
...Entah kenapa ketika cinta membalut sebuah hati, aku hanya ingin melihatnya bahagia, membuatnya puas dan juga membahagiakannya....
...~Aufa Falisha...
...****************...
"Kenapa wajahmu mules begitu?" Tanya Mela saat melihat ekspresi sahabatnya berubah setelah memegang ponsel. "Ceritalah padaku, Fa. Kamu terlalu banyak menyimpan dan menyembunyikan sesuatu dariku sekarang!"
Terlihat Aufa meletakkan ponselnya ke dalam tas dengan wajah cemberut. Bibirnya terlihat manyun dengan tangan mulai memasukkan bukunya kembali ke dalam tas.
"Abraham tak bisa menjemputku. Dia lagi ada diluar," Kata Aufa dengan suara yang kesal.
Akhh entah kenapa mendengar jawaban sahabatnya membuat Mela mendapatkan ide baru. Dia lalu meletakkan tangannya di pundak Aufa dan menarik wanita itu agar lebih dekat dengannya.
"Kamu mau apa, Mel? Jan macem-macem yah!" Ancam Aufa dengan serius.
Aufa mengantisipasi dirinya. Dia yakin sahabatnya memiliki ide gila sekarang.
"Bagaimana kalau kita belanja? Sudah lama kita tak ngemall bareng, Fa?" Tawar Mela dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Tapi," Kata Aufa dengan bingung.
"Jangan menolak. Aku ingin pergi belanja denganmu," Ujar Mela menyela sebelum Aufa menjawab.
Wanita itu terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Dia mencoba berpikir dan berperang dengan isi kepalanya sendiri. Bagaimanapun saat ini dia bukan gadis perawan yang bisa jalan kemanapun dengan puas
Ada Abraham disisinya. Kemanapun dia, dirinya harus mendapatkan izin dari suaminya itu.
"Aku akan pamit pada Abraham dulu," Ujar Aufa mengambil ponselnya lagi dan mengetikkan sebuah pesan disana.
Entah kenapa Aufa tak mau terjadi salah paham karena pamit. Dia lebih baik pamit dulu sebelum berangkat. Dia juga takut membuat suaminya kepikiran padanya.
"Sudah?"
Aufa mengangguk. Dia sudah pamit meski chatnya belum dibalas. Setidaknya suaminya tahu bahwa dia pergi belanja dengan Mela.
"Ayo keluar! Aku udah engap dengan udara disini," Kata Mela berucap sombong.
Aufa hanya tertawa. Dia tak percaya jika sahabatnya bisa melakukan hal itu. Mengatakan hal yang biasa dia lakukan.
Malas atau tidak, dia akan bilang ruangan ini pengap dan panas. Apalagi ketika sudah merasa bosan. Keduanya rasanya ingin segera pergi dari sana.
"Ayo!"
__ADS_1
Akhirnya sepasang sahabat itu mulai keluar dari kelas. Keduanya berjalan bersama dan bercanda gurau. Tawa terdengar dari mulut keduanya sepanjang mereka melangkah dari kelas ke parkiran.
Banyak orang menatap keduanya. Namun, tak ada yang digubris oleh mereka. Sampai akhirnya sebuah langkah kaki berhenti di dekatnya membuat Aufa juga menghentikan langkahnya.
"Kau?" Semprot Aufa dengan tertahan.
Dia membelalakkan matanya tak percaya. Menatap wajah pria itu dengan masam.
"Hai, Fa. Apa kabar?" Tanya Semi dengan tak tahu malu.
Aufa benar-benar tak tahu harus apa. Namun, dia serius dengan kata-katanya. Dia tak mau siapapun mendekat. Terutama pria yang tak ia kenal dan pria yang ada di depannya sekarang.
Dia tak mau membuat suaminya kepikiran lagi. Tak mau membuat suaminya berpikiran yang tidak-tidak. Dia tak mau terjadi salah paham lagi untuk kesekian kalinya.
"Ayo kita pergi!" Ajak Aufa pada Mela.
Wanita itu tak mau mendengar apapun. Tapi yang pasti, masalah kemarin sudah menjadi salah satu alasan kenapa terjadi hal yang tak ingin dia inginkan.
"Fa!" Kata Semi menarik pergelangan tangannya. "Biarkan aku mengejarmu, Fa?"
Aufa menggeleng. "Aku sudah bilang. Jauhi aku, Sem. Aku sudah menikah dan suamiku ada disini!"
Setelah mengatakan itu, Aufa melepaskan tangannya dari tangan Semi. Dia menariknya dengan paksa. Tak peduli sakit atau tidak tapi yang pasti dia tak mau dipegang oleh siapapun.
Dia ingin menyadarkan Semi dengan kenyataan. Kenyataan jika dirinya sudah menikah. Kenyataan jika dia bukan wanita bebas lagi.
Aufa lekas pergi dari sana. Meninggalkan Semi yang masih berdiri dengan wajah memerah. Dia masuk ke dalam mobil dan menutup mobilnya sedikit kasar.
"Berangkat, Mel," Ajak Aufa pada sahabatnya.
Akhirnya Mela mulai menyalakan mesin mobil. Dia mengemudi dengan cepat sampai akhirnya lima belas menit mereka berkendara sampai akhirnya mobil yang membawa Aufa dan Mela mulai terparkir dengan indah disana. Keduanya segera turun dan memasuki area Mall yang menjadi tujuan mereka.
"Kau ingin beli apa, Aufa?"
Aufa terdiam. "Biasanya seorang istri belanjanya apa?"
Aufa benar-benar polos. Dia juga tak tahu apa yang akan terjadi padanya sebentar lagi.
Membeli ikan, sayuran dan buah. Dia sendiri tak bisa memasak. Tak tahu bahan apapun. Selama ini dia makan juga masakan bibi atau masakan saudaranya
"Terserah," Jawab Mela sekenanya.
Bagaimana dia bisa menjawab. Dirinya sendiri saja masih jomblo. Dia sendiri masih sendiri begini.
__ADS_1
"Kok terserah. Mel!" Kata Aufa memanggil.
Otak Aufa seperti kebingungan. Dia tak pernah ada di titik ini sebelumnya.
"Ahh!" Kata Mela mendapatkan ide. "Ayo kemari?"
Akhirnya Mela menarik tangan Aufa. Keduanya segera menatap sekitarnya sampai akhirnya mata Mela berbinar. Apa yang dia cari ada disana.
Mela lekas menarik tangan sahabatnya dan memasuki salah satu store disana.
"Selamat datang," Kata salah satu pegawai menyambut Aufa dan Mela.
"Terima kasih, Mbak," Kata Mela dengan sopan.
Aufa menatap sekitar. Dia mengerutkan keningnya melihat beberapa baju yang menurutnya sangat amat aneh.
Dia melangkah mendekat. Langkah kakinya semakin mendekati beberapa patung yang terlihat dibalut oleh kain terawang. Jantungnya berdegup kencang saat model baku itu mulai terlihat satu per satu olehnya.
"Ini… " Kata Aufa menyentuh salah satu baju disana dengan bergidik ngeri. "Ini baju apa, Mel?"
Aufa menatap semuanya. Dia baru sadar akan sesuatu. Baju-baju disini adalah baju yang menurutnya sangat amat gila. Kain tipis dan terawang lalu bentuk ********** yang sangat amat tipis dan kecil.
Mela tertawa terbahak. Dia menarik tangan sahabatnya dan mendekati salah satu baju disana.
"Ini baju untuk membahagiakan suami. Kau harus membelinya satu agar suamimu tak melirik wanita lain!" Ucap Mela sok tahu.
"Maksudmu?" Seru Aufa dengan serius.
Wanita itu juga polos. Dia sendiri tak tahu apapun. Tapi yang pasti, saat ini dia sangat tahu baju apa yang ada di depannya ini.
"Ya kalau kau semakin seksi, pandai memuaskan. suamimu tak akan berpaling," Ujar Mela dengan masuk akal. "Belilah baju ini dan pakailah untuk malam pengantinmu. Aku yakin suamimu akan semakin senang dengan gayamu ini."
Aufa menelan ludahnya paksa. Dia melihat dan berkeliling. Mencoba mencari pakaian yang menurutnya masih sangat pantas. Namun, buahnya tenang, jantungnya semakin berdebar saat dia melihat pakaian yang ketika dipakai sudah seperti telanjang.
Pakaian dinas pengantin yang benar-benar meresahkan.
"Kau yakin?" Tanya Aufa dengan serius. "Jangan bicara omong kosong!"
Mela memeluk dadanya dengan bangga. "Meski aku jomblo. Aku tahu pengalaman tentang hubungan suami istri."
"Lakukan saja yang terbaik. Buat suamimu bahagia Aufa. Dia akan bertekuk lutut denganmu dan tak akan berani macam-macam."
~Bersambung
__ADS_1