Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Godaan Mela


__ADS_3

...Percayalah jatuh cinta adalah hal indah yang mungkin akan dirasakan ketika kita saling mencintai antara satu sama lain dengan begitu ikhlas dan penuh terima. ...


...~JBlack...


...****************...


Abraham bahkan sesekali memejamkan matanya. Nafas keduanya tentu beradu di wajah mereka. Namun, bukannya saling menjauh. Keduanya semakin menikmati momen ini.


Aufa yang tak sanggup akan pesona Abraham tentu mulai membuka bibir. Dia hendak mengatakan sesuatu tapi ternyata Abraham yang sudah begitu ingin mencium istrinya tentu tanpa diduga langsung menyatukan bibir keduanya.


Aufa terkejut bukan main. Namun, Abraham yang berpengalaman tentu mencium Aufa dengan lembut. Calon ayah satu anak itu mencoba menciptakan suasana yang lembut dengan perlakuannya pada Aufa.


Abraham mencium dan menyesapnya dengan pelan. Tangannya juga sudah ada di belakang tubuh Aufa. Bahkan dengan sengaja Abraham menarik leher Aufa semakin mendekat.


Jujur jantung Aufa terus berdebar kencang. Bahkan tangan gadis itu langsung memegang baju suaminya dan menggenggamnya dengan erat. Bibirnya tak bergerak tapi ia membiarkan Abraham terus mengeksplor bibirnya dengan begitu lembut seakan itu yang begitu rapuh.


Tak lama Abraham melepaskan ciuman itu saya nafas keduanya mulai habis. Dia memberikan kecupan lembut hidungnya dan membuat mata mereka kini terbuka sempurna dan saling menatap. Dengan penuh romantis, Abraham mengusap bibir Aufa yang bengkak dan basah karena air liur mereka dengan begitu pelan.


"Maafkan aku yang tak tahan memakanmu, Sayang. Jika bukan karena Mela, mungkin saat ini aku akak menculikmu dan membawamu ke hotel," Lirih Abraham yang semakin membuat mata Aufa melotot.


Perempuan itu memukul lengan suaminya hingga membuat Abraham mengaduh.


"Mesum banget sih. Udah dikasih ciuman masak masih kurang!"


"Iya kurang. Nanti malam kasih aku lagi ya, Sayang?" Rengek Abraham dengan manja.


"Nggak!"


"Iya ya?"


"Nggak!'


"Yes!


"No!"


"Apa yang sedang kalian ributkan?" Tanya Mela yang sudah berdiri di dekat jendela mobil dan melihat semua mendengar pertengkaran pasutri ini di dalam mobil.


Aufa dan Abraham terkejut. Perempuan itu spontan membuka pintu mobil dan menatap sahabatnya yang sedang asyik mencomot es krim coklat itu di depannya.


"Mau?" Tanya Mela pada sahabatnya.

__ADS_1


Aufa mengangguk cepat. Selama hamil pria itu sangat amat menyukai es krim dan memakannya meski cuaca disini dingin.


"Ini," Kata Mela sambil menyodorkan kantong plastik yang berisi beberapa es krim coklat itu pada sahabatnya.


"Makasih banyk. Kamu sahabatku yang terbaik!" Kata Aufa lalu mencium pipi sahabatnya dan memeluknya.


"Ihh dasar. Karena es krim manis banget!" Seru Mela yang membuat Aufa tertawa.


"Jelas dong. Kamu beliin aku tanpa aku minta!"


"Nyindir nih!" Kata Abraham tersindir.


Bukannya marah. Abraham tertawa. Lalu kedua wanita itu mulai masuk kedalam mobil kembali untuk melanjutkan perjalanan.


"Aku gak ikut-ikut prahara rumah tangga oke. Kalau mau berantem tunggu sampai dirumah aja," Kata Mela yang membuat Abraham dan Aufa terkekeh.


Akhirnya perjalanan mereka mulai berakhir. Kendaraan roda empat milik Abraham mulai memasuki area parkiran mall. Keempatnya segera turun dan mulai berdiri di dekat mobil Abra.


"Kamu mau makan dulu atau… "


"Mau makan!" Sahutnya dengan cepat.


Mela tertawa dengan receh. Apa yang mau disembunyikan lagi. Aufa sangat tahu jika dirinya doyan makan. Apalagi mencoba makanan baru tentu menjadi kebiasaan seorang Mela.


"Sushi!" Jawab Mela dengan membayangkan susi yang sangat enak di lidahnya.


"Kamu yakin makan sushi, Mel?" Tanya Aufa menatap sahabatnya itu dengan pandangan penuh selidik.


"Iya, Fa. Emang gak ada kah sushi disini?" Tanya Mela yang baru ingat jika dia bukan ada di negara yang biasanya memiliki makanan sushi yang sangat enak.


"Aku belum tahu. Aku sudah lama tak tinggal disini tapi mungkin kita masuk dan mencarinya adalah opsi yang terbaik. Gimana!" Tanya Abraham memberikan pilihan.


Aufa dan Mela saling tatap. Dua sahabat yang memiliki kesamaan dan kepribadian yang sama itu saling pandang.


"Gimana?"


"Aku mau aja tapi kamu bumil, gimana?"


Mela memang sanggup untuk jalan lama. Toh dia memang suka jalan-jalan. Namun, Mela tak mau egois. Dia tak mau memikirkan dirinya sendiri.


Bagaimanapun sahabatnya saat ini berbadan dua. Maka mau tak mau. Siap gak siap. Mela harus ikut menjaga kondisi sahabatnya itu.

__ADS_1


"Ayo!" Kata Aufa yang tak kalau antusias. "Kalau aku capek. Aku bakalan bilang."


Suasana Mall tentu begitu ramai. Abraham dengan sikap posesifnya melingkarkan tangannya di pinggang Aufa. Mereka berjalan beriringan dengan Mela yang berjalan lebih dulu sambil menatap ke kanan dan ke kiri.


Matanya benar-benar menatap suasana yang sangat amat asing untuknya. Pemandangan banyaknya bule yang keluar masuk ke mall tentu terlihat oleh matanya.


Suasana yang sangat amat membuat Mela merasakan hal baru lagi. Setiap kali dia datang ke tempat baru makan dia akan mengambil ponselnya lalu mulai merekam, memotret apapun yang ingin dia abadikan.


"Kalian berdua. Senyumm… "


Aufa dan Abraham tersenyum di depan kamera. Keduanya memang tak siap tapi Aufa yakin hasil jepretan tangan sahabatnya itu bagus.


"Perfect!"


Mela memberikan ponselnya itu pada sahabatnya. Dia membiarkan sahabatnya itu melihat hasil foto dadakan.


"Ayo kita lanjut jalan!"


Aufa menggandeng tangan sahabatnya. Sepasang sahabat itu saling memegang tangan dan sambil berjalan beriringan. Sedangkan Abraham, pria itu berjalan di belakang Aufa dan Mela.


"Jujur sama aku. Kalian ngapain di dalam mobil, he?" Goda Mela dengan menaikkan salah satu alisnya.


Aufa yang mengingat apa yang terjadi di antara keduanya tentu spontan menunduk. Dia merasa malu saat mengingat apa yang sudah ia lakukan. Meski mereka suami istri tapi tetap saja jika dilihat oleh ketahuan oleh orang lain membuat dirinya malu.


"Kepo kan?" Seru Aufa meledek. "Gak ngapa-ngapain tau."


"Ah gak mungkin, 'kan! Coba sambil tatap aku bilangnya, Bumil!" Goda Mela semakin gencar.


Pipi ibu hamil satu ini semakin kemerahan. Dia merasa malu dan gugup bercampur menjadi satu.


"Beneran, Mel. Aku… "


"Bibirmu bengkak, hmm?" Goda Mela semakin gencar.


Ah rasanya Aufa ingin menenggelamkan dirinya ke dasar jurang terdalam. Rasanya sejak dulu di atau bisa berbohong pada sahabatnya ini. Mela selalu tahu apa yang dia rasakan.


"Jangan bilang kalian abis jub jub?"


"Ngawur!" Aufa mencubit lengan sahabatnya yang ternyata semakin bar-bar. "Otakmu kenapa berubah jadi omes?"


"Bukan omes. Tapi kalian kan udah lama nikah. Orang nikah itu gak bisa dibiarin berdua. Biasanya bakalan ngelakuin hal aneh kalau ada kesempatan dalam kesempitan!"

__ADS_1


"Gak pernah. Aku sama suamiku gak segila itu yah!"


~Bersambung


__ADS_2