Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Kelakuan Abra


__ADS_3

...Percayalah semakin bercanda gurau dengan pasangan adalah salah satu hal untuk saling dekat dan semakin menambah cinta di antara keduanya. ...


...~JBlack...


...****************...


"Aku ingin buang air kecil, Kak," Ujarnya dengan tersenyum malu.


Ucapan Mela juga membuat Aufa mengerutkan dahinya. Dia benar-benar tak paham dengan apa yang diminta dan direncanakan oleh sahabatnya itu.


"Kamu gak bisa tahan dulu?" Tanya Aufa pada sahabatnya.


Dia memiringkan tubuhnya. Menatap Mela yang terlihat sudah tak tahan dengan apa yang dia inginkan.


"Aku benar-benar tak tahan, Fa!" Seru Mela sambil mendelikkan matanya. "Rasanya musim dingin ini membuatku bolak balik kamar mandi. Maaf yah?"


Abraham tak bisa menolak. Dia juga bisa tau apa yang dirasakan oleh sahabat istrinya itu. Apalagi Mela yang biasa tinggal di negara dua iklim kini harus beradaptasi lagi dengan cuaca dingin.


Bahkan suhunya lebih dingin dari musim penghujan di Indonesia. Suhu yang membuat setiap orang akan bolak balik ke kamar mandi jika sudah tak tahan dengan cuaca yang terasa menusuk tulang.


Abraham lekas menghidupkan sen kiri. Dia mencari tempat dimana terdapat kamar mandi umum. Dia tak mungkin meminta sahabat istrinya menahan lagi.


"Disana ada kamar mandi umum, Mel. Kamu bisa kesana sekarang," Kata Abraham memberi tahu.


Mela mengangguk. Dia menatap sahabatnya sambil mengedipkan salah satu matanya.


"Berduaan dulu sama suami. Sana pindah! Aku kasih waktu sebentar buat berduaan," Kata Mela berbisik yang membuat Aufa geleng-geleng kepala.


"Sayang, duduklah di depan!" Pinta Abraham merengek.


Aufa terkekeh. Sebenarnya sejak tadi dia tahu keinginan suaminya yang ingin dekat dengannya. Sejak tadi suaminya sudah memberikan kode untuknya pindah. Namun, dia tak enak hati saja pada Mela.


Dia tak mau membuat sahabatnya merasa menjadi obat nyamuk. Dia juga tak mau menunjukkan kemesraan mereka di hadapan Mela karena menjaga hatinya.


"Apa, Sayang. Kenapa?" Tanya Aufa yang akhirnya pindah ke kursi samping kemudian.

__ADS_1


Dia menatap ke arah suaminya. Matanya menatap sorot mata tajam itu yang sejak tadi mencuri pandang ke arahnya.


Ya Aufa tahu Abraham mencuri pandang ke arahnya. Menatap dari spion atas untuknya. Memberikan kode bahkan mengedipkan mata dengan nakal.


"Jangan menatapku terus. Lihat ke depan!" Kata Aufa pura-pura galak.


Dia mengalihkan pandangannya dari Abraham. Entahlah seakan dia tak memiliki kekuatan jika menatap mata Abraham terus menerus. Dirinya merasa jantungnya terus berdegup kencang. Gugup dan salah tingkah campur aduk menjadi satu.


Namun, Aufa bertahan menutupinya. dia berusaha terlihat biasa saja karena tak mau Abraham melihat jika dirinya selalu kalah jika mode tatap dengan suaminya itu.


Ya tatapan mata Abraham memang begitu mematikan. Wajahnya yang tampan, rahangnya yang tegas dan juga jangan lupakan. Senyuman yang manis mampu membuat Aufa semakin tergila-gila dengan suaminya itu.


"Kamu yakin, aku gak boleh lihatin kamu?" Tanya Abraham memajukan wajahnya semakin dekat.


Aufa spontan mundur. Dia menatap Abraham yang tersenyum ke arah dirinya dengan tatapan penuh menggoda.


"Yakin?" Tanya Abraham lagi sambil menikmati ekspresi Aufa yang begitu menggemaskan.


Aufa merasa gugup. Bahkan menelan ludahnya sendiri dia kesulitan. Rasanya aroma minyak wangi suaminya membuatnya gila. Bahkan aroma tubuh pria itu juga menusuk hidungnya yang semakin membuat dirinya merasa nyaman dan hampir terpengaruh oleh pesona seorang Abraham Barraq Alkahfi.


Sebenarnya yang membuat Aufa takut adalah kedatangan sahabatnya. Jika tiba-tiba Mela datang dan memergoki mereka bisa bahaya. Dia hanya ingin menjaga perasaan sahabatnya.


Dia mendudukkan dirinya dengan tegap. Mencoba berusaha menenangkan degup jantungnya yang main menggila.


Abraham hampir saja meledakkan tawanya. Dia tahu istrinya itu gugup karena takut ketahuan. Namun, dia seakan tak tahan. Dia ingin semakin gencar menggoda istri kesayangannya.


"Kamu cantik. Dengan penampilan ini, makin terlihat cantik," Bisik Abraham di telinga Aufa.


Pria itu dengan sengaja menghembuskan nafasnya di telinga Aufa. Dia bahkan bisa melihat tubuh Aufa yang menegang.


"Tapi dimataku, apapun penampilanmu. Selalu terlihat cantik!"


Ah rasanya ingin meledak. Aufa merasa dirinya gemetaran karena dirinya salah tingkah. Jujur baru kali ini Aufa keluar rumah dengan menggunakan dress bunga-bunga berwarna kuring cerah.


Penampilan dirinya yang berbeda. Biasanya dia akan memakai celana panjang tapi sekarang berbeda. Dia memakai rok agar perutnya nyaman. Entah kenapa ibu hamil ini merasa beberapa hari ini perutnya terasa begah atau kaku.

__ADS_1


"Sayang!" Panggil Abraham dengan suaranya yang lembut.


Aufa menarik nafasnya dengan berat. Dia merasa sesak nafas. Seakan jiwanya ingin lepas dan lari dari dalam mobil ini. Mobil yang luas ini terasa sempit untuknya.


"Aufa," Panggil Abraham lagi yang membuat gadis itu menoleh.


Ternyata Abraham masih disana. Di dekat wajah Aufa dan membuat wajah keduanya tentu berdekatan. Mata mereka saling menatap penuh lekat. Selama kedua bola mata itu saling menyelami di dalamnya.


Nafas keduanya tentu saling terasa di wajah mereka. Jarak keduanya yang terlalu dekat membuat hidung Abraham dan Aufa yang mancung saling bersentuhan.


"Sayang…"


"Ustt!" Seru Abraham pelan yang membuat Aufa tak jadi mengatakan apa yang ingin ia katakan.


"Biarkan seperti ini sebentar, Sayang. Rasanya aku ingin mual karena bau pewangi mobil," Lirih Abraham sambil membiarkan wajah mereka yang berdekatan.


Bahkan dengan sengaja Abraham menempelkan hidungnya dengan hidung Aufa yang membuat mata keduanya terpejam.


"Aromanya membuatku tenang, Sayang. Bau tubuhnya seakan candu untukku. Menjadi obat untukku ketika aku ingin mual," Kata Abraham dengan jujur.


Ya beberapa hari ini Abraham tersiksa. Tersiksa dengan dirinya yang mengalami mual minta setiap pagi. Bau makanan yang selalu membuatnya eneg. Namun, semua itu akan berubah ketika anaknya yang meminta.


Ketika istrinya mengidam dan meminta dirinya yang membuat. Seakan tubuhnya langsung beradaptasi dengan baik ketika bau makanan itu tercium di hidungnya.


"Terima kasih banyak, Sayang. Makasih udah selalu ada untukku. Makasih sudah menerimaku, membuka hatimu untukku dan percaya padaku," Lirih Abraham yang membuat Aufa mengangguk.


Air matanya mengalir. Entah kenapa bersentuhan hidung saja membuat Aufa tenang. Membuat Aufa nyaman dan merasa dekat dengan suaminya adalah obat yang tak berbentuk pil.


Abraham adalah obat dan rumah untuknya. Obat yang sangat mujarap untuk dirinya. Obat dari segala duka dan kenakalannya dimasa lalu.


"Sama-sama, Sayang. Kita akan terus belajar untuk menjadi suami istri dan orang tua yang baik yah."


Entah keberanian dari mana, Abraham semakin memajukan wajahnya. Hal itu tentu membuat jantung keduanya berdebar kencang. Semakin membuat cinta yang ada dalam hati keduanya semakin mekar sempurna.


Aufa yang benar-benar sudah sangat meresapi kedekatan mereka ini. Aufa yang sudah nyaman akhirnya semakin mendekatkan wajah mereka sampai bibir mereka hampir bersentuhan.

__ADS_1


"Bolehkan, Sayang?" Bisik Abraham lagi yang semakin membuat jarak bibir mereka begitu hampir menempel.


~Bersambung


__ADS_2