia membuka lipatan itu hingga jarinya mulai menusuk dan membuat wanita itu menjerit indah.
Papa Semi mulai menggerakkan jemari tersebut. Membiarkan selingkuhannya memohon untuk dimasuki hingga sampai tubuh wanita itu menegang dan mengeluarkan cairan kenikmatan miliknya.
"Apa kau sudah tak sabar, Sayang?" bisik Papa Semi yang sudah beranjak berdiri.
Wanita menatap sayu ke arah atasaanya. Apalagi ketika Papa Semi mulai memegang salah satu kaki wanita muda itu dan meletakkannya di pinggang. Kemudian dengan pasti, seorang suami dari satu anak itu mulai memasukkan miliknya hingga masuk dengan sempurna di inti tubuh selingkuhannya yang sempit yang sangat membuatnya candu.
Mata Papa Semi terpejam saat miliknya diremas dengan kuat. Hingga akhirnya pria itu tak dapat menahan lagi. Dia mulai menggerakkan tubuh miliknya hingga membuat mereka saling menatap penuh cinta.
Peluh mulai membasahi tubuh keduanya. Bahkan wanita itu sampai melingkarkan tangannya di leher sang atasan lalu memagut bibir itu lagi.
Mereka berpacu semakin cepat. Mencoba mencapai gols indah di bagian puncak akhir. Bibir mereka saling mengeluh diiringi suara teriakan kenikmatan saat milik Papa Semi dan milik sekretaris gila itu mulai menyemburkan cairan yang akan menghasilkan bibit unggul di antara keduanya.
Kedua bibir mereka saling tersenyum. Kedua manusia gila itu saling menatap dengan membiarkan bagian bawah mereka masih menyatu.
"Terima kasih, Sayang. Kau begitu luar biasa hari ini," bisik Papa Semi dengan terengah-engah.
~Bersambung
__ADS_1