Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Pulang


__ADS_3

Percayalah banyak hal yang kadang membuat seseorang menutupi apa yang dia rasakan. Mereka berpikir terlalu banyak kata bukan menyelesaikan masalah tapi malah memperparah.


~JBlack


***


Abraham, mengusap kepala sang adik dengan lembut. Ini sudah seminggu Bia dirawat di rumah sakit. Tak ada yang tahu kabar apapun soal Bia. Baik Almeera, Bara dan Jonathan.


Atas perintah Bia. Abraham benar-benar menepati janjinya. Dia menyembunyikan semuanya. Menyembunyikan kejadian besar ini dari orang tuanya. Dia tak mau membuat adiknya membencinya.


Penyesalan karena kejadian kemarin saja begitu membuat dirinya terpukul. Apalagi harus menambah kemarahan Bia membuatnya tak mau hal itu terjadi.


"Lukamu sejak kecil terlalu banyak, Bi," Lirih Abraham sambil meneteskan air mata.


Luka di ujung bibir Bia dan lebam di dahinya mulai memudar. Namun, memudarnya luka itu tak membuat semuanya ikut sirna.


"Kamu terus berusaha menjadi gadis yang kuat," Tambah Abraham dengan tangan terus mengusap kepala adiknya.


Bia yang terusik tentu mulai membuka matanya. Pandangan pertama adalah dia melihat wajah kakaknya yang tengah menatapnya. Dia bisa melihat bekas usapan air mata di pipi abangnya.


"Abang ganggu kamu?" Tanya Abraham menghentikan gerakan tangannya.


Bia menggeleng. Dia meraih tangan Abraham dan mengusapnya.


"Kamu mau makan?" Tanya Abraham dengan lembut.

__ADS_1


Bia menggeleng. "Bia masih kenyang."


"Minum?"


"Nggak, Bang. Bia gak haus," Jawab Bia dengan pelan.


Abraham mengangguk. Dia mengangkat tangannya yang lain dan menggenggam tangan adiknya yang memegang tangannya tadi.


"Terima kasih ya, Bang," Kata Bia dengan pelan. "Makasih udah mau nurutin permintaan Bia."


Abraham menatap kedua mata adiknya. Mata yang biasa bersinar cerah kini terlihat satu. Tak ada kehidupan dan sinar yang cerah lagi. Seakan kesedihan dan luka itu telah memenuhi dirinya.


"Tapi Abang tetap akan laporin Semi. Abang… "


"Bia hanya tak mau masalah ini diketahui oleh keluarga kita. Terutama Ibu dan Ayah," Sela Bia dengan pelan.


Abraham terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia menganggukkan kepalanya. Mengiyakan permintaan adiknya. Permintaan yang berat dan juga besar dalam pundaknya.


"Bisa. Apapun yang Bia minta. Akan Abang lakuin," Jawab Abraham dengan pelan. "Yang terpenting. Bia Abang jangan berubah. Katakan apa yang Bia rasakan. Bia harus kembali menjadi Bia yang semula. Oke?"


Bia hanya terdiam. Dia tak menjawab tapi hanya menerima pelukan dari kakaknya dari samping. Abraham benar-benar hancur.


Adiknya telah berubah.


Bianya telah menjadi pribadi yang dingin.

__ADS_1


Tak ada lagi Bia yang dulu… Bia yang hangat dan begitu ceria.


***


"Jangan lupa bawa pasien ke psikiater, Tuan," Kata dokter dengan pelan di depan ruangan Bia.


"Baik, Dok."


"Pasien dibawa bukan karena dia kelainan mental. Hanya saja, agar apa yang pasien rasakan bisa diutarakan."


Abraham mengangguk. Dia menyalami dokter yang selama seminggu ini merawat adiknya.


"Terima kasih banyak, Dok."


"Sama-sama."


Setelah semuanya selesai. Akhirnya Abraham masuk ke dalam ruangan. Dia melihat istrinya telah selesai mengemasi pakaian Bia, dirinya dan Aufa ke dalam tas.


"Sudah siap, Sayang?" Tanya Abraham pada Aufa.


Calon ayah itu memeluk pinggang Aufa. Mengusap perut buncit itu dengan pelan.


"Halo anak Papa. Sehat-sehat yah," Bisik Abraham dengan wajahnya yang terlihat tak sabar menunggu calon anaknya lahir.


"Sudah, Sayang. Ayo kita pulang!" Ajak Aufa dengan pelan.

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2