
...Berada di dekat orang yang sangat mencintai kita, menyayangi kita dan selalu ada adalah berkah dalam hidup yang sangat amat membahagiakan....
...~Aufa Falisha...
...****************...
"Serius, Fa? Semi yang ngelakuin semuanya?" Tanya Mela tak percaya dengan mengedipkan kedua matanya berulang kali.
Kepala Aufa mengangguk dengan yakin. Saat ini keduanya memang tengah berada di taman belakang rumah keluarga Abraham. Keduanya keluar dari perbincangan orangtua dan memilih melipir sendiri kemari.
"Iya. Suamiku yang mengatakannya. Awalnya aku tak percaya tapi semua bukti suamiku berikan," Kata Aufa dengan pandangan benci di kedua matanya yang mampu di lihat jelas oleh Mela.
"Aku bener-bener benci banget sama Semi, Mel. Pengen nampar dia kalau kita ketemu," Lanjut Aufa dengan nafas menggebu-gebu.
Ibu hamil itu benar-benar menunjukkan bagaimana perasaannya sekarang. Rasanya memang tak ada lagi rasa kasihan pada Semi. Jujur awalnya Aufa ingin mengajak berteman saja. Namun, ternyata semua tingkah kebusukan itu terbongkar dan membuatnya bersyukur tak sempat mengatakan itu pada pria gila seperti Semi.
"Terus masalah ini! Suamimu! Kamu juga tak mengatakan semuanya, huh!" Kata Mela dengan melipat kedua tangannya di depan dada dan memutar bola matanya malas.
Aufa terkekeh. Dia mendekat ke arah Mela dan memeluknya dari samping.
"Maafin aku yah. Jujur bukan kamu aja yang kaget. Aku lebih kaget saat tau identitas suamiku sebenarnya," Kata Aufa membujuk. "Aku gak bilang ke kamu juga karena aku dinikahkan paksa kan. Mama Papaku menikahkan kami berdua dalam keadaan belum saling mencintai. Mangkanya aku gak mau bilang ke kamu karena aku benar-benar gak suka sama suamiku."
Mela masih diam. Dia mengalihkan pandangannya dengan bibir cemberut.
"Jangan ngambek. Yah yah. Beneran ih aku gak niat nyembunyiin apapun sama kamu."
Aufa mengatakan itu dengan suara lembut. Dia merayu dengan mengedipkan matanya berulang. Hal itu tentu membuat hati Mela luluh. Gadis itu selalu tak bisa marah dengan Aufa terlalu lama.
"Lain kali jangan gitu lagi! Aku pengen tau semua tentang kamu. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu terus aku gak tau. Oke?"
Kepala Aufa mengangguk. Dia memeluk sahabatnya dari samping dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan. Rasa bahagia, senang sekaligus rasa syukur.
Bersyukur memiliki suami seperti Abraham. Yang benar-benar begitu perhatian, menghargai dirinya dan menyayangi dirinya apa adanya. Dia bersyukur memiliki orang tua yang mau menerima keputusannya. Dia bersyukur memiliki sahabat yang selalu ada untuknya, selalu menemani dia dan mengerti dia.
"Makasih banyak. Makasih udah selalu jadi sahabat aku yang terbaik," Kata Aufa dengan suaranya yang menahan tangis.
Mela mengangguk. Dia membalas pelukan Auffa dengan lembut.
"Kalau nangis jangan ajak-ajak. Kamu selalu gitu!" Seru Mela dengan mata mulai berkaca-kaca.
Mereka melepas pelukannya. Tak lama tawa keluar dari bibir mereka saat air mata keluar dari mata keduanya.
"Emang kita kang cengeng banget kalau gini."
Kepala Aufa mengangguk. Dia menghapus air matanya bersamaan dengan air mata Mela.
"Sayang!" Panggil suara seseorang yang membuat kedua wanita itu menoleh.
Aufa tersenyum. Dia beranjak berdiri diikuti Mela saat Abraham berjalan mendekati keduanya.
"Ayo makan. Ibu sudah meminta kita datang ke meja makan!" Ajak Abraham sambil tersenyum dan menarik pinggang Aufa agar mendekat.
"Iya, Sayang. Tapi… " Aufa menjeda. Dia menatap ke arah sahabatnya yang mengedipkan salah satu matanya. "Kenalin. Ini Mela, Sayang. Sahabat aku."
Abraham mengalihkan pandangannya. Dia menatap bagian dagu Mela dan bersalaman dengan sahabat istrinya itu.
__ADS_1
"Hai, Mel. Semoga nyaman disini yah," Kata Abraham dengan ramah.
Mela tersenyum. Mereka lalu segera masuk ke dalam rumah karena pasti semua orang menunggu mereka.
***
Acara makan bersama itu berjalan dengan begitu kekeluargaan. Rasa saling menyapa, dekat, ramah dan menyayangi sangat amat terasa. Mela yang baru saja datang juga bisa merasakan bagaimana tentram nya keluarga suami sahabatnya itu.
Keramahan mereka, kebaikan mereka begitu tulus sampai membuat siapapun yang datang begitu nyaman dan tenang.
"Biar Ibu dan Bibi yang beresin, Nak," Kata Almeera saat acara makan itu selesai.
"Tapi, Bu. Ibu habis sakit. Aufa cuma bantu angkat piring, Bu," Kata Aufa membujuk.
"Kamu gak boleh banyak capek, Nak. Hamil muda itu rentan," Ujar Almeera menasehati.
"Hanya angkat piring, Bu. Setelah itu Aufa bakalan istirahat," Ujarnya yang membuat Almeera akhirnya mengangguk.
Setelah semuanya beres. Meja makan begitu bersih. Tiba-tiba sebuah lingkaran tangan di pinggang Aufa membuat ibu hamil itu terkejut.
"Sayang," Panggil Aufa menepuk pipi Abraham.
"Udah selesai?"
Aufa mencoba melepas tangan Abraham. Dia merasa malu disana bukan hanya ada mereka berdua. Melainkan ada bibi dan pelayan mertuanya yang berkeliaran
"Jangan gini. Malu tau!"
"Biarin! Aww!" Pekik Abraham melepaskan lingkaran tangannya di perut sangat istri saat tepukan di lengannya.
"Ibu!" Rengek Abraham yang membuat Almeera menggeleng.
"Cuma peluk aja, Bu."
"Tanpa kamu peluk, istri kamu gak bakal ilang. Dia bakalan disitu terus!"
"Dia mana bisa jauh, Bu. Peluk terus kemanapun!" Sindir Aufa yang membuat Abraham semakin tertawa.
"Biarin. Aku gak mau jauh sama kamu, Sayang."
"Gak ayah, gak anak sama aja. Sama-sama bucin!"
"Tapi ibu suka kamu sama Ayah?"
Almeera tersenyum. Dia lekas keluar dari saja. Namun, sebelum sampai di pintu penghubung antara dapur dan meja makan. Almeera menoleh.
"Pergilah ke kamar! Biar tamu ibu dan ayah yang temenin!"
"Ah ibu memang yang terbaik!"
Aufa mengerutkan keningnya. Dia curiga saat suaminya tersenyum.
"Kenapa senyum-senyum. Jangan-jangan…Akhh!"
Aufa melingkarkan tangannya di leher Abraham. Wanita itu memukul tangan suaminya yang benar gila.
__ADS_1
"Kamu yah! Kalau jatuh gimana?" Seru Aufa dengan kesal.
"Aku janji bakal jagain kamu. Jadi kamu percaya sama aku," Kata Abraham dengan pelan.
"Kita mau kemana?" tanya Aufa panik.
Abraham tersenyum misterius. Dia menundukkan kepalanya sampai wajah keduanya berdekatan.
"Ke kamar!" Bisik Abraham yang membuat bulu kuduk Aufa berdiri.
"Hah! Ngapain? Kita baru turun loh!"
"Aku ingin memakanmu."
"Apa!" Aufa terkejut. Dia memukul lengan suaminya hingga membuat Abraham mengaduh.
"Ini kita barusan keluar loh. Tadi juga kita kan sudah melakukannya," seru Aufa begitu kesal.
"Tapi aku ingin lagi, Sayang," rengek Abraham penuh harap.
"Terus yang lain?"
"Ibu tadi bilang kan? Kalau mereka yang akan tangani"
Akhirnya pagi itu. Sepasang suami istri itu menghabiskan waktunya di kamar. Keduanya seakan menikmati waktu kebersamaan tanpa hadirnya kedua anaknya. Entah kenapa tak ada rasa bosan dalam diri Abraham ketika bermanja dan menggauli istrinya.
Menurutnya, Aufa itu bagai candu untuknya. Ketika berjauhan dia akan merasa rindu padanya. Namun, ketika berdekatan, dia ingin terus bersama tanpa adanya jarak.
Nafas keduanya masih terengah-engah. Baik Abraham ataupun Aufa saling berlomba menghirup udara di sekitar mereka. Kegiatan yang baru saja selesai membuat tulang-tulang Aufa seakan remuk.
Entah kenapa baru satu ronde, Aufa merasa lelah. Bahkan dia merasa seperti melakukannya berulang kali. Padahal biasanya, walau sampai dua ronde, Aufa masih sanggup. Namun, sekarang, satu ronde saja membuat dirinya capek luar biasa.
Sepertinya karena dia hamil dan tadi pagi baru saja selesai melakukannya membuatnya merasa lelah.
"Maafin aku, Sayang. Kamu pasti capek banget, 'kan?" Kata Abraham saat melihat istrinya memejamkan mata.
Ibu muda yang tengah hamil itu mengusap wajah suaminya. Dia tersenyum saat melihat wajah Abraham yang khawatir padanya.
"Gapapa, Sayang. Aku baik-baik saja." Aufa berusaha membuka matanya.
Dia meyakinkan suaminya itu jika tak ada yang harus dikhawatirkan. Hingga saat dirinya kembali menutup mata, sebuah bayangan makanan terlintas di pikirannya dan membuat Aufa meneguk ludahnya.
Matanya dia buka dengan lebar. Rasa kantuk yang sempat menyerangnya seakan menghilang ketika dia membayangkan makanan itu sampai di lidahnya.
Dia harus makan itu. Sesuatu di dalam dirinya sangat menginginkannya.
"Sayang," panggil Aufa membuat Abraham yang hampir tidur spontan membuka matanya.
"Hmm," sahutnya dengan tangan mengelus kepala Aufa yang ada di atas dadanya.
"Aku ingin sesuatu," ucap Aufa dengan pelan.
Dia mengangkat kepalanya lalu menatap wajah suaminya yang hampir memejamkan matanya kembali.
"Ingin apa? Katakan, aku akan mengabulkannya selagi itu bisa," sahut Abraham dengan yakin
__ADS_1
"Aku ingin makan Nasi Padang."
~Bersambung