Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Rencana Makan Malam


__ADS_3

...Mungkin benar dimana ada pertemuan pasti ada perpisahan. Dimana ada berjumpanmaka harus siap dengan berpisah. Begitulah kehidupan akan ada yang datang dan pergi secara bergantian. Memulai dengan indah dan berakhir dengan sakit....


...~JBlack...


...****************...


Hari ini, hari dimana Abraham akan mengajak semua orang untuk makan malam bersama sekaligus dirinya akan berpamitan. Ya, dia benar-benar harus kembali secepatnya ke rumah lamanya di Indonesia. Dia harus membawa istri dan mertuanya. Dia juga akan menunggu apakah keluarganya akan ikut atau tidak.


Tanpa Abraham beritahu. Pria itu yakin jika ayahnya sudah mengetahui masalah ini. Pasti Ayah Bara juga mendengar kabar ini.


Jarum jam perlahan terus memutar. Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Semua orang mulai terbangun dari tidur siangnya. Begitupun dengan Abraham dan Aufa. Dua orang itu dengan perlahan bangun dari tidur siang mereka. .


Matanya terbuka dan bibirnya tersenyum melihat tingkah laku suaminya yang sangat amat menggemaskan. Abraham mencium perutnya dengan gemas yang membuat perasaan Aufa menghangat.


"Sayang, " Panggil Aufa yang membuat gerakan Abraham terhenti. "Aku mencintaimu."


Abraham terkekeh kecil. Dia hormat dengan tangan diletakkan di pelipis sebagai tanda siap untuk istrinya itu. Calon ayah satu anak ini benar-benar selalu membuat mood ibu hamil itu bahagia.


"Aku juga mencintaimu, Istriku!"


Abraham mencium dahi Aufa. Dia benar-benar melakukan semuanya itu dengan perasaan sayang. Entah kenapa dibalik semua yang terjadi pada keduanya. Baik Abraham maupun Aufa benar-benar melewati semuanya dengan ikhlas.

__ADS_1


"Aku akan turun! Aku akan bilang pada ibu bahwa kita akan makan malam diluar. Oke? "


"Oke."


Abraham turun dari ranjang. Lalu pria itu segera berjalan meninggalkan ruang kamar. Pria dengan kemiripan begitu sangat amat persis dengan ayahnya berjalan ke lantai dasar.


Dia mencari keberadaan Ibu Almeera atau Mama Bela untuk mengatakan keinginannya. Hingga akhirnya, benar saja bukan. Ibunya yang sangat menyayangi dirinya tengah berada di dapur.


Hal itu tentu membuat Abraham segera berjalan ke arah ruangan yang mulai dipenuhi beberapa pelayan yang sepertinya tengah membantu Ibu Almeera mengerjakan sesuatu.


"Ah, kamu sudah bangun? " Tanya Almeera pada putranya dengan ramah.


Mata pria itu menatap ke arah apa yang sedang dilakukan ibunya.


"Apa ibu mau menyiapkan makan malam?"


Kepala Almeera mengangguk. "Iya. Ibu mau siapin makan malam."


"Hmm, nanti kita makan di luar ya, Bu. Jadi Ibu jangan masak, " Kata Abraham Memberitahu.


"Eh." Ibu Almeera kebingungan.

__ADS_1


Dia menatap putranya dengan lekat seakan meminta penjelasan.


"Iya, Bu. Nanti malam kita makan di luar aja yah. Kita makan malam bersama."


"Kamu sudah diapain semuanya, Abra? "


"Belum, Bu. Tapi Abra bakalan telepon restoran tempat biasa kita, " Ujar Abraham menjelaskan dengan jujur.


"Baiklah. Kalau begitu ibu gak bakal masak. Kamu siapin aja semuanya, " Ungkap Almeera setuju.


"Oh makasih banyak, Bu. Makasih banyak! " Pekik Abraham dengan mencium pipi ibunya.


Almeera tersenyum. Semua putra putrinya benar-benar tak ada yang berubah. Baik dulu ataupun sekarang. Sikap manja dan kasih sayang mereka tetap sama.


Ketika mereka mencium Almeera. Menyayangi kedua orang tuanya. Sikap mereka masih tetap sama. Sikap tegas, bijaksana, galak, dan garang hanya akan terlihat ketika di luar.


Jika bersama orang tuanya. Masih akan tetap sama. Bak anak kecil yang selalu membutuhkan kasih sayang orang tua.


"Istrimu kemana, Abra? "


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2