
...Ternyata di balik musibah yang terjadi banyak hikmah dan cinta yang datang tanpa diduga pada mereka. Sebuah hal yang luar biasa yang tak pernah mereka bayangkan akan datang secepat ini....
...~Abraham Barraq Alkahfi...
...****************...
"Bagaimana, Dokter?" Tanya Abraham pada dokter keluarga yang sering dipanggil ke rumahnya.
"Congratulations, Mr. Abraham. Your wife is pregnant," Ucap dokter perempuan itu yang membuat mata Abraham membulat tak percaya.
"Hamil?" Ulang Abraham tak percaya.
"Iya, Tuan. Istri anda sedang hamil," Ucap dokter itu lagi dengan bahasa Inggris yang lancar.
Pernyataan itu tentu membuat Almeera dan Bara yang ada di dalam kamar ikut bahagia. Mereka bersyukur atas kabar bahagia dari istri putra pertama mereka.
"Kita akan jadi nenek, Mas," Kata Almeera dengan wajah yang benar-benar begitu bahagia.
"Iya dan aku akan dipanggil kakek," Sahut Bara dengan tak kalah antusias.
Dokter mulai memberikan nasehat pada Abraham. Pria itu mengangguk dengan sesekali menatap istrinya yang belum sadar. Wajahnya tentu sangat amat terlihat jelas.
Dia bahagia ah bahkan sangat bahagia.
"Jaga istri anda dengan baik dan sekali lagi selamat, Tuan," Ucap dokter itu lagi sebelum dia pamit keluar dan Bara yang mengantarnya.
Abraham menatap ke arah ibunya. Matanya berkaca-kaca dan membuat Almeera membuka kedua tangannya.
"Ibu," Lebih Abraham dengan air mata mulai menetes. "Istriku hamil, Bu. Aku akan menjadi seorang ayah. Aku akan menjadi ayah, Bu."
Suara Abraham bergetar. Ya dia benar-benar tak bisa menutupi rasa keterkejutan dan kebahagiaan.
"Iya, Nak. Kamu akan menjadi seorang ayah. Kamu akan dipanggil ayah sebentar lagi," Sahut Almeera sambil mengusap punggung putranya.
"Jaga istrimu dengan baik yah. Ingat jangan membuat Aufa banyak pikiran. Dia harus lebih berpikir bahagia agar anak kalian juga bahagia," Ujar Almeera sambil memegang kedua tangan putranya.
"Iya, Bu. Bantu Abraham dan Aufa menjaganya. Ibu harus sehat. Oke?"
Almeera mengangguk. "Tentu. Ibu akan terus sehat untuk melihat cucu pertama ibu."
Abraham tersenyum. Dia menangkup kedua sisi wajah ibunya lalu mencium dahi Almeera. Seumur hidupnya, di dunia ini hanya tiga wanita yang dia cintai. Ibunya, Bia dan Athayya. Hanya mereka yang merupakan wanita yang menjadi support sistemnya.
Tiga orang wanita itulah yang ia cintai dan sayangi melebihi dirinya sendiri.
"Temani istrimu, Nak. Ibu akan membuatkan makanan untuk istrimu."
__ADS_1
"Tapi, Bu. Ibu jangan kecapean," Sela Abraham memegang tangan ibunya.
Almeera mengangguk. "Ibu hanya memasak sebentar. Untuk menantu ibu. Agar saat dia bangun. Aufa bisa makan."
"Bu," Lirih Abraham dengan matanya yang kembali berair. "Terma kasih. Terima kasih selalu dukung abang. Terima kasih selalu ada untuk abang. Aku menyayangi, Ibu."
Mata Almeera ikut berair. Jujur dia sangat tak pernah membedakan cintanya pada keempat orang anaknya. Namun, di dasar lubuk hati terdalam Almeera.
Terkadang dia merasa bersalah. Merasa bersalah pada Bia dan Abraham karena masa kecil mereka melihat bagaimana rumah tangganya dengan Bara terguncang.
"Ibu juga menyayangimu."
***
Entah sudah berapa lama seorang wanita itu tertidur. Dia perlahan membuka matanya. Lengannya terasa berat seakan dia menahan sebuah tumpuan.
Matanya kini mulai melihat sekitar. Dia mengerjapkan matanya berulang kali sambil memegang kepalanya yang sakit. Suara ringisan dari bibirnya membuat pria yang tidur dengan duduk itu mulai bergerak bangun juga.
"Sayang," Panggil Abraham dengan bahagia. "Akhirnya kamu sadar juga, hmm?"
Aufa meminta duduk. Shaka membantunya dan menyandarkan dirinya dengan tumpukan bantal di punggungnya.
"Aku… "
"Kamu pingsan, Sayang," Ujar Abraham mengingatkan.
Tentang pembicaraan itu. Pembicaraan suaminya dengan orang yang tak diketahui di telepon.
"Aufa," Lirih Abraham yang membuat tatapan gadis itu menoleh.
"Semi… " Lirihnya dengan mata berkaca-kaca.
Abraham menggeleng. "Jangan menangis. Ini bukan salahmu."
"Ini salahku. Dia kenal kamu dariku. Dia tahu kamu, dariku. Dia…"
"Usttt!" Abraham menutup bibir istrinya dengan bibirnya.
Pria itu mengecup bibir Aufa dengan lembut. Memagutnya begitu pelan seakan bibir itu benda yang mudah pecah.
"Jangan katakan apapun! Ini bukan salahmu," Ujar Abraham saat ciuman itu terlepas.
Pria itu menatap kedua bola mata Aufa dengan lekat. Dia menggenggam kedua tangan itu dengan hangat.
"Dengarkan aku, Sayang," Kata Abraham menangkup kedua sisi wajah istrinya. "Semua terjadi karena sudah takdirnya. Bukan perihal kamu kenal dia atau apa. Ini sudah jalannya. Dia melakukan ini karena iri dengan kita."
__ADS_1
"Tapi… "
"Jangan pikirkan tentang dia. Lebih baik sekarang kamu mikirin kita duplikat kecil," Kata Abraham ambigu.
Aufa mengerutkan keningnya. Dia menatap Abraham dengan pandangan bingung.
"Maksudnya, Sayang?" Tanya Aufa tak mengerti.
Abraham membawa tangan Aufa yang ia genggam ke atas perutnya. Mengusapnya dengan pelan dan membuat Aufa semakin tak mengerti.
"Selamat, Sayang. Selamat kamu akan menjadi ibu," Kata Abraham yang membuat tangan Aufa memaku.
Nafas wanita itu seakan tercekat. Wanita itu bahkan menatap Abraham dengan pandangan tak percaya. Dia menundukkan kepalanya. Menatap tangannya yang berada di atas perutnya.
Dia bukan anak yang tak tahu. Dia tahu maksudnya. Namun, lidahnya seakan terasa kaki.
"Kamu hamil, Sayang. Kamu hamil, Istriku."
"Aku hamil?" Ulang Aufa dengan terbata. "Aku hamil anak kamu?"
Kepala Abraham mengangguk. Aufa merasa ini mimpi. Dia kembali menundukkan kepalanya. Tangannya bergerak mengusap dengan jantung yang berdebar.
"Sejak kapan? Sejak kapan kamu tahu, Sayang?"
"Tadi. Dokter mengatakan kamu pingsan karena kelelahan di awal kehamilan."
Air mata Aufa mengalir tanpa bisa dicegah. Ada perasaan bahagia begitu teramat besar. Tak bisa dijabarkan dengan bibirnya.
"Abraham kecil sudah ada. Abraham kecil ada disini," Kata Aufa sambil memegang perutnya.
Abraham mengangguk. Dia mengangguk dengan cepat. "Mulai sekarang fokus padanya. Oke? Jangan pikirkan apapun. Jangan stress! Ingat dia akan bahagia kalau kamu bahagia, Sayang."
Abraham mengatakan itu dengan serius. Dia menatap kedua bola mata istrinya dengan lekat.
"Aku bahagia karena kamu bahagia. Jadi mari kita bahagia bersama," Ujar Aufa pada Abraham. "Kita bahagia bersama, Sayang."
Abraham tentu mengangguk tanpa pikir panjang. Tanpa diminta, tanpa istrinya memohon. Dia akan terus berusaha membuat istri dan calon anaknya bahagia.
"Tentu, Sayang. Kita akan bersama seperti ini. Kamu, aku dan dia. Kita akan bahagia bersama tanpa memikirkan apapun. Oke?"
Aufa mengangguk. Dia tersenyum dengan lebar. Dia benar-benar berjanji pada dirinya. Akan menjaga calon anaknya ini dengan Abraham.
"Papa dan Mama. Bagaimana?"
"Besok mereka akan terbang kesini. Aku sudah mengurus semuanya, Sayang. Mereka akan bertemu denganmu dan cucunya sebentar lagi," Ujar Abraham dengan serius
__ADS_1
~Bersambung