Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Firasat buruk


__ADS_3

...Seorang ibu memiliki ikatan batin yang kuat dengan anak-anaknya. Meski jarak membentang akan ada perasaan menyatu dan mengalir di hati ibu jika menyangkut keselamatan putra putrinya....


...~JBlack...


...****************...


Suara pecahan gelas yang begitu nyaring membuat semua orang yang ada di rumah segera berlari ke sumber suara. Semua orang benar-benar khawatir dengan seorang perempuan yang tak lagi muda terlihat menunduk.


"Ada apa, Sayang?"


"Ada pa, Bu?"


Tiga orang anaknya dan sang suami tercinta menyentuh wanita yang terlihat tegang itu. Mereka benar-benar tak tahu apa yang terjadi beberapa menit yang lalu.


"Sayang," Panggil Bara dan menyentuh lengannya hingga membuat Almeera tersadar dari lamunannya."Ada apa?"


"Abra, Mas. Abraham," Ucap Almeera dengan gemetar. "Hubungi Abraham, Mas. Perasaanku tak enak."


Almeera benar-benar meminta dengan sangat. Bahkan ibu dari empat orang anak itu mengatupkan tangannya ke depan. Memohon dan meminta pada suaminya untuk menghubungi putranya.


"Kumohon, Sayang. Aku keinget Abra," Pinta Almeera penuh permohonan.


Bara mengangguk. Dia perlahan merangkul istrinya dan mendudukkan di sofa.


"Tunggu disini yah," Kata Bara yang langsung berjalan untuk mengambil ponselnya.


Athalla dan Athaya mengelilingi ibu mereka. Kedua anak itu begitu khawatir dengan kondisi ibunya.


"Ibu minum yah," Ucap Bia sambil menyerahkan segelas air putih.


Almeera menerima gelas itu dan meminumnya dengan pelan. Dia benar-benar menenggak minuman itu sampai habis.


Bia mengusap punggung ibunya. Dia menatap wajah ibunya yang masih terlihat cantik meski tak lagi muda.


"Jangan terlalu dipikirkan, Bu. Ibu harus ingat dengan kesehatan, Ibu," Ujar Bia mengingatkan.


Dia mengecek tensi ibunya. Bia benar-benar menjaga ibunya dan merawat ibunya dengan baik.


"Ibu khawatir pada kakak kalian. Kakak kalian belum menelpon ayah dan ibu," Ucap Almeera dengan suaranya yang lembut.


Bia termenung. Sejujurnya dia juga mulai ada firasat. Entah kenapa dia menjadi khawatir dengan kondisi kakaknya. Bia selalu percaya dengan naluri ibunya.


Dulu saat dirinya jatuh dari motor. Ibunya juga merasakannya dan tahu akan kondisinya.


"Tunggu disini ya, Bu. Bia taruh alat tensi ini dulu," kata Bia pamit.

__ADS_1


Bia lekas berjalan ke arah kamarnya. Mengunci pintu kamar itu dan segera berlari ke arah ponselnya yang tergeletak di atas ranjang.


Bia lekas menggulirkan banyak nama kontaknya. Lalu dia lekas menghubungi kontak whatsapp kakak kandungnya.


"Angkat, Kak? Angkat!" Kata Bia dengan ketakutan yang besar.


Bagaimanapun mereka hidup bersama. Mereka saling ada dan menguatkan. Bia tak mau kehilangan atau dia tak mau terjadi sesuatu hal buruk pada kakaknya itu.


"Plis, Kak. Kemana kakak sih!" Seru Bia dengan khawatir.


Gadis cantik itu mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menggigit jarinya dengan tatapan wajah bingung.


Raut wajah takut dan khawatir mendominasi jadi satu. Dirinya benar-benar kepikiran. Kepikiran terjadi sesuatu dengan kakak dan kakak iparnya.


"Kak Bia! Kak!" Panggil suara Athaya dari depan pintu.


Bia terkejut. Dia lekas berlari dan membuka pintu kamar.


"Ada apa, Ay?" Panggil Bia dengan lembut.


"Ibu pingsan. Ayah membawanya ke rumah sakit," Ujar Athaya dengan pandangan takut.


Tubuh Bia menegang. Matanya berkaca-kaca tapi melihat wajah adiknya yang juga takut. Bia perlahan menarik tubuh Aya dan memeluknya.


"Percayalah. Ibu dan Kak Abra bakalan baik-baik aja," Kata Bia menenangkan.


"Kakak memakai jilbab dulu," Kata Bia berlari dan lekas masuk ke dalam kamar.


Dia tak bisa melakukan hal apapun lagi. Dirinya benar-benar hanya mampu berdoa dan berharap sekarang.


Dirinya hanya mampu mendoakan kakaknya dimanapun berada agar selamat. Yang terpenting sekarang, kondisi ibunya yang kembali drop karena ulah kakak kandungnya.


"Aku akan mencari tahu keadaan Kak Abra nanti melalui Kak Lia. Untuk sekarang, biarkan aku merawat ibu dulu."


***


Bukan hanya di New York yang dipenuhi ketegangan. Namun, di depan rumah dan bengkel Abraham. Sudah banyak orang memenuhi area sana. Banyak orang-orang yang membantu memadamkan api yang besar.


Bahkan mereka juga sudah menghubungi pemadam kebakaran karena memang kondisi apinya sangat amat besar dan menyebar kemana-mana.


"Aufa…Aufa. Putriku!" Pekik seorang perempuan dengan memakai baju tidur panjang terlihat berlari melewati kerumunan orang-orang.


"Dimana putriku. Dimana putriku sekarang?" Tanya seorang perempuan yang merupakan Mama Bela, ibu kandung Aufa.


"Pemilik bengkel dan istrinya ada di ambulans sana, Bu," Kata seorang warga.

__ADS_1


Mama Bela diikuti Papa Akmal di belakang lekas mendekati mobil ambulans yang berada disana.


Dua orang itu bisa melihat beberapa perawat terlihat sibuk disana.


"Awas awas!" Kata Mama Bela dengan khawatir. "Putriku. Putriku bagaimana kabar putriku?"


"Mama!" Kata Aufa dengan mencoba duduk.


Mama Bela lekas mendekati putrinya. Dia mengecek kondisi istrinya itu dari atas sampai bawah.


"Apa yang terluka, Sayang? Katakan pada Mama?" Tanya Mama Bela dengan khawatir.


Papa Akmal juga melihat kondisi putrinya.


"Mana suamimu?"


"Disana!" Tunjuk Aufa ke dalam ambulans. "Abraham gak sadar, Papa. Dia menyelamatkan Aufa. Membiarkan Aufa berbalut selimut basah dan membiarkan dirinya dalam kondisi berbahaya."


Aufa menangis. Dia takut ketika melihat dua perawat mulai memasang oksigen di hidungnya.


Abraham tak bergerak memang. Pria itu terlihat sangat amat buruk sekarang. Pikiran Aufa tentu khawatir bercampur menjadi satu.


"Abraham, Pa. Aufa tak mau kehilangannya," Kata Aufa menangis dipelukan papanya.


"Papa tahu, Nak. Papa yakin suamimu adalah pria kuat," Ujar Papa Akmal dengan mengusap punggung putrinya yang menangis histeris.


Sedangkan Mama Bela. Entah kenapa perasaan dirinya mulai luluh. Langkah kakinya perlahan berjalan mendekati sosok Abraham yang tengah ditangani oleh medis.


Bagaimanapun sikap dan tingkah Mama Bela. Dia tetaplah manusia biasa. Memiliki hati, simpati dan juga jiwa keibuan. Ada perasaan khawatir dan takut apalagi ketika dia mendengar cerita anaknya jika pria yang merupakan menantunya itu rela mengorbankan nyawanya untuk melindungi Abraham.


"Bagaimana kondisinya, Dokter!" Tanya Mama Bela tanpa diduga.


Dua perawat dan seorang dokter yang tengah menangani Abraham menoleh.


"Lengan pasien dan dahinya terluka. Kami juga memberikan oksigen agar paru-parunya bisa menghirup oksigen ini? " Jawab seorang dokter yang mulai melanjutkan penanganan.


Mama Bela menunduk. Dia menutup mulutnya saat melihat luka robekan di lengan menantunya itu. Tanpa diduga air matanya luruh. Apalagi ketika membayangkan seberapa banyak kesalahannya yang pernah ia lakukan pada menantunya itu.


"Aku ingin mendekati menantuku sebentar. Boleh?" Pinta Mama Bela pelan.


"Tentu, Nyonya. Silahkan. Kami juga akan membawa pasien ke rumah sakit," Ujar Dokter dan membuat Mama Bela lekas mendekati sosok menantunya.


Tangan itu pelan mengusap kepalanya. Dia mengusap kepala itu dengan begitu lembut.


"Lekas sembuh, Abra. Buktikan padaku bahwa kamu memang pantas untuk putriku."

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2