
...Percayalah kedekatan dan perhatian yang terus kita berikan pada pasangan akan menjadi salah satu cara untuk terus saling mencintai dan menyayangi satu dengan yang lain....
...~Abraham Barraq Alkaahfi...
...****************...
Entah sudah berapa lama Aufa tertidur. Dia merasakan sesuatu bergerak di atas dadanya. Dia merasa ada sebuah benda basah yang tengah bermain di atasnya.
"Belum bangun, hmm?" bisik Abraham dengan suara beratnya.
Dia menggerakkan jari jemari miliknya dengan lihai. Dari mengusap dahi itu, lalu bergerak turun menuju hidung mancung yang selalu menjadi pandangan favoritnya sejak dulu.
Lalu dia kembali mengecup ujung gunung milik istrinya dan mencubitnya hingga membuat Aufa mulai sadar dari tidurnya.
"Siapa sih!" seru Aufa dengan menepis jari yang mengganggunya.
"Sayang!" panggil Abraham tak menyerah.
Dia mendekatkan wajahnya lalu mencium pipi mulus itu hingga membuat mata perempuan yang sejak tadi terpejam langsung terbuka lebar. Spontan mata perempuan itu menyipit. Dia mencoba mengumpulkan kesadaran dirinya yang masih belum terisi penuh.
"Kakak ngapain?" Tanya Aufa dengan pelan..
Matanya seakan dipaksa terbuka dengan tubuh yang bergetar karena jarak dengan sang suami begitu dekat.
"Aku sedang bermain dengan mainan kesukaanku," Jawab Abraham sambil menatap ke arah dua gunung yang telah terpampang nyata dengan beberapa cap merah disana.
"Apa!" Aufa sedikit berteriak.
Dia ikut menunduk. Dirinya baru menyadari jika piyama yang ia pakai telah terbuka lebar. Bahkan penutup gunungnya sudah terbuka dan membuat dia gunung indah miliknya terpampang jelas di depan mata Abraham yang menatapnya dengan lapar.
"Ini masih pagi, Sayang. Bagaimana jika… "
"Usttt." Abraham menutup mulut sang istri dengan jari telunjuknya.
Lalu kepalanya menggeleng pertanda dia tak mau membahas masalah apapun. Dirinya benar-benar ingin bersama istrinya pagi ini. Biarlah dia dianggap egois. Namun, entah kenapa dia ingin istrinya bersamanya.
"Bisakah pagi ini aku meminta hakku lagi, Sayang?" tanya Abraham meminta izin.
Bagaimanapun Abraham masih sadar. Dia masih tahu dan tak mau memaksa jika istrinya merasa lelah. Bagaimanapun dia ingin, bagaimanapun di benar-benar sangat ingin menjalani tubuh istri yang sangat dia cintai.
Abraham tak mau memaksa Aufa. Ya, apalagi mengingat ada calon anaknya yang tumbuh disana. Dia akan meminta dan menanyakan hal apapun agar istrinya selalu merasa tenang dan nyaman serta tak tertekan.
Pertanyaan sang suami di pagi ini. Entah kenapa membuat Aufa merasa dihargai. Wanita itu merasa begitu dicintai dan dihormati oleh suaminya sendiri. Terlepas dari dirinya yang mungkin lelah. Terlepas dari dirinya yang baru tidur beberapa jam. Namun, jujur melihat wajah suaminya membuat Aufa tak ikhlas dan tak bisa untuk menolak.
"Aku tak akan memaksa jika kamu tak mau, Sayang. Untukku, kenyamanan kamu yang terpenting."
Aufa masih diam. Matanya terus menatap mata sang suami dan berusaha menyelami isi di dalamnya. Dia bisa melihat pancaran cinta yang sejak dulu tak pernah berubah. Hingga dorongan dari mana, hati kecilnya berteriak agar memberikan yang terbaik malam ini untuk sang suami.
__ADS_1
"Jangan diam saja, Sayang! Aku…."
"Diam!" Aufa menyela.
Dia mendorong tubuh Abraham hingga pria itu terbaring di ranjang dan dirinya mengambil alih dengan berada di atas.
"Sa-yang," kata Abraham tergagap.
Dia menatap istrinya tak berkedip dengan mata terbelalak. Dia tak percaya jika Aufa bisa bertindak seperti ini. Jantungnya saja sampai berdegup kencang saat wajah itu mulai condong ke arahnya dengan tangan diletakkan di dada kekar miliknya.
"Kamu mau ini, hmm?" goda Aufa sambil menggerakkan jemari lentiknya di dada bidang itu.
Membuat pola-pola abstrak yang membuat pemiliknya menggeram dengan mata terpejam.
Aufa semakin berani, jari jemarinya bergerak seperti dua kaki berjalan dan semakin turun sampai pembatas celana panjang yang dikenakan oleh Abraham. Tangan Aufa yang lentik dengan nakal mulai menyelinap di celana yang dipakai oleh Abraham. Hal itu tentu dengan cepat Abraham mencengkram tangan sang istri hingga membuat gerakan tangan itu berhenti.
"Jangan menggodaku!" seru Abraham menggertakkan giginya.
Dirinya benar-benar tak bisa menahan. Namun, istrinya itu benar-benar lihai mempermainkannya.
"Bukankah sudah aku katakan untuk diam," seru Aufa dengan mata tajam menatap Abraham.
"Anggap saja ini sebagai imbalan karena semalam kamu sudah mencarikan kue untukku," Bisik Aufa dengan pelan lalu menjilat telinga Abraham sebentar.
Dia melepaskan tangan itu lalu meletakkannya di atas kepala Abraham.
"Apa!" Abraham menatap tak percaya.
"Deal? " Kata Aufa dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Jangan, Sayang!"
"Deal!"
"Nggak!"
"Nggak? Berarti pagi ini gak perlu?"
Ahhh dirinya tak mungkin mundur. Akhirnya Abraham menyerah. Dia menggenggam kedua tangannya agar tak terlepas dan membuat pagi indah ini berakhir.
Akhirnya kuasa kendali berada di tangan Aufa. Perempuan itu benar-benar balas dendam pada suaminya. Dia melepaskan kain panjang itu lalu berakhir dengan penutup terakhir yang menjaga sesuatu berharga di dalamnya.
Sesuatu yang sering dia lihat akhirnya bisa dijumpai kembali. Senjata yang benar-benar tepat sasaran hingga menghasilkan calon anak yang saat ini dia kandung.
Hingga suara laknat lolos dari bibir Abraham, saat senjata tajam itu dibersihkan dan dipijat begitu baik. Ini benar-benar gila dan memabukkan. Bahkan saat sesuatu itu semakin cepat, dirinya semakin berada di ambang batas
Dia tak bisa untuk diam. Akhirnya Abraham bergerak dengan cepat. Menggulingkan tubuh istrinya hingga perempuan itu tertidur tengkurap dengan senyum kepuasan di bibirnya. Aufa benar-benar bahagia melihat wajah suaminya begitu tersiksa.
__ADS_1
Sampai dia tak melihat ketika suaminya itu mulai berada di posisinya. Hingga saat Aufa masih mengatur nafasnya tiba-tiba,
"Sayang!" jerit Aufa sampai tubuhnya terdorong ke depan.
Dia merasa penuh bahkan sampai matanya terpejam. Dirinya benar-benar berada di nirwana paling atas. Ini begitu indah dan candu untuk mereka berdua.
Akhirnya pagi itu, keduanya sama-sama berusaha memberikan apa yang selama ini mereka inginkan. Keduanya tak memandang waktu yang terus berputar. Baik Aufa maupun Abraham, keduanya hanya ingin mengejar sesuatu yang begitu nikmat dan menggiurkan.
***
Waktu terus bergerak dengan cepat. Jika di luar sana orang-orang tengah melakukan sarapan pagi dengan tenang dan nyaman. Berbeda dengan dua sosok yang tengah bergulat di dalam kamar.
Ya baik Abraham maupun Aufa sepertinya sama-sama sedang ingin melakukan itu. Mereka melakukan dengan begitu bergairah dan bersemangat . Mereka sama-sama sedang mengejar kepuasan diri dengan saling menggerakkan tubuh mereka berlawanan.
Mereka benar-benar menghabiskan waktu dengan saling memberikan yang terbaik. Saling memuja, saling berbagi, saling memberi hingga pasangan mereka seakan melayang akan keindahan surga dunia.
Mereka masih berada di atas ranjang. Saling memacu cepat dengan peluh membasahi tubuh keduanya. Bahkan suara teriakan dan lenguhan Aufa begitu terdengar hingga semakin membuat Abraham ingin lanjut, lanjut dan lanjut.
"Apa kamu merasa puas, Sayang?" tanya Abra dengan mata terus menatap wajah istri yang berada di bawahnya.
Tubuh keduanya masih menyatu. Bahkan baik Aufa dan Abra saling menumbuk agar mereka kembali mencapai ambang batas yang sangat dinantikan.
"Kamu sungguh luar biasa, Sayang," sahut Aufa dengan nafas terengah-engah.
Kepalanya terlonjak keatas. Tubuhnya bergerak naik turun mengikuti irama yang dibuat suaminya itu. Pasangan suami istri itu benar-benar gila jika hanya berdua. Seakan tidak ada hari esok untuk kembali merajut cinta mereka di surga dunia yang diciptakan.
Merasa memiliki tenaga kembali. Aufa menggulingkan tubuh suaminya. Dia berada tepat di atas Abraham dengan kedua tangan pria itu mencengkram dua bongkahan bulat agar istrinya tak jatuh ke belakang.
Sepertinya mood ibu hamil ini begitu baik. Sepertinya ibu hamil tengah ingin mencapai kenikmatan itu lagi dan lagi.
"Bergeraklah dengan lihai, Sayang. Aku ingin bertemu dengan anak kita pagi ini," kata Abraham dengan wajah seksinya.
"Seperti kemauan, Suamiku."
Setelah mengatakan itu, tubuh Aufa mulai memposisikan dirinya. Dia bisa merasakan sesuatu benda yang bergerak begitu keras di dekat miliknya. Tanpa berkata, perlahan senjata itu mulai menyelinap masuk ke dalam miliknya yang begitu basah.
Dia mulai bergerak begitu teratur dengan tempo yang mulai cepat. Basahnya miliknya tentu semakin menciptakan alunan suara yang begitu mencandukan. Bahkan kedua bibir mereka saling mengeluarkan suara indah pertanda ini benar-benar luar biasa.
Tubuh Aufa benar-benar menari dengan lihai. Dia bergerak ke kanan, ke kiri. Lalu berganti ke depan dan belakang sampai ke atas dan kebawah yang membuat Abraham semakin gila. Pria itu bahkan sampai ikut bergerak hingga mereka hampir mencapai ambang batas.
"Aku hampir sampai, Sayang!"
"Aku juga!"
Ya pagi ini keduanya benar-benar melakukan hubungan suami istri tanpa lelah. Merasakan indahnya surga dunia tanpa memikirkan semua orang yang sedang sarapan bersama di depan sana.
~Bersambung
__ADS_1