Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Pertemuan Kembali


__ADS_3

...Aku tak percaya jika akan ada pertemuan kedua kalinya dengan pria gila ini. ...


...~Mela...


...****************...


"Akhirnya selesai!" Kata Mela dengan meregangkan kedua tangannya ke atas.


Dia sudah berdiri di samping mobil yang menemaninya jalan-jalan. Dirinya menatap ke arah samping, melihat sebuah mobil terparkir disana dan membuat Mela menebak pasti ada tamu di rumah suami sahabatnya itu.


"Bapak taruh mana ini, Non?"


Mela menggeleng. "Gak perlu, Pak. Biar Mela aja yang bawa."


Mela segera meraih tas belanjaannya dari tangan supirnya. Perasaannya mulai baik. Tak seburuk tadi sudah. Dia mulai senang dan bahagia karena pemandangan yang ia lihat sepanjang jalan sambil memakan es krim coklat kesukaannya.


Ditambah dia juga berhenti di sebuah taman kota yang terlihat ramai. Dia membeli beberapa makanan yang ada disana. Melihat anak kecil bermain berlarian dan juga beberapa ibu yang menemani anaknya bermain membuat perasaan Mela mulai tenang.


"Bapak taruh mobil dulu di garasi yah."


"Siap, Pak. Makasih banyak yah."


Akhirnya Mela mulai berjalan ke arah pintu rumah yang tertutup. Dia berjalan dengan membawa dua p kantong belanjaan di tangan kanan kirinya. Setelah sampai di dekat pintu, dia meletakkan salah satu kantong itu di atas lantai dan mulai membunyikan bel pintu rumah suami sahabatnya.


"Keadaan disini benar-benar tenang," Kata Mela sambil menatap jalan di depan rumah Abraham yang tenang.


Hanya beberapa kendaraan keluar masuk dan mungkin karena rumah ini ada di perumahan besar dan mewah membuat banyak pemilik rumah jarang keluar jika tak ada pekerjaan.


Suara pintu yang terbuka membuat Mela berbalik. Nafasnya selama terhenti dengan jantung berdegup kencang saat matanya bertemu pandang dengan mata sosok yang membuka pintu itu.


Dia benar-benar menatap tak percaya dengan sosok yang dia lihat. Sosok yang baru beberapa jam yang lalu dia temui, sosok yang menyebalkan dan sosok yang membuat moodnya semakin turun itu berdiri disana.


"Kamu!" Ucap keduanya bersamaan dengan saling menunjuk.


Mela benar-benar tak habis pikir. Dia mengecek rumah yang dia jejaki ini dan halaman rumahnya. Benar ini rumah suami sahabatnya tapi sosok dibalik pintu itu, sosok yang membuka pintu untuknya dalam pria menyebalkan yang telah dia tabrak dan memegang tangannya di market tadi.


Bule gila yang ia temui dan membuat mood belanjanya turun harus ia temui lagi.


"Ngapain kamu disini?" Seru Mela dengan ketus.


"Ini rumah sahabatku. Bebas aku datang kesini kapanpun!" Kata Fort dengan senyuman yang menjengkelkan di mata Mela. "Dan kau, Nona. Untuk apa kau kemari?"

__ADS_1


Fort menaikkan salah satu alisnya. Dia menatap Mela dari atas sampai bawah. Ingatannya masih sangat amat ingat siapa wanita di depannya ini. Wanita bermulut pedas dan juga begitu galak menurutnya.


"Aku… "


"Mel," Panggil Aufa yang baru saja muncul dari pintu rumah Abraham. "Ehh. Kalian…"


Aufa terpaku. dia menatap keduanya dengan pandangan curiga.


Mela yang memiliki alasan untuk menjawab kesombongan pria yang tak dia kenal itu segera berjalan ke arah Aufa. Dia melingkarkan tangannya di lengan Aufa dan mendelikkan matanya ke arah Fort.


"Aku kemari dan tinggal disini karena sahabatku ini!" Seru Mela dengan pandangan meledek.


"Jadi… "


"Dia sahabat istriku," Sela Abraham yang sejak tadi diam di ambang pintu.


Jujur dia menunggu sela di antara keduanya. Dia merasa penasaran tentang keduanya. Apa yang membuat sahabat istrinya mengenal sahabat semasa dia kuliah.


"Kalian saling kenal?" Tanya Abraham pada keduanya.


"Kenal!"


Kata dua orang itu menjawab berbeda. Mela mengepalkan tangannya lalu menarik tangan Aufa untuk masuk ke dalam.


"Aku gak kenal pria semenyebalkan kamu. Jadi jangan sok akrab denganku atau sok kenal banget!"


Setelah mengatakan itu Mela menarik lengan Aufa dan masuk ke dalam rumah. Meninggalkan Abraham dan Fort yang berdiri di depan pintu.


Tawa bahagia Abraham terdengar disana. Dia bertepuk tangan setelah melihat istri dan sahabat istrinya masuk ke rumahnya.


"Untuk pertama kalinya dalam hidup. Tuan Fort ditolak mentah-mentah oleh seorang perempuan!" sindirsindir Abraham dengan wajah puas.


"Sialan lo! Bahagia banget!" Kata Fort meninju lengan Abraham pelan. "Dia bener-bener beda sama wanita disini, Bra!"


Abraham hanya terkekeh. "Jelas beda. Orang lahirnya aja beda!"


"Maksud gue bukan itu, Gila. Dia gak tergoda sama muka ganteng gue!"


Abraham melakukan ekspresi bak ingin muntah. "Ketampananmu tak berarti untuk sahabat istriku. Dia beda dari wanita lain."


"Kenalkan aku. Oke, kumohon!" Kata Fort meminta.

__ADS_1


Abraham melepas tangan sahabatnya yang melingkar di lengannya.


"Gue gak mau jadi mak comblang. Lu sendiri aja kalau mau kenalan ya maju sendiri!" Kata Abraham menolak.


Pria itu masuk ke dalam rumahnya diikuti oleh Fort. Pria itu masih merengek bak anak kecil pada Abraham.


"Kenalin gue. Ya plis! Gantengnya gue gak berarti buat tu cewek. Gue bener-bener penasaran sama dia."


Abraham menghentikan langkahnya. Dia menatap sahabatnya yang menunggu dirinya.


"Kalau lo cuma penasaran sama dia. Mending gak usah, Fort. Dia adalah gadis yang baik. Dia sahabat istri gue. Gue gak mau dia sakit hati karena lo dan permainan lo!"


***


Di dapur, Aufa menatap Mela yang sedang menata hasil belanjanya di atas meja dapur. Dia menatap sahabatnya itu penuh curiga.


"Kenapa sih, Fa? Kamu mau tanya apa? Bilang aja! Gak udah diam sampai melotot gitu matanya. Aku tau aku itu cantik," Kata Mela dengan menepis rambutnya ke belakang mencoba pamer kecantikannya.


Aufa memutar matanya malas. Dia duduk di kursi samping pantry. Menyangga kepalanya dengan kedua tangan.


"Bagaimana bisa kamu kenal dengan Kak Fort?"


"Fort?" Ulang Mela dengan tangan memegang nota lalu matanya menatap nota itu bergantian dengan apa yang dia beli.


"Iya Kak Fort. Teman Abraham tadi. Bagaimana kamu bisa kenal dia?"


Jujur sejak tadi Aufa penasaran. Rasanya dia ingin bertanya sejak tadi. Namun, wanita itu mencoba menahannya. Menahan agar tak terlalu terlihat kepo di hadapan sahabat suaminya itu.


"Oh. Bule gila itu?" Kata Mela dengan malas. "Gak sengaja tadi kita tabrakan di depan market."


"Terus! Kok bisa tabrakan?"


"Tabrakan kalau terus mulu, Fa!" Kata Mela menggoda.


"Ih aku serius tau gak! Gimana sih?" Kata Aufa kesal.


Mela tertawa. Dia duduk di kursi samping sahabatnya dan menatap Aufa yang benar-benar penasaran.


"Aku kan tadi ya nyoba ngecek liat di maps tempat-tempat yang mau aku datengin. Nah aku ya liat nunduk terus. Terus pas mau sampai aku dongak, ya tu bule gila datang dan sama pegang HP. Karena terlalu fokus HP dan sama-sama gak liat ya tabrakan. Belanjaan dia jatuh semua sama hpnya."


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2