
...Mungkin aku tak mengenalnya dan sikapnya sangat amat menyebalkan. Namun, aku masih memiliki perasaan dan sadar bahwa apa yang aku lakukan sudah diluar batas....
...~Mela...
...****************...
Fort kesakitan. Ya dia bahkan sampai jatuh di lantai dengan memegang miliknya.
"Sakit," Rintihnya yang membuat sesuatu dalam hati Mela tersentil.
Namun, kepala Mela menggeleng. "Alesan ya kan! Itu gak sakit. Aku pelan doang tendang kamu!"
Apa yang dikatakan Mela tak didengar oleh Fort. Pria itu mengaduh sambil menunduk. Rintihan di bibirnya benar-benar nyata dan membuat Mela yang mulanya tak percaya mulai khawatir.
"Jangan main-main yah!"
"Ishhh!" Fort mendesis.
Dia tak akting. Mukanya sampai memerah dan hal itu membuat Mela spontan terduduk. Dia lekas memegang kedua lengan Fort dan menatap wajahnya.
"Sakit, Mel!" Rintihnya yang membuat Mela menelan ludahnya secara paksa.
Dia bingung. Dirinya kebingungan. Mela spontan beranjak berdiri. Mematikan kran air yang sejak tadi menyala lalu segera berlari ke depan.
"Aufa, Kak Abra. Tolong!" Teriaknya dengan kesetanan.
Suara teriakan itu tentu membuat semua orang mendengar. Apalagi Abraham dan Aufa yang ada di ruang tamu spontan mendekat.
Keduanya segera berlari ke arah dapur dengan Aufa yang berjalan dengan pelan.
"Ada apa, Mel?" Tanya Abraham mendekat.
Abraham menurunkan tubuhnya. Dia segera membantu temannya itu dan mengecek kondisinya.
"Mela gak sengaja tendang itunya dia, Kak. Mela kaget jadi Mela tendang."
"Apa!"
"Cepat panggil dokter aja, Nak," Kata Bara pada putranya.
Abraham dan Mela mulai membantu menegakkan tubuh Fort. Wajah Fort benar-benar terlihat sakit. Memerah dan juga pucat pasti.
"Bawa ke kamar, Nak. Biar Papa yang akan menghubungi dokter keluarga," Ujar Papa Bara yang terlihat sama khawatirnya.
__ADS_1
Mereka membawa Fort ke kamar tamu. Pria itu ditidurkan disana dan membuat Mela menggigit bibirnya khawatir. Dia ketakutan, bahkan jujur perasaan bersalah muncul dalam hatinya.
"Aku yakin Kak Fort baik-baik aja, Mel. Jangan tegang gitu," Kata Aufa mencoba menenangkan sahabatnya itu.
Mata yang sejak tadi menunduk. Mela yang sejak tadi terlihat gemeteran akhirnya mulai mendongak. Perempuan itu menatap ke arah sahabatnya dengan mata berkaca-kaca.
"Maafkan aku, Fa. Aku cuma takut. Aku juga gak sengaja karena tiba-tiba dia berdiri di belakangmu. Aku… "
"Aku paham," Kata Aufa lalu menarik sahabatnya itu kendalam pelukannya. "Aku paham kalau kamu gak sengaja."
Mela benar-benar menangis. Rasa takut, kecewa, bersalah menyatu dalam dirinya. Mela takut terjadi sesuatu pada Fort. Apalagi rintihan dan desisan dari bibirnya terdengar betul di kedua telinganya.
"Maafin Mela, Fa. Maaf," Kata Mela dengan serius pada sahabatnya itu.
***
Akhirnya dokter keluarga benar-benar datang. Dia mengecek kondisi Fort. Entah apa yang dokter itu berikan, suara kesakitan dari bibir Fort sudah tak terdengar.
Saat dokter itu keluar dari kamar tamu, kamar yang menjadi tempat Fort istirahat itu, dia lekas berhadapan dengan keluarga Abraham, keluarga Aufa, serta yang lain.
"Bagaimana kabarnya, Dok?" Tanya Abraham yang sejak tadi benar-benar tak bisa diam.
Fort adalah sahabat satu-satunya. Hanya Fort yang dia punya sejak kuliah sampai detik ini. Fort adalah salah satu sahabat yang selalu ada untuknya.
"Syukurlah semuanya aman. Semuanya baik-baik saja. Tak ada yang perlu dikhawatirkan," Kata dokter dengan pelan. "Tapi, tolong jika main-main jangan menendang bagian itu. Itu adalah hal fatal yang besar. Pasien bisa mengalami kematian jika tendangan itu terlalu keras dari tadi."
Jantung Mela seakan berhenti berdetak. Dia berdiri dibalik tubuh Aufa dengan tangan gemetar. Air matanya mengalir di kedua matanya. Dia ketakutan dan benar-benar takut.
Takut jika terjadi sesuatu pada Fort. Takut jika apa yang dia lakukan mencelakai orang lain. Namun, apa yang dia takutkan terjadi.
Karena dia, Fort terluka. Karena dia Fort harus terbaring lemah di atas ranjang.
"Pastikan pasien meminum obat dengan benar dan juga banyak istirahat. Anda bisa menghubungi saya jika terjadi sesuatu pada pasien," Kata dokter keluarga itu pada Abraham dan Bara.
"Baik, Dok. Terima kasih banyak. Terima kasih sudah sudah membantu dan menolong sahabat saya," Kata Abraham pada dokter tersebut dan mengalami tangannya.
Semua orang akhirnya bergantian masuk. Mengecek kondisi Fort yang terbaring lemah di atas ranjang. Hingga akhirnya terakhir. Sosok wanita yang menyesal akan perbuatannya. Wanita yang sejak tadi menunduk murung. Wanita yang benar-benar merasa takut dan khawatir.
Khawatir jika apa yang dia lakukan membahayakan Fort. Khawatir jika tingkahnya membuat nyawa seseorang melayang.
Dia akan menyesal dan sangat menyesal.
"Masuklah, Nak," Kata Ibu Almeera dengan mengusap kepalanya. "Fort menunggumu."
__ADS_1
Mela terlihat mengatur nafasnya. Dia mencoba tetap tenang lalu tak lama mulai mendorong pintu kamar tamu itu dan masuk. Disana, saat dia baru saja berbalik sambil menutup pintu.
Dia bisa melihat sosok Fort yang ingin duduk. Spontan hal itu membuat Mela lekas berlari mendekat.
"Hati-hati," Kata Mela dengan khawatir.
Dia memberikan bantal di belakang tubuh Fort agar punggung pria itu merasa nyaman.
"Enakan?"
Kepala Fort mengangguk. Mela perlahan duduk di tepi ranjang dengan Aura yang benar-benar canggung. Dia memegang ujung jarinya seakan untuk menutupi rasa takutnya.
"Maaf," Kata Mela dan Fort bersamaan.
Hal itu membuat kedua wajah itu saling pandang. Mela menatap mata Fort begitupun dengan pria yang wajahnya masih pucat tersebut.
"Aku yang harusnya minta maaf," Kata Mela dengan pelan. "Tak seharusnya aku menendangmu dan membuatmu kesakitan. Tak seharusnya aku berbuat seperti itu. Maafkan aku."
Entah kenapa perasaan Fort menjadi senang. Apalagi saat melihat tatapan mata Mela yang sedikit tak galak. Melihat tingkah wanita itu yang begitu lembut tak seperti sebelumnya.
Membuat Fort berpikir seakan musibah atau sakit yang dialami barusan membuat satu langkah untuk dirinya bergerak maju. Seakan otak lakiknya berjalan. Dia mampu dekat dan berbicara dengan tenang tanpa bantuan sahabatnya itu.
"Aku serius. Aku minta maaf padamu. Aku menyesal. Aku bahkan takut terjadi sesuatu sama kamu."
Baru kali ini Mela berbicara dengan tenang di hadapan seorang pria. Baru kali ini dia meminta maaf atas dasar dirinya sendiri.
Perempuan dengan kepala batu, egois dan benar-benar maunya sendiri membuat Mela jarang meminta maaf lebih dulu.
Kebanyakan Mela selalu menang sendiri. Dia tak mau menerima apa yang dia lakukan. Namun, untuk sekarang, Mela benar-benar mengalah.
Dia menyadari kesalahan benar-benar ada padanya dan membuat pria itu ikhlas dan rela meminta maaf.
"Kamu ingin dimaafkan?" Tanya Fort yang membuat Mela mengangguk.
"Tentu."
"Aku akan memaafkanmu jika…"
Fort menunda ucapannya. Hal itu tentu membuat Mela menunggu. Perempuan itu menatap Fort dengan sabar sambil menunggu kelanjutan ucapan pria itu padanya.
"Jika apa?" Tanya Mela yang tak sabaran.
"Kita berkenalan dari awal lagi dan kamu mau menjadi temanku," Kata Fort yang membuat Mela menaikkan salah satu alisnya.
__ADS_1
~Bersambung