Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Panggilan Misterius


__ADS_3

...Percayalah cinta yang besar akan mampu membuat seseorang berani untuk mengambil langkah. Meski itu sulit tapi dia akan berusaha sekuat mungkin....


...~Abraham Barraq Alkahfi...


...****************...


Abraham kini berada di ruang kerjanya yang ada di rumahnya sendiri. Ruang kerja yang diberikan oleh ayahnya untuk dia bekerja. Memiliki ruangan khusus untuknya melakukan hal-hal pekerjaan di rumah.


Dia mulai mengotak atik laptop yang menyala di depannya. Tangannya bergerak dengan lincah di atas keyboard dengan sesuatu hal yang dia ketikkan disana.


Hal yang besar. Hal yang membuatnya tersenyum kecil dengan apa yang dia dapatkan.


"Perkiraanku tak pernah meleset dan kamu tak pernah tahu siapa lawanmu sebenarnya!" Seru Abra lalu menekan salah satu tombol di keyboard dan membuat sesuatu muncul disana.


"Aku yakin kamu akan ketakutan sekarang! Jangan pernah bermain denganku. Apalagi jika menyangkut istriku! Aku tak akan memberikan kata ampun untuk apapun!" Seru Abraham dengan suaranya yang dingin.


Tak lama suara panggilan muncul di ponselnya. Dia melirik layar itu dengan tersenyum miring.


"Tikus kecil yang bergerak karena uang orang tua," Kata Abraham lalu meraih ponsel itu dan menggeser layarnya.


"Siapa kau! Apa maksudmu mengirimkan video itu! Kau siapa berani mengancamku!" Seru suara pria dari seberang sana dengan marah.


Abraham tersenyum. Bukannya takut, dia malah menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya dan menaikkan salah satu kakinya ke kaki yang lain.


"Long time no see," Kata Abraham dengan suaranya yang sangat amat khas. "Masih mengingatku?"


***


Di Indonesia.


Pria yang tengah berada di atas ranjang dengan sosok perempuan tengah bergelayut di tubuhnya dalam keadaan polos itu terlihat begitu panik. Dia memegang ponsel yang dia dekatkan di telinganya dengan pandangan marah.


"Kau!" Seru Sem dengan nada suara terkejut.


Bagaimanapun Semi adalah orang yang sangat amat teliti. Dia bahkan menghafal suara Abraham karena pria itu masuk dalam kriteria pria yang sangat dia benci.


"Pria bengkel!"


Sem mengatakan itu dengan suaranya penuh ejekan. Meski jantungnya bergetar. Bibirnya ternyata masih tak memiliki rasa takut.


"Pria miskin bukan?" Kata Semi dengan suara terkekeh. "Bagaimana kabarmu?"


"Ah aku?" Kata Abraham dari seberang sana. "Tubuhku masih kuat. Bahkan saat kau berpikiran membakar bengkelku. Apa kamu berpikir bisa membakarku juga?"

__ADS_1


"Tentu. Bahkan aku sangat ingin melihatmu mati disana!" Ucap Semi dengan begitu kejam.


Namun, bukannya mendengar suara Abraham yang takut. Semi bisa mendengar suara tawa di seberang sana. Suara tawa yang terkesan mengejeknya. Suara tawa yang berkesan untuk menertawakan dirinya.


"Untuk apa kau tertawa, hah?"


"Untuk menertawai kebodohanmu, Tuan Semi!" Seru Abraham yang membuat Semi perlahan beranjak dari ranjang.


"Sayang!" Panggil wanita itu yang membuat Semi berbalik dan menunjuk wanita itu dengan matanya yang melotot.


"Aw apa aku mengganggu waktumu dengan wanitamu, Tuan Semi?" Kata Abra dengan nada suara yang menyebabkan.


"Kau! Aku tau kau menyindirku!"


"Ya. Tentu," Sahut Abraham dengan begitu menggemaskan suaranya. "Aku memang tengah menyindirmu dan menertawakanmu."


"Pikiran licik tapi bodoh!" Lanjut Abraham dengan sarkastik.


"Kau mengatakan aku, bodoh? Kau yakin?"


"Tentu. Kau membakar bengkelku dan berharap aku mati didalam sana. Apa kau tak berpikir, jika disana juga ada Aufa, istriku yang tengah memelukku tidur dengan tenang?" Sindir Abraham yang semakin membuat dada Semi kembang kempis.


Kemarahan tercetak jelas di sana. Ya, wajah Semi memerah dengan mengepalkan tangannya begitu kuat.


"****!" Umpat Semi dengan marah. "Pria murahan. Kau… "


"Pria murahan itu kau!" Seru Abraham dengan sekali tebas. "Bukankah sekarang terlihat jelas. Kau bersama wanita murahan dan aku bersama istriku dengan ikatan jelas dalam agama dan negara?"


Telak.


Ah Abraham benar-benar membuat wajah Semi merah. Nafas pria itu memburu sangat tergambar jelas. Dia benar-benar begitu emosi pada sosok pria miskin yang menelponnya.


"Oh. Lanjutkan saja kegiatanmu, Tuan Semi. Maafkan aku yang mengganggu," Kata Abraham dengan suaranya yang benar-benar terkesan mengejek. "Ah iya. Aku memiliki satu hadiah untukmu. Mungkin nanti siang kau akan menerimanya. Selamat bersenang-senang dan semoga kau suka dengan kejutanku!"


Sebelum Semi menjawab. Panggilan itu terputus dan membuat Semi melempar ponselnya di atas sofa. Dia meninju dinding ruangan itu dengan emosi yang benar-benar naik.


"Brengsek. Pria sialan. Apa maksud pria miskin itu!" Umpat Semi dengan menyugar rambutnya ke belakang. "Aku tak akan menyerah. Aku kan menghancurkanmu, montir sialan!"


***


"Sayang," Panggil suara seseorang sambil membuka pintu ruang kerja mau.


Abraham menutup laptopnya dan bersamaan wajah sangat istri terlihat muncul dari pintu kerjanya.

__ADS_1


"Hai. Sudah bangun hmm?" Kata Abraham dengan suaranya yang manis.


Dia mengulurkan tangannya agar istrinya mendekat. Aufa yang masih memakai pakaian tidur itu berjalan mendekatinya dan menerima uluran tangan Abraham.


Dia menarik istrinya sampai Aufa duduk di atas pangkuannya. Abraham merapikan rambut istrinya itu dan tersenyum begitu manis.


"Gimana, Sayang? Apa tubuhmu masih sakit?"


Kepala Aufa menggeleng. Dia meletakkan kepalanya di dada Abraham dan mengusap pundak pria itu dengan pelan.


"Udah enakan. Mungkin karena berendam air hangat!"


Abraham tersenyum. Dia mengusap punggung istrinya itu dengan lembut


"Dan dengan pijatanku kan?" Kata Abraham yang membuat Aufa tertawa kecil.


"Itu bukan pijatan tapi kamu mencari cara agar aku membalas budi," Sindir Aufa yang membuat Abraham tertawa.


"Balas budi yang plus plus kan, Istriku? Toh kamu juga menyukai… emmm."


Mata Aufa mendeliki. Ah suaminya ini benar-benar otak omes sekali. Pikirannya selalu lancar ketika membahas itu.


"Kamu anaknya siapa sih. Kok pikirannya mesum mulu?" Kata Aufa dengan heran.


"Ya anaknya Ayah Bara dan Ibu Meera, Sayang."


Aufa menepuk dahinya. Dia lupa jika suaminya ini yang sangat dia cintai adalah salah satu spesies pria yang menyebalkan juga. Pria yang kadang membuatnya selalu bahagia juga memiliki sikap menjengkelkan.


"Kamu… "


"Kamu ingin jalan-jalan kemana?" Sela Abraham yang membuat mata Aufa berbinar.


Perempuan yang semula ingin mengomel akhirnya menatap Abraham dengan bahagia.


"Mau keliling New York. Boleh?" Kata Aufa dengan matanya yang berkedip seperti anak kecil.


"Tentu. Kita mengunjungi ibu dulu setelah itu jalan-jalan. Oke?"


Aufa mengangguk setuju. Dia benar-benar merasa senang. Dia ingin jalan-jalan negara ini bersama suaminya. Mengelilingi setiap sudut negara tempat tinggal suaminya dan membuat banyak kenangan.


Aufa masih belum tau seberapa lama dia disini tapi kemanapun Abraham pergi. Dia akan menjadi garda depan untuk menemaninya.


"Siap, Tuan Abraham yang terhormat. Istrimu ini siap dibawa kemanapun dan kapanpun!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2