Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Tipu Muslihat Abraham


__ADS_3

...Cinta itu semakin besar hingga ujian yang datang tak akan bisa membuat keduanya berpisah. Semakin keduanya sadar, semakin keduanya terbuka. Maka jalan cinta itu akan penuh lika liku untuk menguatkan hubungan keduanya....


...~Aufa Falisha...


...****************...


Suara kicau burung mulai terdengar di telinga dua orang manusia yang masih memejamkan mata. Dinginnya udara New York tentu masuk melalui celah jendela dan membuat mereka saling merapatkan tubuhnya.


Sentuhan kulit yang hangat, membuat keduanya tak mau saling berjauhan. Namun, hal itu tentu membuat seorang perempuan, mulai menggeliat dengan pelan.


Dia mulai sadar akan tidur panjangnya. Matanya mulai bergerak dengan pelan. Dirinya terbangun dari tidurnya dan mulai membuka mata.


Pemandangan pertama yang dia lihat setelah sekian lama tidur sendiri adalah wajah Abraham yang begitu tenang dalam tidurnya. Pandangan pertama di pagi hari yang bisa dia lihat dan terbiasa dia pandang mulai hari ini.


Sosok pria yang mencintainya dan sangat dirinya cintai. Sosok pria yang tak pernah ada bayangannya itu datang secara tiba-tiba dalam kehidupannya.


Pria yang tegas, pria yang banyak mengaturnya. Pria yang benar-benar disiplin itu mampu merubahnya.


Bibir Aufa tersenyum. Dia banyak mendapatkan hikmah dari segala hal yang terjadi pada mereka berdua. Dia memiliki banyak syukur dari setiap tindakan Abraham padanya.


Tangannya terulur. Aufa ingin menyentuh wajah pria yang tengah memeluknya ini. Dengan pelan, tangan Aufa menyingkirkan rambut yang menutupi dahi suaminya dengan pelan.


"Terima kasih telah datang di kehidupanku dan merubahku, " Gumam Aufa dengan pelan.


Tanpa diduga, sebuah tangan yang melingkar di perutnya tiba-tiba bergerak menariknya hingga lebih dekat. Tubuh Aufa yang tak memakai apapun, kini semakin merapat dan menempel di tubuh Abraham.


Tentu hal itu membuat Aufa terkejut bukan main. Matanya terbelalak tak percaya dan dirinya juga menahan tubuhnya agar suaminya itu tak semakin erat memeluknya.


"Ternyata kamu udah bangun? " Tanya Aufa dengan pipi bersemu merah.


Ah, jadi apa yang dia katakan barusan didengar oleh Abraham. Untung saja dirinya banyak bergumam dalam hati. Untung saja dia tak banyak bicara hingga Abraham tak tahu apa yang tengah dibicarakan.


Perlahan mata Abra terbuka. Dirinya langsung menatap ke arah Aufa yang juga tengah menatapnya. Tatapan keduanya beradu dan kini membuat siapapun tahu jika mereka saling mencintai satu dengan yang lain.


Tak ada kebohongan di mata keduanya. Baik Abra ataupun Aufa. Keduanya sama-sama tengah dilanda cinta yang besar. Keduanya sama-sama diterpa kebucinan.


"Sejak kamu menyentuh wajahku. Aku mulai terbangun, Sayang, " Kata Abra dengan jujur.


Aufa tak mengatakan apapun. Namun, dia malah semakin mengusap rahang tegas Abra dengan pelan.


"Apa kamu merasa beruntung bertemu denganku, hmm?" Tanya Abra engan pelan.


"Iya. Bahkan aku merasa begitu bersyukur. Bersyukur kamu datang dengan segala hal yang penuh kejutan, " Ujar Aufa dengan jujur.


Membayangkan masa lalu keduanya. Bagaimana pertemuan mereka. Bagaimana pernikahan mereka yang terjadi tentu bukanlah hal yang mudah. Pernikahan penuh dadakan. Tanpa rasa cinta dan sayang. Itu terjadi dengan begitu cepatnya.


Namun, mau bagaimana lagi. Ketika Tuhan dengan baik menyentuh hatinya, membuatnya berubah ternyata semua yang dulu dibenci kini dia cintai begitu dalam.


Tak lama, Aufa mulai merasa ingin buang air kecil. Dirinya lekas mencoba beranjak duduk.


"Mau kemana, Sayang? " Tanya Abra yang ikut duduk.

__ADS_1


"Aku ingin buang air kecil, " Jawab Aufa yang mulai menurunkan kedua kakinya.


Dia baru sadar bahwa dirinya tak memakai apapun. Maka dari itu dirinya menarik selimut yang membalutnya tadi untuk menutupi dirinya yang tak memakai pakaian.


Saat dirinya merasa siap, perlahan Aufa mulai beranjak berdiri. Namun, sepertinya Aufa lupa jika suaminya semalam begitu ganas dan membuat kedua kakinya lemas dan Abra lekas menangkapnya.


"Sayang! " Pekik Abra terkejut.


Aufa melihat kedua kakinya. Dia merasa gemetaran. Sepertinya kakinya benar-benar lelah karena kegiatan keduanya semalam.


"Kakiku, " Lirih Aufa menatap kakinya.


Abra merasa kasihan. Karena ulahnya istrinya harus seperti ini.


"Sayang, maafkan aku. "


Aufa menepuk lengan suaminya dengan pelan. Dia tak menyalahkan suami tercintanya itu. Bagaimanapun yang mereka lakukan atas dasar suka sama suka. Tak ada paksaan di antara keduanya.


"Lain kali jangan bikin aku kayak semalam yah. Kalau kek gini gimana? " Kata Aufa dengan pelan.


Dia memikirkan dia dan Abra juga. Jika dirinya kelelahan seperti ini, tentu dia tak bisa melakukan apapun di rumah mertuanya ini.


"Aku tak janji tapi aku akan melakukannya lebih lembut, " Kata Abra dan membuat Aufa membulatkan kedua matanya.


Suaminya ini benar-benar otak omes sekali. Namun, Aufa menerimanya karena mau bagaimana lagi dia adalah suaminya.


"Ayo kubantu ke kamar mandi, Sayang, " Kata Abra tanpa menunggu jawaban akhirnya mulai mengangkat tubuh istrinya dalam gendongan.


"Duduklah disini dulu, Sayang, " Kata Abra mendudukkan istrinya di closet.


Dia segera mengisi bathup dengan air hangat. Abra ingin tubuh istrinya relax dan menghilangkan penat. Setelah terisi penuh, Abra perlahan membantu Aufa berdiri.


Dia meletakkan kedua tangan istrinya di kedua pundaknya.


"Pegangan yang erat yah, " Ujar Abra dengan pandangan tulusnya.


Seakan terhipnotis akan pesona kedua mata Abra. Aufa hanya bisa mengangguk. Selimut yang membalutnya mulai dibuka dan akhirnya Aufa telah polos layaknya seorang bayi. Abra menggendongnya lagi dan mulai memasukkan Aufa ke dalam bathup.


Saat air hangat menyentuh kulitnya. Aufa merasakan ketenangan. Dia perlahan memejamkan matanya dan tak memperdulikan suaminya. Aufa berpikir Abraham pergi keluar. Namun, tak lama, gelombang air yang bergerak membuat Aufa membuka kedua matanya.


Dia reflek terkejut. Disana, suaminya itu. Abraham telah membuka seluruh pakaiannya dan mulai masuk ke bathup yang sama.


"Kamu ngapain ikutan masuk? " Tanya Aufa dengan bingung.


"Karena aku ingin mandi denganmu, Sayang, " Jawab Abra dan mulai memasukkan tubuhnya dan berhadapan dengan sang istri.


"Tapi… "


Ucapan Aufa mulai tertahan saat tangan Abra menyentuh kakinya. Pria itu mengusapnya dengan pelan dan mulai memijatnya hingga membuat Aufa merasa kenyamanan.


Dia yang hendak marah dan protes perlahan mulai menyandarkan tubuhnya. Aufa memejamkan matanya menikmati pijatan itu dan membuat bibir Abra melengkung ke atas.

__ADS_1


Dia tahu istrinya kelelahan. Dia tahu karena ulahnya istrinya tak bisa jalan. Maka dari itu, untuk menebus semuanya. Abra memijat kaki istrinya itu dengan pelan dan begitu perasaan.


"Jika kamu sudah merasa tenang dan rilex. Aku akan meminta upah, " Ucap Abra dalam hati dengan menahan sesuatu yang kembali bergejolak dalam dirinya.


Aufa begitu menikmati pijatan ini. Hampir setengah jam berlalu, perlahan pijatan ini mulai merambat ke pahanya. Mulanya dia biasa saja. Aufa belum curiga apapun.


Namun, semakin lama tangan itu semakin naik dan berhenti tepat di depan inti tubuhnya yang polos. Saat aufa baru saja membuka matanya, bersamaan dengan itu jari jemari Abraham masuk dan membuat Aufa membelalakkan kedua matanya.


"Sayang! " Pekik Aufa dengan pandangannya yang terkejut.


"Maafkan aku, Sayang. Tapi… " Kata Abra yang perlahan bergeser hingga membuat air di bathup ikut bergerak dan berjatuhan.


Jarak keduanya mulai semakin dekat. Kedua tangan Abra mulai terulur dan mengangkat pinggang istrinya itu sampai Aufa duduk di atas pangkuannya.


Bathup ini lumayan besar hingga cukup untuk dibuat mandi bersama. Dengan pelan, Abra memegang pinggang istrinya sampai tubuhnya menyandar di sandaran bathup.


Keduanya kini berhadapan dengan pandangan saling tatap. Dengan Aufa yang duduk di pangkuan Abraham dan inti tubuh keduanya saling bertemu satu dengan yang lain.


"Sayang ini… " Aufa merasa tak nyaman.


Namun, lidahnya terasa keluh saat ingin mengatakan sesuatu sekarang. Dirinya juga bisa merasakan jika milik suaminya itu mulai membesar. Sesuatu itu mulia tegang dan membuat Aufa menelan ludahnya begitu susah payah.


"Sayang… "


"Aku menginginkanmu lagi, " Kata Abraham dengan jujur.


Sebelum Aufa protes. Bibirnya langsung diserbu oleh bibir Abra. Suaminya itu menyesap bibirnya dengan rakus. Seakan bibir miliknya ini akan habis dan hilang.


Aufa tentu kalah akan gairahnya. Dirinya juga kewalahan melayani nafsu suaminya itu. Namun, perlahan ciuman Abra mulai melembut.


Abra tentu bisa merasakan gerakan bibir istrinya yang kewalahan dengan serangannya. Dia ingin Aufa tetap nyaman dan membuatnya melambatkan pergerakannya.


Akhirnya suasana itu mulai saling membawa keduanya dalam terjangan sesuatu yang membuat keduanya ingin merasakan hal lebih. Apalagi ketika tangan Abra memegang dan mulai memegang kedua gunung kembar yang begitu ia sukai.


Ciuman mereka tentu semakin panas. Apalagi gerakan tangan Abra juga semakin membuat Aufa blingsatan. Hingga akhirnya kedua mata mereka kini beradu pandang.


Kabut gairah dalam mata keduanya tak bisa dibohongi lagi. Dengan pelan Aufa, mulai mengangkat tubuhnya sedikit. Dia membiarkan Abra mulai memegang miliknya dan perlahan dia masukkan ke inti tubuhnya dengan pelan.


"Sayang! " Pekik Aufa sampai tubuhnya melengkung ke belakang.


Sensasi air hangat dan bagaimana milik suaminya yang memenuhi inti tubuhnya tentu membuat Aufa merasa melayang. Bibirnya tak bisa mengatakan apapun lagi karena ini sangat membuatnya gila.


Aufa mulai bergerak. Berpegangan di pundak Abra. Keduanya mulai berkicau layaknya menunggang kuda. Baik Abra maupun Aufa tak saling mengalah.


Seakan pijatan suaminya tadi membuat Aufa sedikit lebih kuat untuk bergerak layaknya penari handal.


Baik Abra dan Aufa saling bergerak. Saling mengejar kenikmatan di antara keduanya sampai akhirnya, pelepasan itu akhirnya keduanya dapatkan. Ya, Abra juga keluar dalam waktu yang cepat dan membuat nafas keduanya terengah-engah.


Aufa mendekatkan wajahnya hingga keduanya saling bersentuhan. Bibir keduanya saling tersenyum dan mata mereka saling menatap. Seakan pelepasan tadi adalah sesuatu yang membuat hati keduanya merasa lega dan juga puas.


"Terima kasih, Sayang, " Ucap Abra yang begitu menghargai usaha istrinya itu.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2