
...Perhatian seorang suami akan selalu menjadi obat lelahnya seorang istri. ...
...~Aufa Falisha...
...****************...
Aufa menatap kedua kakinya yang dimasukkan ke dalam bak besar yang berisi air hangat. Wanita itu melihat bagaimana suaminya yang merawat dirinya.
Dengan kedua tangan Abraham sendiri. Dia memasukkan kaki Aufa ke dalam bak. Menyiramnya dengan air hangat dan membersihkannya.
"Udah, Sayang. Udah. Ayo kamu berdiri!" Pinta Aufa yang merasa tak enak hati.
Bagaimana bisa, dirinya duduk di atas lalu suaminya dibawah. Apalagi tepat di dekat kedua kakinya yang direndam.
"Nggak perlu, Sayang. Aku disini saja," Kata Abraham memaksa.
Aufa tak bisa melakukan apapun. Dirinya hanya bisa menghela nafas berat dan mencoba berdamai dengan keras kepala suaminya.
"Tapi, Mas… "
"Gak ada tapi-tapian. Lihat kaki kamu ini. Bengkak kan? Ini bengkak karena kamu hamil dan itu menjadi pertanda, bahwa aku juga ikut serta karena ini!"
"Kok bisa?" Tanya Aufa yang heran dengan ucapan suaminya.
"Ya kamu hamil kan karena aku, Sayang? Kamu gak bisa hamil sendiri. Kamu harus aku hamili dulu baru hamil!"
__ADS_1
"Sayang!" Kata Aufa terkejut lalu mencubit tangan Abraham sampai mengaduh.
"Sakit, Sayang!" Rengek Abraham dengan suara manjanya.
"Biarin. Kamu kenapa sih. Mesum banget!"
Mama Aufa dan Papanya hanya geleng-geleng kepala. Almeera dan Bara juga. Keduanya benar-benar tak sadar tingkah Abraham sangat mirip dengannya.
"Anak Bara beneran. Gak salah kan, semesum-mesumnya ngikut juga!" Cibir Reno yang membuat Bara memutar matanya malas.
"Kalau kurang bilang, Ren. Lu harusnya nambah gih!"
Reno melempar bolpoin yang ada di sakunya dan dilempar ke arah Bara.
"Enak aja bilang tambah. Kamu kira anak kucing yang tinggal tambah mulu!" Cibir Reno yang berhasil membuat Bara tertawa.
Kepala Aufa mengangguk. "Enak banget, Sayang. Rasanya kakiku langsung gak sakit lagi meski bengkaknya belum kempes seperti semula.
Abraham mengangguk. Dalam hati dia merasa tenang dan lega. Dia merasa bahagia saat istrinya selalu menemani dirinya di saat susah maupun senang.
" Bawa istrimu ke kamar, Abra. Biar Aufa istirahat!" Pinta Almeera pada putranya.
"Iya, Bu!" Sahut Abraham mengangguk. "Ayo, Sayang!"
Aufa menurut. Dia perlahan dibantu berdiri dan keluar dari tempat dimana dia merendam kakinya. Abraham benar-benar tak jijik. Dia bahkan mengusap kaki Aufa dan juga sesekali dielusnya ketika dirinya duduk.
__ADS_1
"Aufa ke kamar dulu ya, Ma," Pamit Aufa lalu mencium tangan orang tuanya.
Akhirnya Aufa dan Abraham berjalan bersama. Mereka berjalan menuju tangga dimana kamar Abraham berada.
"Jadi ini… " Jeda Aufa yang ingin tahu penjelasan tentang rumah ini.
"Iya, Sayang. Ini rumah masa kecil aku. Rumah yang banyak kenangan tak ternilainya."
Aufa memutar kepalanya. Dia berjalan mengikuti langkah suaminya juga. Sampai akhirnya keduanya mulai masuk ke sebuah kamar yang tertulis nama Abraham di depannya.
"Selamat datang di kamar masa laluku, Sayang. Semoga kamu betah yah?"
Aufa mengangguk. Dia melangkah dengan pelan dan duduk di ranjang.
"Masih sakit?" Tanya Abraham menyusul istrinya.
Dia perlahan menurunkan kedua tubuhnya. Memijat kaki Aufa dengan pelan.
"Sedikit, Sayang," Jawab Aufa dengan pelan.
Abraham mengangguk. Dia menggerakkan jemari tangannya lalu mulai memijat kaki istrinya.
"Mas… "
"Jangan katakan apapun, Sayang," Pinta Abraham sambil memijat kaki Aufa, "ini tanggung jawabku. Aku akan menghalangi kalian semua.
__ADS_1
~Bersambung