
Orang yang sudah dibutakan oleh dendam maka dia mampu melakukan apapun yang ia anggap benar.
~JBlack
...****************...
Semi meletakkan pigura itu dengan tangan gemetar karena amarah. Dia mengedarkan pandangannya dan melihat ruangan yang temaram.
Dirinya benar-benar dipenuhi dengan amarah yang berkobar. Entah kenapa ruangan yang dipenuhi oleh foto bahagia, potret wanita yang ia cintai dengan pria yang merusak kebahagiaannya membuat dendam itu semakin melebar.
"Aku harus segera menyelesaikan ini!"
Semi memasuki sebuah kamar. Ya kamar yang sudah dia intai dari lama. Dirinya menatap kamar yang temaram dengan tangan mengeluarkan sapu tangan dari celananya.
Sapu tangan yang sudah dia siapkan untuk membuat Aufa pingsan dan akan dia bawa kabur dari rumah ini. Bibirnya menyunggingkan senyuman licik.
Semakin langkahnya mendekat. Dia melihat seorang wanita tertidur dengan tenang. Namun, keningnya berkerut saat dia melihat ada sesuatu yang mengusiknya.
Ada sesuatu yang berbeda dari perempuan yang sedang tertidur itu.
"Berjilbab?" Gumam Semi dalam hati.
__ADS_1
Dia menatap sekeliling. Dia sangat ingat jika ini kamar Aufa dengan suaminya itu.
"Siapa dia?" Gumam Semi dengan bingung.
Namun, dendam tetaplah dendam. Semi tak peduli siapa itu. Tapi yang pasti dia sudah ada disini. Dengan perlahan, Semi mulai menaiki ranjang. Tangannya membuka sapu tangan agar mudah dia gunakan.
Dan dengan sekali gerakan, akhirnya Semi mulai menutup hidung wanita itu dan membuat mata yang semula tertutup kini terbuka.
"Emmm emmm!" Kata Bia berusaha meminta lepas.
Semi baru menyadari satu hal. Meski ruangan ini temaram, dia bisa melihat kedua bola mata yang berbeda dengan milik Aufa.
Namun, pria itu tak peduli. Dia akan melihat siapa sosok wanita ini.
"Akhirnya!" Kata Semi lalu segera beralih dari ranjang.
Dia turun dan memasukkan sapu tangan itu ke dalam celananya lagi. Pria dengan bibir tersenyum lebar itu mulai menghidupkan saklar lampu dan membuat ruangan yang semula gelap kini terlihat terang.
"Kita lihat, siapa wanita ini!" Kata Semi dengan tersenyum miring.
Dia berjalan mendekat. Semi lekas membuka selimut dan menariknya hingga terjatuh. Pria itu perlahan memegang dagu Bia dan menariknya sedikit agar bisa melihat wajahnya dengan jelas.
__ADS_1
"Oh ****!" Kata Semi dengan mata yang berbinar cerah.
Pria itu tersenyum lebar. Tak menyangka jika umpannya malah lebih besar.
"Ini adalah umpan yang baik. Aku tak bisa mendapatkan Aufa tapi aku bisa menghancurkanmu dari adikmu yang sangat kau cintai ini!" Kata Semi dengan senyum licik.
Akhh pengintaian Semi tentu tak sia-sia. Dia mencari tahu tentang Abraham dan yang ia tahu memang tentang Bia. Mungkin juga karena Bia lah yang sering datang ke sini dan membuatnya tentu merasa bahagia.
"Aku akan membuatmu hancur melalui perempuan yang sangat kau sayangi ini!" Kata Semi lalu segera melakukan apa yang hendak dia lakukan.
"Apa yang bisa kau lakukan jika aku membuka jilbab adikmu ini?" Kata Semi lalu segera menarik kerudung itu hingga terlepas dari kepala Bia. "Adikmu cantik, bahkan lebih cantik dari Aufa."
Semi menurunkan tangannya. Dia mengusap pipi Aufa yang mulus dan mengelusnya.
"Lembut!"
"Aku harus mengikatmu agar tak berontak dan aku akan mengambil gambar seksimu ini untuk kakak tersayangmu itu!"
Semi lekas mengikat tangan dan kaki Bia. Dia bahkan melakukan itu dengan cepat. Sampai semuanya selesai. Semi mengusap tangannya dan menepuknya dengan pelan.
"Selesai dan sekarang, aku akan mengambil gambarnya!"
__ADS_1
~Bersambung