Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Chuross


__ADS_3

...Cinta mampu membuat seseorang mampu berusaha menuruti semua yang dia inginkan. Demi kebahagiaannya dan juga semua yang dia inginkan. ...


...~JBlack...


...****************...


"Yakin hanya itu saja?" Kata Mela dengan pandangan curiga.


"Ya. Aku ingin berkenalan dari awal lagi. Melupakan insiden tabrakan itu dan aku… " Kata Fort dengan menjeda dan membuat Mela benar-benar tak sabar. "Ingin berteman dan akur denganmu."


Mela mengangguk. Dia mengulurkan tangannya dengan baik sampai membuat Fort menatap tangan itu yang menggantung di depannya.


"Kenalin namaku, Mela. Aku orang Indonesia dan masih kuliah tapi tinggal skripsi," Kata Mela benar-benar mengenalkan dirinya.


Fort tersenyum. Entah kenapa dia seakan mendapatkan jackpot. Musibah yang ia alami seakan membuatnya dekat dengan Mela dan hal itu membuatnya senang.


"Hai, Mela. Aku Fort. Sudah lulus kuliah dan sekarang aku bekerja sebagai asisten Abraham sekaligus mengurus bar milik keluarga."


Tatapan kedua manusia itu saling bertemu. Senyuman Fort di bibirnya dengan begitu cerah entah kenapa mampu membuat bibir Mela ikut tersenyum.


Jalan cerita dua manusia ini yang benar-benar mampu membuat siapapun yang melihatnya akan tersenyum. Seakan perjumpaan mereka yang tanpa sengaja, pertengkaran dan juga saling marah membuat hubungan keduanya ternyata bisa sampai di detik ini.


"Senang berkenalan denganmu, Mela. Semoga bisa menjadi teman yang baik sampai jadi calon pacar yang baik buat kamu," Kata Fort dengan pedenya yang membuat Mela memukul lengan pria itu dengan malas.


"Modusmu udah pasar banget. Gak cocok buat aku yang gak suka dimodusin!"


***


Di tempat yang lain. Lebih tepatnya di sebuah kamar. Terlihat sepasang suami istri tengah tidur dengan nyaman bersama tangan sang suami yang mengelus perut istrinya dengan sayang.


Pasangan itu sedang membaringkan tubuhnya sejak tadi tanpa ingin memejamkan matanya. Keduanya seakan sedang mengistirahatkan tubuhnya sebentar. Kejadian yang terjadi di luar membuat keduanya sangat panik.


"Kamu yakin Mela bakalan akrab dengan Fort?" Tanya Abraham dengan pandangan yang tak yakin.


Jujur pria itu bukan memikirkan apa. Dia takut jika antara keduanya akur karena terpaksa.


"Aku yakin, Sayang. Mela memang kaku. Dia bahkan egois tapi dia juga bisa meminta maaf dan luluh karena kesalahannya sendiri," Kata Aufa dengan yakin. "Aku yakin mereka akan mulai akrab sebentar lagi."


Aufa terlihat bahagia. Dia benar-benar terlihat sangat senang.

__ADS_1


"Kenapa kamu seneng banget?"


"Kak Fort itu gimana sih, Sayang?" Tanya Aufa penasaran.


Abraham terdiam. Dia mulai meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya dan menatap ke langit-langit kamar.


"Dia playboy pada jamannya, Sayang," Kata Abraham dengan jujur. "Dia sering mengencani banyak wanita tapi… "


"Tapi apa?" Tanya Aufa dengan tak sabaran.


"Dia kencan ya hanya kencan. Membawa jalan, menghabiskan uang. Dia tak sampai tidur dengan wanita-wanita itu. Hanya membawanya jalan saja itu adalah tingkahnya."


"Terus?"


"Dia suka tebar pesona. Bahkan kalau kamu tau, jika ada tugas yang tak ia suka, maka ia akan meminta bantuan pada wanita wanita yang menyukainya."


"Menggunakan ketampanannya?" Tebak Aufa yang dijawab anggukan oleh Abraham.


"Tentu," Sahut Abraham dengan yakin. "Memangnya kenapa, Sayang?"


"Gak ada. Aku cuma berpikir bagaimana kalau mereka berdua berjodoh. Mela itu sama kayak aku, gak mau dekat sama cowok. Apalagi yang kayak papanya," Kata Aufa pelan dengan nada sedih.


"Kenapa, Sayang?"


"Mangkanya saat aku lihat Kak Fort orang yang hangat, mudah bercanda dan lembut. Aku berharap semoga dia bisa dekat dengan Mela. Aku ingin hidup sahabatku menjadi bahagia, Sayang."


"Kita do'akan yang terbaik untuk mereka yah. Kita tak bisa memaksa sebuah hati. Jika keduanya berjodoh, maka kita tinggal menunggu kabar baik."


Aufa mengangguk. Tak lama sebuah bunyi perut membuat Aufa dan Abraham saling tatapan. Dua orang itu langsung tertawa saat tahu siapa pemilik perut bunyi tersebut.


"Kamu lapar, Sayang?" Tanya Abraham setelah dia menahan tawanya yang sejak tadi tak bisa ia tahan.


Aufa, perempuan itu memiringkan tubuhnya hingga wajah Abraham bisa dia tatap dengan begitu dekatnya dan dengan puas.


"Iya. Anak kita lapar. Sejak tadi aku menahannya karena masalah ini," Ujar Aufa dengan jujur.


Ya apa yang dikatakan ibu hamil satu itu benar. Permasalahan ini membuat dirinya malas makan dan hampir lupa. Bahkan saat mereka memilih tiduran seakan mereka mencari ketenangan dengan tidur dan mengistirahatkan pikiran agar mampu berpikir dengan jernih. Rasa lapar itu ternyata tak mampu ditahan oleh Aufa.


"Baiklah. Aku akan melihat apakah di dapur sudah ada makanan untuk kamu dan bayi kita atau belum," Kata Abraham yang mulai bangun.

__ADS_1


"Sayang," Panggil Aufa sambil menarik tangan Abraham yang hendak beranjak dari ranjang.


Pria itu menoleh. Dia menatap Aufa yang masih merebahkan dirinya dengan tenang.


"Ada apa?"


"Aku ingin makan churros," Cicit Aufa yang membuat mata Abraham terbuka lebar.


"Mau apa, Sayang?" Tanya Abraham lagi yang terlihat seperti tak percaya dengan ucapan istrinya.


"Mau churros. Aku pingin banget makan itu," Cicitnya dengan perlahan dan mulai mendudukkan tubuhnya.


"Kamu ngidam?"


Kepala Aufa menggeleng. "Gak tau tapi dari tadi aku kepikiran sama churros. Kayak saus coklatnya itu bakalan enak banget dimakan di musim dingin kayak gini."


"Itu namanya kamu ngidam, Sayang," Kata Abraham dengan menangkup kedua pipi istrinya dan menciumnya. "Aku akan membelikannya untukmu. Aku akan mencari di beberapa cafe dekat sini."


Abraham terlihat bersemangat. Dia turun dari ranjang dan pergi ke kamar mandi. Tanpa mandi, pria tampan itu hanya mencuci wajahnya lalu segera berjalan ke arah lemari.


"Tunggu disini oke. Aku akan membelinya untukmu," Kata Abraham dengan memakai kaos miliknya.


"Aku gak mau beli. Aku mau kamu yang buat sendiri," Celetuk Aufa yang membuat pergerakan tangan pria itu terhenti.


Matanya membulat dan dia menoleh ke arah istrinya.


"Bikin sendiri?"


"Iya. Aku mau kamu bikin sendiri," Ujar Aufa yang membuat pria itu menelan ludahnya sendiri.


"Aku… "


"Gak bisa?" Sela Aufa dengan wajah yang mulai sedih. "Aku pengen banget padahal."


Akhh Abraham spontan berubah. Mata pria itu seakan menyala saat melihat wajah istrinya bersedih.


"Aku bisa, Sayang. Aku bisa membuatnya!" Ujar Abraham dengan semangat.


Percayalah meski dia tak pernah membuatnya. Dia tak mau membuat istri dan calon anaknya kecewa. Dia bisa belajar membuatnya dari ibunya nanti. Bukankah dia bisa memasak beberapa makanan ringan dan dia yakin untuk makanan ini pasti dia bisa membuatnya.

__ADS_1


"Aku akan membuatnya sekarang juga!"


~Bersambung


__ADS_2