
...Perhatian dan cinta yang luar biasa muncul dari dua orang yang saling mencintai dan menyayangi. ...
...~Aufa Falisha...
...****************...
Akhirnya setelah drama kaki bengkak tak selesai. Sampai keesokan paginya kaki Aufa masih bengkak. Abraham, pria yang sejak semalam gelisah mengajak istrinya untuk ke dokter.
Abraham benar-benar khawatir. Ya pria itu sangat amat memikirkan kondisi istrinya. Dia tak mau terjadi sesuatu pada Aufa dan bayinya karena perjalanan kemarin.
Dia akan menjadi orang pertama jika terjadi sesuatu pada keduanya. Abraham tak akan memaafkan dirinya sendiri jika itu sampai terjadi pada keduanya.
Kedatangan pasangan suami istri ke rumah sakit tempat keluarga Abraham bekerja sudah menjadi sorotan publik. Walau kedua wajah mereka memakai masker, tapi kewibawaan, pakaian dan pancaran mata indah dari keduanya begitu terlihat kentara.
Apalagi dengan kondisi Aufa yang duduk di kursi roda dengan Abraham yang mendorongnya lalu Almerra dan Bara serta orang tua Aufa yang ikut. Membuat beberapa karyawan yang ada disana tentu tahu jika rumah sakit ini adalah milik keluarga Almeera.
Beberapa sapaan tentu ditunjukkan pada keduanya. Salam hormat dan jabat tangan terjadi sejak tadi membuat Abraham menggeram dalam hati.
"Tenanglah, Nak! Kamu tahu kan?" Kata Almeera pelan yang membuat Abraham menghela nafas berat.
__ADS_1
"Abra tahu, Bu. Tapi Aufa?" Jeda Abraham dengan mengusap kepala istrinya. "Aku takut dia makin kecapekan."
Aufa tersenyum. Dia benar-benar merasa dicintai dengan begitu banyak. Tangan Aufa terangkat dan dia mengusap tangan Abraham..
"Aku udah duduk di kursi roda, Sayang. Gimana aku mau capek?"
Almeera terkekeh. Namun, apa yang dikatakan menantunya memang benar. Abraham yang posesif tak membiarkan dirinya berjalan sedikit. Suaminya itu benar-benar ingin dirinya duduk dengan tenang.
"Apa kabar, Nyonya Meera?" tanya wanita dengan pakaian dokter yang tersenyum hangat.
"Alhamdulillah. Baik, Dokter," Jawab Almeera dengan ramah. "Kami kesini ingin mengecek kandungan menantu saya."
"Baik," Jawab Dokter lalu mulai menatap ke arah Aufa. "Ada keluhan?"
"Kaki saya bengkak, Dokter," Jawab Aufa dengan pelan.
"Mari, Anda tidur dulu, Nona. Saya akan mengeceknya," Ujar Dokter sambil menunjukkan ranjang pasien.
Akhirnya Aufa berdiri dibantu oleh suaminya. Mereka berjalan ke arah ranjang lalu menidurkan Aufa dengan pelan. Abraham melakukan semua itu dengan lembut.
__ADS_1
Pria itu benar-benar mengistimewakan istrinya.
"Sudah siap, Dokter," Kata perawat yang membantu menutupi bagian bawah Aufa memakai selimut.
Dokter itu mengangguk. Dia mulai mengambil alat USG dan meletakkan di atas perutnya.
Dokter itu mulai menggerakkan alat itu di atas perut Aufa. Mencoba melihat keadaan sang calon buah hati yang mulai membesar di perut Aufa.
"Bagaimana, Dokter?" Tanya Abraham dengan pelan.
"Kandungan istri anda baik-baik saja, Tuan," Kata dokter sambil memutar alat di atas perut Aufa dengan pelan.
"Tapi kaki istri saya. Kenapa bisa bengkak?
" Ya karena hormon ibu hamil berbeda, Tuan. Saya yakin Nona hanya sedang stress saja dan capek."
"Nahh itu!" Kata Aufa dengan mengangkat tangannya. "Sayang jangan terlalu khawatir. Banyak yang sayang sama Aufa dan si bayi kok. Sayang juga disini itu sudah menjadi cukup soal pernikahan bersama bertiga."
"Aku hanya takut!"
__ADS_1
"Tuan tak perlu takut. Ini adalah hal yang wajar di setiap ibu hamil. Jika mereka terlalu lelah maka bisa saja kakinya bengkak."
~Bersambung