
...Kehancuran seseorang tak akan ada yang tahu kapan mereka datang. Kapan mereka hadir dan menjadi bom atom di antara mereka. Seakan sepandai apapun sebuah hal yang ditutupi akan terbuka juga....
...~JBlack...
...****************...
Mama Semi meremas pakaian tipis itu dengan perasaan marah, kecewa, sedih dan terluka. Perempuan itu menatap baju itu dengan tatapan penuh amarah.
Emosinya memuncak tapi dia berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Dia berusaha menjadi wanita yang tenang. Dia menarik nafasnya begitu dalam. Meletakkan pakaian itu lagi ke dalam laci dan menegakkan tubuhnya.
Dia menghapus air mata yang menetes di kedua sudut matanya. Dia mencoba bersikap tenang. Mencoba menerima apa yang dia temukan. Mencoba tak terpancing dan membuat semuanya hancur.
"Aku harus mencari tahu siapa wanita itu. Siapa wanita yang menjadi perusak rumah tanggaku," Kata Mama Semi dengan menatap ke depan.
Dia menghapus air mata itu dengan kasar. Tatapan matanya penuh amarah. Tatapan matanya benar menunjukkan perasaan terluka dan kecewa.
"Aku akan membuat kehancuran padamu, Pa. Aku tak akan tinggal diam. Aku akan membalas semuanya. Kau menyakitiku, maka aku bisa membuatmu terbuang dan miskin!" Kata Mama Semi dengan tatapan mata penuh benci.
Dia lekas keluar dari ruang kerja suaminya. Perempuan dengan sejuta rasa sakit yang telah ia rasakan hari ini membuat cintanya yang besar untuk suaminya sirna. Membuat cinta yang selama ini dia simpan untuk suaminya, membuat cinta yang selama ini hanya untuk suaminya kini hilang, habis tak berbekas.
Tak ada rasa apapun lagi, kecuali sakit, kecewa, sedih dan juga merasa terkhianati.
"Aku akan meminta bantuan Semi. Aku akan mengatakan semua tingkah laku papanya itu padanya. Aku yakin putraku itu akan ada di pihakku. Ya, di pihakku dan membelaku!"
Mama Semi duduk di atas ranjang. Dia mengusap kedua wajahnya dengan tarikan nafas yang berat. Dirinya benar-benar merasa begitu kacau sekarang. Merasa begitu sakit saat harus mengetahui apa yang selama ini disembunyikan darinya.
"Sejak kapan suamiku berselingkuh?" Gumamnya dengan pelan.
Dia mendongakkan pandangannya. Menatap potret foto dirinya, suami dan Semi yang terlihat sangat amat bahagia. Potret foto keluarga yang sejak dulu terpajang disana selalu membuatnya tenang. Namun, berbeda dengan sekarang.
Ya jika dulu melihat foto itu tenang tapi sekarang semuanya berubah menjadi sakit. Ya setiap kali dia melihat foto itu dia merasa ditertawakan oleh keadaan.
Seakan dia menjadi wanita terbodoh. Seakan dia menjadi wanita gila yang sela dibodohi oleh satu pria.
__ADS_1
Tangannya mengepal, dia beranjak berdiri dan segera berjalan ke arah potret itu. Wajahnya yang marah lekas membuat tangannya menurunkan potret itu. Dia menurunkan foto yang selama ini tak pernah tergantikan itu lalu meletakkan di pojok ruangan. Menutup foto itu dengan sebuah kain agar tak terlihat lalu menutupnya dengan tirai.
"Aku benci foto itu. Aku benci dengan semua kepalsuan ini!"
***
"Kamu kabur semalam?" Tanya Mela saat dia baru saja keluar dari pintu depan lalu lihat ibu hamil sedang jalan-jalan pagi di halaman depan rumah besar milik suami sahabatnya itu.
Aufa tertawa receh. Dia seakan bingung harus menjawab apa. Ingatan tentang dirinya yang diculik semalam masih terbayang dalam benaknya. Hal yang dilakukan suaminya karena tak sanggup menahan rasa rindunya dan keinginannya untuk bersamanya.
Pria yang benar-benar gila menurutnya. Pria yang memberikan izin padanya lalu menculiknya sendiri. Pria yang mengatakan bisa tidur sendiri tapi ternyata tak bisa.
"Iya, Mel. Maaf yah, aku gak bisa jauh dari Abra. Jadi saat kamu udah tidur, aku kabur," Kata Aufa dengan wajahnya yang malu.
Dia tak mungkin mengaku pada sahabatnya tentang kelakuan suaminya. Dia tak mungkin mengaku pada Mela apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi pada mereka berdua.
"Uluh uluh!" Kata Mela dengan berkedip manja. "Sudah tak bisa berjauhan yah. Maunya deket malu, maunya dipeluk terus gitu yah!"
"Aduhh!" Kata Mela memegang kepalanya yang dipukul oleh sahabatnya dengan pelan. "KDRT nih!"
Kedua mata Mela mendeliki sebal. "Kamu kira otakku kotor?"
"Ya bisa jadi. Otak kamu itu terlalu kotor dan memikirkan hal-hal gila. Jadi aku pukul biar sembuh!"
"Astaga!" Mela geleng-geleng kepala.
Dia segera meletakkan kedua tangannya di pinggang lalu menatap sekelilingnya.
"Kemana suamimu, Fa? Kok gak ikut kamu jalan-jalan pagi?" tanya Mela yang penasaran. "Ibu hamil tak boleh sendirian. Harusnya suamimu itu nemenin kamu. Dasar pria!"
Aufa geleng-geleng kepala. Dia menarik tangan sahabatnya itu bersamanya.
"Aku ingin jalan-jalan sama kamu. Jadi temani aku!"
__ADS_1
"Aih kenapa aku?" Seru Mela tapi langkah kakinya tetap mengikuti Aufa.
"Ya biar kita melepas rindu. Emang kamu udah gak kangen sama aku? Kita lama gak ketemu loh!"
Mela terlihat memutar matanya malas. "Kangen kamu? Yang ada aku bosen."
Kedua orang tiu tertawa. Keduanya memang selalu seperti ini. Saling menggoda dan bercanda satu dengan yang lain. Hal itulah yang membuat hubungan keduanya selalu akrab.
Hal itulah yang membuat antara Aufa dan Mela tak ada batasan. Mereka sudah nyaman satu dengan yang lain. Mereka sudah saling menyayangi satu dengan yang lain hingga membuat jarak di antara mereka begitu dekat dan akrab.
"Fa!" Panggil Mela saat mereka sampai di taman belakang rumah mertuanya Aufa.
"Ya?"
"Rumah ini sama mall. Jauh gak?"
Aufa mengajak sahabatnya itu duduk di salah sofa yang ada disana. Dua sahabat itu saling bertatapan dengan Aufa yang mengingat.
"Nggak kok. Ada Mall dekat sini. Kenapa?"
"Aku mau beli baju, Fa. Aku gak bawa baju banyak. Jadi aku mau beli beberapa sama mau beli obat juga. Dekat sama apotik gak?" Tanya Mela yang ingin tahu.
Apa yang dia katakan memang benar. Koper yang dia bawah isi di dalamnya sebenarnya memang sedikit. Isinya hanya beberapa pakaian dan membuatnya mau tak mau harus segera membeli pakaian untuk berjaga-jaga.
"Aku akan mengantarmu. Ok?"
"No!" Mela menolak. Dia menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku gak mau kamu kecapekan. Oke! Kamu kasih tau aku aja dimana mall dan apotik. Aku akan membelinya sendiri."
"Aku takut kamu hilang di negara ini, Mel. Kamu belum tau kesini kan?"
Mela tersenyum. Dia menggenggam tangan sahabatnya. Dia tahu seberapa khawatir Aufa padanya. Dia tahu bagaimana sahabatnya itu menyayangi dirinya. Bagaimana mereka yang tak pernah berjauhan, dipisahkan, dan dipisah dengan jangka waktu yang lama.
"Aku gak bakal hilang. Aku bakalan telepon kamu kalau ada sesuatu. Yah yah… " Mela membujuk.
__ADS_1
~Bersambung