
...Percayalah terkadang apa yang kita sembunyikan akan ada masa untuk diketahui semua orang. Namun, ada beberapa hal yang mungkin belum ditakdirkan untuk ditemukan oleh orang tapi suatu saat nanti akan ada masa yang tepat untuknya....
...~JBlack...
...***...
"Papa, kau!" Pekik Mama Semi dengan marah.
Papa Semi spontan membalikan kursi kerjanya. Dia berdiri dengan merapikan pakaiannya dan menatap ke arah istrinya yang terlihat terkejut.
"Mama!"
"Apa yang Papa lakukan?"
Papa Semi mengangkat ponselnya. Dia menunjukkan layarnya yang masih menyala dan membuat Mama Semi menyipitkan matanya.
Jujur perasaan wanita yang tak lagi muda itu memuncak. Jujur dia merasa takut. Dia merasa cemburu dan berfikir jika suara itu adalah suara suaminya berselingkuh.
Namun, ternyata dugaannya salah. Dugaannya ternyata terlalu berfikiran buruk pada suaminya.
"Ada apa, Ma? Mama berfikir Papa berselingkuh?" Tanya Papa Semi dengan melangkah mendekati posisi istrinya yang masih berdiri di dekat pintu ruangannya.
"Aku hanya takut. Aku takut jika Papa bermain nakal dengan orang kantor!"
Papa Semi menumpuk dadanya. "Aku tak akan selingkuh, Ma. Aku memiliki istri dan seorang putra yang sempurna. Hidupku sudah lengkap dengan adanya kalian!"
Mama Semi menarik senyumannya ke atas. Dia benar-benar merasa terlalu curiga dan membuatnya berpikir jika suara itu adalah suara suaminya berselingkuh.
"Maafin Mama ya, Pa. Mama terlalu berpikiran buruk pada Papa. Mama…"
"Usttt!" Papa Semu menggelengkan kepalanya. "Aku yakin Mama terlalu cinta sama Papa sampai takut jika Papa melakukan hal nakal. Papa suka Mama kayak gini. Jadi Papa tahu Mama masih mencintai Papa."
Mama Semi itu tersenyum. Dia mengusap dahi suaminya yang terlihat basah dan rambutnya yang sedikit berkeringat.
"Kenapa Papa terlihat capek banget. Ini keringetan juga dan rambut Papa sedikit berantakan?" Tanya Mama Semi yang membuat wajah Papa Semi terlihat berubah sedikit. "AC di ruangan Papa juga naik-baik aja,'kan?"
Terlihat Papa Semi menelan ludahnya paksa. Dia memutar otaknya dengan cepat. Dirinya tentu tak mau apa yang terjadi tadi olehnya ketahuan oleh sang istri.
"Mungkin efek Papa melihat video itu, Ma. Jadi Papa sedang ingin dan sekarang… . Ada Mama disini!"
__ADS_1
Tanpa diduga Papa Semi menggendong tubuh istrinya dan membuat Mama Semi melingkarkan tangannya di leher suaminya.
"Papa!" Kata Mama Semi dengan melotot kan matanya. "Ini di kantor, Pa."
"Ini kantorku, Sayang. Aku sudah sangat ingin," Kata Papa Semi dengan melirik ke arah pintu kamar mandi yang tertutup. "Karena ada Mama disini. Aku ingin berada di dalam Mama sekarang juga!"
Saat Mama Semi hendak menolak. Serangan itu sudah mendadak menyerangnya dan bersamaan dibukanya kamar pribadi Papa Semi dan di kuncinya pintu kamar itu secara langsung.
Tak lama, seorang wanita muncul dari pintu kamar mandi dengan bajunya yang sudah rapi. Nafasnya benar-benar naik turun dengan jantung berdebar kencang saat mengingat kejadian gila tadi di antara mereka.
Saat itu, sekretaris dan Papa Semi memang sedang bermain gila. Kedua orang itu sedang bercumbu mesra dan saling menumbuk antara satu dengan yang lain. Keduanya benar-benar tengah melakukan hal gila itu lagi tanpa takut.
"Akhh, Sayang. Yang keras!" Kata Papa Semi dengan memegang pinggul sekretarisnya itu yang tengah bermain di atasnya dengan begitu hebat.
Keduanya bermain dengan kondisi duduk di kursi kebesaran Papa Semi. Mereka benar-benar bermain gila sampai akhirnya suara bunyi lift yang terdengar dari perekam suara membuat keduanya menoleh.
"Istriku!" Pekik Papa Semi dengan terkejut.
Kedua manusia yang tengah berselingkuh itu spontan berdiri. Mereka benar-benar begitu terkejut.
"Kamu ke kamar mandi sekarang. Jangan keluar sebelum aku masuk ke kamar pribadiku. Oke?"
"Percaya padaku!"
Akhirnya nafas sekretaris itu lega. Dia segera menyelinap pergi dari ruangan itu dan keluar dengan jantung yang berdegup kencang.
Jujur ada gunanya juga Semi yang waktu itu bilang padanya untuk tak ceroboh. Akhirnya Papa Semi memasang perekam agar dia tau siapa saja yang datang di lantai ruangannya.
Dia benar-benar sangat licik. Dia tak mau kebusukannya di ketahui oleh siapapun. Dia tak mah kenakanalannya ketahuan oleh istrinya.
"Rasanya aku hampir mati jika ketahuan. Aku akan kehilangan pundi-pundi uangku jika itu terjadi!"
***
"Papa… Mama!" Pekik Aufa dengan mata melebar.
Saat wanita itu hendak berlari dari tangga yang sudah dia tapaki setengah tangga. Tangannya spontan ditarik oleh Abraham yang berada di sampingnya.
"Sayang!" Pekik Abraham dengan jantung yang berdebar kencang.
__ADS_1
Jantung Aufa juga berdegup kencang. Saat dia hampir terpeleset karena terlalu bahagia dengan apa yang dia lihat.
Sosok orang tuanya telah berdiri di ujung tangga dengan wajah bahagia. Sosok orang yang sangat dia rindukan kehadirannya. Sosok manusia yang sangat dia khawatirkan keadaannya.
"Maaf. Maafin Aufa, Sayang!"
Abraham menarik nafasnya begitu dalam. Dia hampir saja marah jika tak ingat sesuatu.
"Jangan ceroboh, oke? Ingat kamu sedang hamil. Kami harus hati-hati, Sayang. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita!"
Aufa menatap mata itu yang menatapnya lekat. Dia bisa melihat bagaimana khawatirnya ekspresi wajahnya Abraham kepadanya.
Aufa akhirnya mengangguk. Bagaimanapun dia juga peduli pada kandungannya. Dia juga sangat amat ingin menjaga calon anak mereka yang ada di perutnya.
"Aku akan lebih hati-hati, Sayang. Aku tak akan ceroboh lagi. Yah yah?" Aufa membujuk.
Dia tahu dirinya salah. Dia tahu dirinya ceroboh dan ibu hamil satu ini berjanji untuk lebih menjaga dirinya agar tak melakukan hal yang menurutnya sangat amat membahayakan dirinya dan sang buah hati.
"Ayo kita turun. Hadiah kamu sudah menunggunya, Sayang!" Ajak Abraham mengalihkan perhatian Aufa agar istrinya itu tak berpikiran lagi.
Aufa mengangguk. Kedua tangan itu saling berkaitan satu dengan yang lain. Langkah kaki mereka menuruni tangga sama-sama sampai akhrinya Aufa dan Abraham sampai di ujung tangga.
"Putriku," Sapa Mama Bela dengan mata berkaca-kaca.
Dia meregangkan kedua tangannya dan membuat Aufa langsung masuk ke dalam pelukannya. Ibu dan anak itu saling memeluk dengan perasaan rindu yang membuncah. Perasaan yang sudah lama sekali berpisah dan membuat saat saat seperti ini begitu berharga untuk keduanya.
"Mama," Lirih Aufa dengan suara mulai berat.
Mata wanita itu berkaca-kaca. Ah ibu hamil ini memang sangat sensitif dan membuatnya menangis tanpa diduga.
"Jangan menangis, Nak. Mama disini sama Papa."
Mama Bela benar-benar terlihat berbeda. Ya wajah wanita itu bahkan tak setegang dulu ketika melihat Abraham di dekatnya.
Wajah Mama Bela tak terlihat kebencian yang besar seperti sebelumnya. Bahkan tanpa diduga. Wanita itu menatap ke arah Abraham yang juga sedang menatapnya.
"Terima kasih. Terima kasih sudah menjaga putriku dengan baik, Abra."
~Bersambung
__ADS_1