Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Penyemangat Utama


__ADS_3

Hal yang paling menegangkan dalam hidup akan menjadi momen paling berharga yang tak mampu diulang kembali.


~Abraham Barraq Al-Kahfi


***


Suasana ruangan ini benar-benar menegangkan. Suara rintihan Aufa dan beberapa suster yang keluar masuk ke dalam ruangan selama Aufa dipindahkan ke ruangan khusus membuat suasana di dalam sana begitu ramai.


Semua hal itu tentu membuat Shaka juga ikut takut. Namun, saat dia merasakan tangannya menggenggam tangan dingin yang saat ini berjuang membuat Abraham bersemangat.


Membuat rasa panik itu dia telan sendiri. Membuat dirinya kuat seakan tameng disaat istrinya berjuang hidup dan mati.


"Kamu pasti bisa, Sayang. Aku yakin kamu bisa!" Ucap Abraham dengan menggenggam tangan istrinya.


Aufa mengangguk. Dia benar-benar merasa sangat amat bahagia. Disaat masa seperti ini, ternyata dia mampu melewati semuanya bersama sang suami.


Ternyata masa menegangkan. Masa sulit yang untuk pertama kalinya di lewati adalah momen terbaik yang akan dia ingat.


Meski jantungnya berdegup kencang. Meski dirinya takut dan gugup. Namun, melihat sosok pria di dekatnya ini begitu bersemangat untuknya. Membuat rasa sakit itu dia rasakan dengan pelan.


Sakit yang tiba-tiba datang. Sakit yang tiba-tiba hilang. Adalah masa dimana yang Aufa sangat amat menikmatinya.


"Kalau sakitnya datang, katakan padaku! Aku akan berbisik pada buah hati kita agar tak membuat mamanya sakit," Kata Abraham memberikan candaan yang membuat Aufa tertawa kecil.


Kata kecil penuh makna itu saja mampu membuat suasana didalam tak menegangkan untuk keduanya. Sesulit apapun masa yang akan mereka lewati tapi jika dilewati dengan berdua semuanya akan terasa mudah.

__ADS_1


"Dokter," Kata Abraham terkejut saat seorang wanita yang selama sembilan bulan dia lihat dan menjadi orang yang menangani istrinya itu datang.


"Bagaimana? Apa temponya masih lama?" Tanya Dokter dengan tersenyum pada Aufa yang mulai berkeringat.


"Temponya sudah sering, Dokter," Kata Suster menjawab dengan memperlihatkan hasil yang sudah dia lakukan pada Aufa.


"Bagus. Saya akan mengecek pembukaannya," Kata Dokter yang membuat suster mulai mengatur persiapan.


Abraham hanya diam. Dia tak melepaskan tangannya sedikitpun dari Aufa. Dia benar-benar tak mau berjauhan dari istrinya. Hingga apapun harus mereka lewati bersama.


"Pembukaan empat," Ucap dokter dengan mengacungkan jempolnya.


"Apa maksudnya, Dokter?" Kata Abraham bertanya.


Dokter mulai menjelaskan pembukaan itu pada Abraham. Calon ayah itu mendengar dengan seksama. Dia benar-benar menjadi calon ayah yang baik dan bertanggung jawab.


"Baik, Dokter."


Akhirnya dokter meninggalkan pasangan suami istri yang saling menguatkan itu. Abraham memilih duduk disamping ranjang. dia menatap ke arah istrinya yang memulai bergerak meminta duduk.


"Mau kemana?" Tanya Abraham dengan pelan.


"Aku ingin jalan di sekitar kamar ini, Sayang," Ucap Aufa yang membuat Abraham selalu merasa takjub dan takjub akan istrinya itu.


Aufa bukan lagi Aufa yang dulu. Tak ada Aufa yang manja dan egois. Tak ada lagi Aufa yang selalu merengek dan menghabiskan uang.

__ADS_1


Aufa sekarang adalah Aufa yang benar-benar memahami keadaan. Tak ada kata egois karena dia sudah banyak belajar akan kehidupan. Kehidupan yang dimulai semuanya dari nol dan membuatnya benar-benar tak semanja dulu.


Dia memulai semuanya dari awal. Dia memulai semuanya dari sosok suaminya sendiri.


"Semangat, Aufaku. Kamu pasti bisa?" Ucap Abraham sambil menaikkan kedua tangannya yang terkepal ke atas saat melihat istrinya mulai berjalan dengan pelan.


Abraham melihat dengan bangga. Sampai akhirnya suara pintu yang terbuka membuat gerakan Abraham terhenti.


"Bi," Panggil Abraham saat Bia muncul dari balik pintu. "Gimana?"


Bia mengacungkan jempolnya. "Semuanya aman!"


Abraham balas mengangguk. Dia meminta adiknya untuk duduk di sofa yang ada di ruangan itu.


"Bagaimana kata dokter, Bang?"


"Masih pembukaan empat katanya, Bi," Kata Abraham menjelaskan apa yang disampaikan oleh Dokter.


Bia mengangguk. Dia berjalan mendekat dan membantu memegang tangan kakak iparnya saat Aufa mencoba duduk di atas balon besar yang biasanya dipakai untuk duduk dan digerakkan seorang ibu hamil yang hendak melahirkan.


"Kak Aufa pasti bisa! Semangat!"


Aufa mengangguk. Dia membalas mengangkat tangannya dan tersenyum.


"Semangat!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2