
...Tanpa disadari, kebersamaan akan membuat dua orang saling mengenal satu sama lain. ...
...~JBlack...
...****************...
"Aku yakin aku yang akan menang untuk permainan ini!" Kata Mela menepuk dadanya.
"Tidak semudah itu. Aku pasti yang akan menang!"
Keduanya memang tanpa sadar telah akrab seperti teman. Memiliki kesukaan yang sama. Memiliki antusias yang sama terkadang membuat keduanya lupa jika keduanya baru beberapa kali bertemu.
Mereka tak seakrab itu tapi jika sefrekuensi tentu membuat keduanya lupa jika mereka memang tak sedekat ini bisa menjadi dekat. Mereka mulai fokus akan ring yang ada di depan matanya. Saat Mela dan Ort mulai menggesekkan kartunya pada mesin permainan itu.
Akhirnya permainan baru dimulai. Mela yang bisa basket membuatnya tentu tak perlu belajar lagi. Mereka segera berlomba dan fokus memasukkan bola ke arah ring yang menjadi fokus mereka masing-masing.
Suara heboh dan teriakan tentu membuat keduanya menjadi pusat perhatian. Banyak yang ikut senyum-senyum dengan aksi keduanya. Bahkan banyak yang mengira jika keduanya adalah pasangan kekasih karena kompak akan permainan itu.
Mereka tentu semakin heboh. Saat detik-detik terakhir. Mela benar-benar fokus dan tak melihat berapa skor Fort. Dalam otaknya terpenuhi traktiran dari fort.
Traktiran yang akan membuatnya bisa membeli apapun. Traktiran yang akan membuatnya membeli tanpa memikirkan uangnya lagi.
Meski dia kaya. Mela tak seperti wanita lain. Belanja tanpa memikirkan pengeluaran. Bagaimana pun Mela tetaplah Mela.
Dia selalu menghitung semua belanjaan yang dia beli. Menghitung berapa pengeluarannya setiap bulan. Karena dalam benak Mela, dia selalu menanamkan jika uang yang dia dapatkan dibayar oleh kasih sayang yang selama ini tak pernah dia dapat.
Akhirnya setelah permainan berakhir. Mela lekas menoleh kesamping. Dia melihat papan milik Fort dan ternyata.
"Wahh. Aku menang!"
Mela meloncat bahagia. Bahkan tanpa sadar dia lekas memeluk Fort dan melompat-lompat kecil dengan tangannya yang memeluk tubuh pria tampan yang terkejut akan aksinya itu.
"Aku menang aku menang!" ujarnya yang membuat Fort benar-benar mendadak kaku.
Fort mendadak tak waras. Tubuhnya seakan seperti patung. Dia bahkan sampai terkejut dengan aksi Mela yang spontan. Tangannya sampai kaku dan tak tahu harus melakukan apa.
__ADS_1
Sampai akhirnya Mela menyadari sesuatu. Menyadari ketika matanya menatap ke sekitarnya dan melihat beberapa orang tersenyum malu sambil menatapku.
"Ehh!" Mela lekas melepaskan pelukannya pada Forr.
Dia menundukkan kepalanya dengan pipi bersemu merah. Ah rasanya dia ingin tenggelam ke dasar laut jika begini. Dia tak percaya jika memeluk Fort lebih dulu. Dia tak percaya jika dirinya melakukan hal gila seperti ini tanpa memikirkan tempat atau siapa yang dia peluk.
"Maafkan aku. Aku…" Mela benar-benar hampir memukul kepalanya.
Dia lupa jika didepannya ini adalah pria yang ia panggil bule gila. Mela hampir lupa jika didepannya ini adalah pria yang membuatnya marah. Dia hampir lupa jika pertemuan pertama mereka adalah hal terburuk bagi keduanya.
"Aku… "
"Kamu bahagia?" Tanya Fort menatap sosok Mela yang terlihat canggung dan malu.
Spontan pertanyaan Fort membuat kepala Mela terangkat sempurna. Tatapan keduanya bertemu dan Fort mampu melihat kemerahan di kedua pipi sahabat istri Abraham.
"Ya," sahut Mela dengan menunduk lagi.
Jujur Mela bukan bahagia karena memeluk Fort. Namun, dia bahagia karena bisa bermain dengan puas. Bisa menemukan partner main yang kuat dengan tingkah lakunya.
Apalagi Aufa, selalu kalah darinya. Aufa bahkan belum seperempat permainan akan mengatakan menyerah jika dia sudah capek.
"Aku bahagia karena memiliki teman main yang selawan denganku!" lanjut Mela yang tak mau membuat Fort salah paham.
Pria itu mengangguk. Dia bertanya itu pun bertanya apakah Mela bahagia bermain dengannya. Apakah gadis itu puas bermain bersamanya.
"Jika kamu bahagia. Jangan pikirkan apapun. Egois dengan kebahagiaan yang kamu mau, Mel. Jangan memikirkan orang lain jika bahagiamu hasil dari jerih payahmu sendiri!"
"Eh!" Mela mengerutkan keningnya.
Dia tak paham akan perkataan itu. Saat Mela hendak bertanya lagi. Tiba-tiba tanpa diduga, Fort mengusap pucuk kepalanya yang semakin membuat Mela mendadak berdiri mematung.
"Ayo kita ambil voucher hasil lomba kita. Kita akan menukarnya nanti!" kata Fort lalu dia berbalik merobek voucher hasil permainan gilanya dengan Mela.
Gila. Bau tubuhnya kenapa tercium sempurna di hidungku. Bahkan bibirnya yang manis itu rasanya ingin kucium, gumam Mela dalam hati.
__ADS_1
Dia juga merasa ingin melayang saat tangan itu mengusap kepalanya dengan lembut. Saat tangan itu untuk pertama kalinya menyentuh kepalanya yang masih suci dari tangan siapapun.
Ya. Untuk pertama kalinya dalam hidup sahabat Aufa. Baru Fort saja yang berani menyentuh kepalanya. Baru Fort saja, pria yang ia peluk selain papanya. Dia tak pernah sedekat itu dengan pria lain karena menurut Mela dia hanya takut untuk dijadikan pelampiasan jika dekat dengan seorang pria.
Biasanya Mela adalah gadis yang memberikan jarak lebih dulu jika teman prianya mendekati. Dia akan memberikan ruang karena memang dirinya belum siap dekat siapapun.
Namun, sekarang seakan semuanya telah ia trobos dengan brutal. Seakan semua yang tak pernah ia dapatkan dan ia lewati kini bisa ia rasakan.
Sebuah elusan, sebuah partner main, sebuah teman baru pria yang membuatnya tetap menjadi dirinya sendiri. Menjadi sosok Mela yang apa adanya. Sosok Mela yang cerewet dan hiperaktif. Sifat Mela yang jahil dan bar bar begitu ia lihatkan dengan sempurna.
Dan semua itu karena satu orang. Satu orang yang saat ini ia tatap punggung tegapnya itu. Punggung pria yang menjadi teman bermainnya sejak tadi.
Apa yang terjadi padaku? Kenapa jantungku berdegup kencang seperti ini? Apa aku jatuh cinta pada Fort?" Gumam Mela dalam hati.
"Mel!" panggil Fort yang membuat tatapan Mela beralih.
"Ya?"
"Kenapa masih diam. Ayo tarik voucher kamu dan kita bermain yang lain!"
"Ah iya iya."
Mela akhirnya menepis lamunanya sejak tadi. Dia segera merobek voucher hasil bermainnya lalu segera mengikuti langkah kaki Fort yang membawanya ke permainan lain.
Entahlah wanita itu mulai merasakan perasaan yang berbeda tapi Mela berpikir biarlah dia menikmatinya sekarang. Biarlah dirinya bermain dengan puas tanpa ada beban apapun. Entah akan berakhir dengan apa, tapi Mela hanya bisa memasrahkannya pada Tuhan.
Dia hanya berharap semoga semua ini berakhir dengan indah. Semoga apa yang sudah dijalankan untuknya, bisa membuatnya menemukan kebahagiaan.
***
"Kalian dapat apa?" Tanya Mela yang penasaran saat mereka berada di dekat Aufa dan Abraham yang sedang mengantri.
Aufa yang sejak tadi membelakangi Mela kini berbalik.
"akhhh!"
__ADS_1
~Bersambung