
...Percayalah rumah ternyaman hanyalah pelukan keluarga kita sendiri. ...
...~JBlack...
...***...
Bia lekas berjalan ke arah orang tuanya. Memeluk Almeera, wanita yang dia rindukan. Wanita hebat yang melahirkan dirinya. Wanita hebat yang mempertahankan miliknya sampai titik darah penghabisan.
"Ibu," Lirih Bia dengan memeluk Meera.
Almeera mengangguk. Dia memeluk dan mengusap punggung putrinya dengan sayang. Rasanya rasa cinta dan sayang serta rindu kini melebur menjadi satu.
"Kamu sehat, Sayang?" Tanya Almeera lalu melepas pelukannya.
Perempuan yang sudah tak lagi muda itu menatap seluruh tubuh Bia. Mengecek kondisi putrinya dari atas sampai bawah. Dia selalu seperti itu. Melihat kondisi putrinya dengan begitu teliti.
"Bia baik-baik aja, Bu. Bia sehat," Ujar Bia dengan pandangan sendunya.
Almeera mengangguk. Dia meletakkan dua tangannya di samping kanan kiri wajah Bia lalu mencium dahi putrinya.
"Jangan terlalu memaksa belajar ya, Nak. Ingat kata Ibu! Utamakan kebahagiaan Bia, kenyamanan Bia dan istirahatlah. Tak perlu melebihi batas tubuh Bia hanya untuk penyataan dari Ibu dan Ayah.
Mau Bia kerja berapapun. Mau Bia nanti keluar kuliah dan bekerja di kantor kita. Ibu dan Ayah tetap bangga.
__ADS_1
Bia mengangguk.
Air matanya menetes. Bia benar-benar bersyukur memiliki sosok ibu dan Ayah yang begitu pengertian untuknya.
"Apa Ayah tak akan mendapatkan pelukan juga?" Tanya Bara pura-pura marah.
Bia terkekeh pelan. Anak itu lekas bergeser dan segera memeluk Bara dengan penuh kerinduan.
"Apa kabar putri, Ayah?" Tanya Bara setelah mencium dahi putrinya.
"Alhamdulillah baik," Jawab Bia lalu memeluk ayahnya.
Hubungan anak dan Ayah itu memang dekat. Apalagi semenjak kecil, Bia selalu bersama Bara dimanapun. Jadi mau Ayahnya hendak kemana pun, Bia akan selalu ada disana.
Semua orang mengikuti langkah Ayah dan anak itu. Kecuali pasangan suami istri yang lagi bucin. Ya siapa lagi jika bukan Aufa dan Abraham.
Pria itu berdiri di sana dengan begitu santai dan tentram.
"Sepertinya ibu sangat rindu sama Bia, Sayang," Kata Abraham dengan wajah memelas.
Aufa menahan tawa. Dia tahu perasaaan suaminya ini yang dibuat-buat. Dia tahu jika suaminya ini adalah seseorang yang tak pernah cemburu akan kedekatan saudara kandung dengan orang tuanya.
"Iya tentu, Sayang. Bia jarang pulang."
__ADS_1
"Aku juga jarang pulang," Balas Abraham tak mau mengalah.
Aufa hanya diam. Rasanya dia benar-benar kesal pada suaminya ini.
"Sayang," Panggil Aufa lalu menarik wajah suaminya.
Aufa menangkup kedua sisi wajah Abraham. Menatap bola mata yang selalu menatapnya penuh cinta. Menatap kedua bola mata yang tak pernah berubah sedikitpun untuknya.
"Bia itu perempuan. Dia juga jauh. Jadi Ayah dan Ibu pasti sedikit lebih khawatir dengan mereka.
"Apalagi Bia sendirian. Jadi kamu harus memaklumi semuanya yah. Jangan iri atau merasa tak disayang!"
Abraham tersenyum. Dia mencubit kedua sisi wajah istrinya dengan gemas.
"Istrinya siapa sih ini. Gemes banget!" Kata Abraham dengan mata berbinar.
"Yang aku serius," Bujuk Aufa dengan kesal.
"Aku juga serius, Sayang!"
"Kamu!"
Bia rasanya ingin memukul Abraham. Namun, wanita itu lebih memilih mengambil tas kecil di bagasi dan menurunkannya.
__ADS_1
"Jangan bikin aku makin kesel yah. Nanti kami tak cubit hatinya, Tong~>>>"