
...Dibalik rasa sakit yang ada. Dibalik semua hal yang menyakitkan tentu akan ada hal manis di dalamnya. Akan ada hal yang menarik sebagai hikmah di balik semua perjuangan yang sudah mereka lakukan....
...~Abraham Barraq Al-Kahfi...
...****************...
Abraham tersenyum. Dia mendekat lalu mencium tangan ibu mertuanya dengan begitu sopan. Hal yang sejak dulu sangat ingin dia lakukan akhirnya bisa ia lakukan sekarang.
Masa sulit yang dulu terjadi di antara mereka. Masa dimana pernikahan mereka yang berat. Masa dimana restu itu susah didapatkan. Akhirnya kini mampu Abraham lewati dengan baik.
Entah apa yang menjadi alasannya. Entah apa yang membuat perubahan dalam diri mertuanya. Meski itu karena dia kaya atau karena mertuanya tahu dia anak orang kaya.
Yang terpenting dalam diri Abraham, sekarang tak ada lagi hambatan. Tak ada lagi masalah yang terjadi antara dirinya dan mertuanya.
"Mama benar-benar minta maaf. Mama mewakilkan seluruh keluarga juga. Mama benar-benar menyesal. Mama menyesal karena telah mengatakan hal kasar sama kamu," Kata Mama Bela dengan tulus.
Ya sejak Abraham mengorbankan nyawanya untuk putrinya, hatinya sudah berubah. Sejak kejadian kebakaran itu, perasaan Mama Bela berubah. Pandangannya pada Abraham sangat amat berubah sangat.
Dia sudah tak peduli dengan pekerjaan menantunya. Dia bahkan sudah menerima Abraham sejak kejadian itu. Namun, kenyataan demi kenyataan yang mulai datang padanya. Perusahaan yang dibantu oleh menantunya semakin membuat Mama Bela malu berhadapan dengan menantunya.
Malu karena dulu pernah menghinanya. Malu karena masa lalu mereka yang sangat amat buruk.
"Mama tak perlu mengingat masa lalu kita, Ma. Abraham tahu Mama ingin yang terbaik untuk Aufa. Abraham tahu Mama ingin Aufa terjamin. Hal itu lumrah untuk seorang ibu, Ma. Jadi Mama tak perlu merasa bersalah. Kita mulai dari awal," Kata Abraham yang membuat Aufa menatap bangga suaminya.
Dia melingkarkan tangannya di pinggang Abraham dan memeluknya.
"Mama merestui kan?"
Mama Bela tersenyum. Dia menganggukkan kepalanya dengan yakin.
"Untukmu, untuk kebahagiaan kamu, Mama merestui, Nak. Bahagialah selalu!" Kata Mama Bela dengan tulus.
Air mata Aufa mengalir. Dia melepas lingkaran tangannya lalu memeluk mamanya dengan erat. Perasaan dirinya bahagia.
Akhirnya mamanya merestui mereka. Akhirnya mamanya sadar akan kebahagiaan dirinya dan Abraham.
"Terima kasih banyak, Ma. Makasih udah mau menerimanya. Aufa sayang Mama," Kata Aufa dengan hati yang benar-benar bahagia.
Mama Bela mengangguk dia mengusap punggung anaknya. Hal ini membuat semua orang lupa. Lupa dengan keberadaan seorang gadis yang menunggu untuk masuk.
Dia akhirnya berjalan lebih dulu. Masuk dengan menyeret kopernya yang besar.
"Aku capek nungguin di luar. Huhu," Kata gadis itu membuat Aufa spontan melepaskan pelukannya.
Dia sangat mengenal suara ini. Dia sangat tahu siapa pemilik suara ini. Suara gadis yang selalu ada untuknya, selalu membantunya. Selalu mendukung dan menemaninya dulu.
"Mela!" Pekik Aufa dengan mata terbelalak.
__ADS_1
Dia menatap suaminya tak percaya. Namun, Abraham mengangguk seakan dia tahu apa yang ada dalam pikiran istrinya.
"Mel!"
"Aufa!"
Aufa berjalan dengan pelan. Dia mendekati sahabatnya dan akhirnya pelukan dua sahabat yang saling berjauhan itu kini kembali bertemu.
"Jahat banget kamu tinggalin aku. Jahat banget kamu gak kasih aku kabar!" Kata Mela dengan menangis di pelukan Aufa.
Aufa tersenyum. Dia mengusap punggung sahabatnya dan membiarkan sahabatnya itu mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Kamu benar-benar jahat sama aku. Menikah, tinggal di bengkel itu dan kebakaran tapi menutupi semuanya. Kamu gak anggap aku sahabat lagi, iya? Kamu gak anggap aku saudara, gitu."
Mela jujur merasa kesal, marah dan kecewa pada dirinya sendiri. Ketika Papa Akmal dan Mama Bela datang ke rumahnya dan mengajaknya ke New York.
Ditambah ketika kedua orang tua sahabatnya menceritakan semua yang terjadi pada Aufa. Mela merasa dibodohi. Mela merasa dirinya benar-benar seperti wanita gagu yang tak tahu apapun.
Dia seperti bukan sahabat yang tak tahu apapun tentang sahabatnya.
"Maafkan aku. Maafkan aku, Mel. Aku tak berniat untuk menutupi semuanya, Sayang. Aku hanya takut. Takut kalau kamu kaget dan marah sama aku."
Mela melepaskan pelukannya. "Kapan aku bisa marah sama kamu, hmm?"
Aufa tersenyum. "Kamu gak pernah marah!"
Aufa tersenyum. Dia bahagia bertemu dengan sahabatnya lagi. Mendengar cerewetnya Mela lagi di antara kedua telinganya.
"Makasih yah. Makasih selalu ngertiin aku. Makasih udah mau maafin aku. Makasih banyak."
"Kalau nangis gak usah ajak-ajak. Aku capek nangis terus karena kepikiran kamu!" Seru Mela lalu memeluk Aufa kembali.
Percakapan keduanya dan tingkah laku keduanya membuat Papa Akmal, Mama Bela, Abraham dan kedua orang tua Abraham yang baru saja datang mendekat terharu.
Mereka bangga dengan persahabatan keduanya.. Apalagi Almeera, persahabatan itu membuatnya ingat pada Adeeva dan Zelia.
"Sayang," Lirih Bara yang membuat Almeera mendongak.
"Aku jadi ingat mereka, Mas."
Bara mengangguk. Dia mengusap punggung istrinya agar Almeera tenang.
"Mari duduk! Selamat datang di rumah kami," Sapa Bara dengan sopan dan membuat pelukan Aufa dan Mela terlepas.
Almeera dan Mama Bela saling memelui satu dengan yang lain. Lalu Papa Akmal dan Bara tentu saling bersalaman dengan begitu hangat.
Semua orang perlahan pindah ke ruang tamu. Mereka duduk dengan tenang dan Abraham juga membantu istrinya untuk duduk.
__ADS_1
"Kamu sakit, Nak?" Tanya Mama Bela melihat putrinya yang sedikit pucat.
Aufa tersenyum. Dia menatap ke arah mertuanya dan bergantian ke arah sang suami yang tersenyum kepadanya.
"Aufa hamil, Ma. Aufa sedang hamil cucu Mama dan Papa!"
"Apa!" Mama Bela membelalak tak percaya.
Dia saling pandang dengan suaminya sebelum akhirnya Mama Bela memeluk suaminya dengan bahagia.
"Akhirnya kita akan mendapatkan cucu lagi, Pa. Cucu dari Aufa dan Abraham."
Mama Bela bahagia. Ya sangat amat bahagia. Dia bahagia karena putri keduanya ini sudah hamil. Entah kenapa hati ibu yang memiliki dua anak itu sempat khawatir saat putrinya belum mengabari dirinya tentang kehamilan.
"Iya, Ma. Mama akan dipanggil nenek lagi."
Akhirnya pertemuan itu begitu hangat. Semua keluarga merasa suka cita saling bercerita satu dengan yang lain. Saling bertemu dengan hangat, berbincang dengan akrab dan membuat dua keluarga itu terlihat begitu sangat amat akrab dan dekat.
Ya Almeera dan Bara yang perawakannya sangat amat sabar dan ramah membuat siapapun nyaman bertemu dengannya. Begitupun dengan Mama Bela dan Papa Akmal, keduanya benar-benar merasa senang dengan perlakuan keluarga besannya itu.
Mereka benar-benar merasa begitu dihargai disini. Begitu sangat amat diterima dengan baik.
"Apa putra Anda hanya Abraham saja, Tuan Bara?"
"Panggil saja Bara. Bukankah kita sebuah keluarga, bukan rekan bisnis," Kata Bara dengan ramah.
Papa Akmal tersenyum begitu malu. Jujur dia sangat tahu siapa besannya ini. Wajahnya terpampang jelas di majalah bisnis. Perusahaan milik besannya ini sudah ada di mana-mana dan membuat keduanya tentu merasa kecil disini.
"Aku dan istriku memiliki empat anak. Ada Abraham, lalu putriku yang kedua namanya Bia, sedang kuliah dan diam di asrama. Lalu ada si kembar adik Abraham dan Bia tinggal di kondominium juga dekat sekolah mereka."
Mama Bela dan Papa Akmal mengangguk.
"Kalau Aufa?"
"Aufa memiliki seorang kakak."
"Kenapa tak diajak?" Tanya Bara terkejut.
"Ada bayi kecil putri kakak Aufa. Jadi dia tak bisa ikut karena takut cucu kami menangis dan kelelahan."
Dibalik percakapan orang tua. Terdapat tatapan mata antara sahabat itu. Mela dan Aufa saling melirik dengan memberikan kode.
"Aku ingin bicara berdua denganmu," Kata Mela tanpa suara.
"Oke," Balas Aufa dengan mengacungkan jempolnya.
~Bersambung
__ADS_1