
...Ternyata kisah itu masih membekas di pikiranku. Begitu nyata dan memutar serta membuatku sadar jika dia pernah seberat itu untuk kutinggalkan....
...~Oneta Athaya...
...****************...
Akhirnya semua orang mulai keluar dari kamar mereka dengan membawa semua barang yang akan dibawa. Tas, dan koper mulai dikeluarkan dari dalam kamar. Mereka bahkan mulai mengeluarkannya ke teras depan untuk di tata di dalam bagasi mobil.
Semua orang terlihat memikirkan keadaan Kayla. Baik Almeera dia juga merasa dibohongi. Jujur baru kemarin dia bertukar pesan dengan kakak iparnya itu tapi keduanya mengatakan jika Jonathan dan Kayla baik-baik saja.
"Jangan terlalu dipikirkan, Bu. Semua pasti baik-baik saja," Kata Abraham mengusap punggung ibunya yang membuat Almeera mengangguk.
"Ibu hanya takut. Takut terjadi sesuatu pada Kak Kayla. Dia adalah ipar ibu yang selalu menemani Ibu dulu."
Abraham mengangguk. Dia sangat tahu bagaimana dekatnya istri omnya itu dengan ibunya. Tante Kayla adalah orang yang paling dekat dan selalu membantu ibunya.
__ADS_1
Apalagi saat masa jatuh ayah dan ibunya. Kayla selalu membantu dan mendengar semua keluh kesah ibunya di masa lalu. Hal itulah yang membuat Jonathan juga sayang dengan keluarga omnya. Bahkan Jonathan juga berusaha selalu ada untuk Ane, anak Jonathan.
"Abraham yakin Tante Kayla hanya sakit biasa, Bu. Kita do'akan saja yah?"
Almeera mengangguk. Pembicaraan berakhir ketika para pria mulai memanggil jika semua koper mereka sudah dimasukkan kedalam mobil yang menandakan inilah saatnya mereka pulang. Inilah saatnya mereka kembali ke negara asal setelah beberapa tahun menetap disini.
"Ay," Panggil Abraham menepuk pundak Aya yang membuat gadis SMP itu terkejut.
"Ih apaan sih, Bang. Ngagetin aja!" Seru Aya dengan kesal.
"Cie kesel yah. Kesel apa gak sabar. Gak sabar buat ketemu Reyn? Awww aww aduhh."
"Aduh, KDRT nih!"
Wajah Aya sudah bak keriting rebus. Wajahnya memerah dan memeluk Abraham dengan malu.
__ADS_1
"Jangan godain adikmu terus, Abra!" Kata Bara yang membuat tawa Abraham berhenti.
"Iya, Ayah. Abang hanya ingin tau seberapa besar keinginan dia kembali ke Indonesia," Sindir Abraham melirik adiknya. "Ternyata udah gak sabar banget!"
Athaya melotot kak matanya. Saat pertengkaran adik kakak itu hendak berlanjut. Aufa sudah menarik lengan suaminya agar berhenti menggoda adik iparnya itu.
Wajah Athaya yang memerah saja sudah membuatnya sadar jika adik iparnya semalu itu. Tapi dia juga tak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan adik iparnya.
"Semua sudah siap. Ayo kita berangkat ke Bandara!"
Almeera, Bara, Papa Akmal dan Mama Bela berada dalam satu mobil. Lalu Athaya, Athaya, berada dalam satu mobil. Lalu Papa Harrison dan Mama Tari bersama dengan Abraham dan Aufa. Mereka mulai meninggalkan rumahnya dan menuju ke bandara karena beberapa menit lagi pesawat mereka akan lepas landas.
Perjalanan itu berlangsung singkat. Jarak rumah mereka dengan bandara memang dekat. Hingga tak butuh waktu lama akhirnya mereka semua sudah sampai di bandara dan mulai menurunkan koper mereka dibantu dengan para sopir yang ikut serta disana.
"Kami titip rumah ya, Bu," Kata Almeera memeluk salah satu orang kepercayaannya yang selama ini ikut dengannya.
__ADS_1
"Iya, Nyonya. Kami akan menjaga rumah ini dengan baik."
~Bersambung