Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Permintaan Resepsi Aufa


__ADS_3

...Percayalah apa yang menjadi tekad dalam hati. Apa yang menjadi kekuatan dalam perasaan sebuah cinta maka dia akan percaya bahwa apa yang dia punya sekarang akan benar-benar terjaga dan selamat....


...~JBlack...


...****************...


Seorang perempuan terlihat setia memegang tangan suaminya. Dia memegang tangan itu dengan erat. Air mata sejak tadi tak berhenti mengalir. Dia benar-benar takut terjadi sesuatu hal buruk pada suaminya.


Sudah dua hari dirinya terus berada disini. Duduk dengan tenang di samping suaminya yang masih nyaman memejamkan matanya. Melihat dan memandang wajah Abraham yang tenang serta tubuh yang diekspos karena luka di tangan dan dahinya.


Tangan Aufa bergerak. Dia menyentuh luka itu secara perlahan dan mengusapnya.


"Luka ini terjadi karena kamu melindungiku," Lirih Aufa dalam diam.


Dia mengusap dengan pelan lalu berganti memandang dahi suaminya yang diperban.


"Ini juga. Kamu rela terluka dan membahayakan nyawa kamu karena aku, Sayang. Aku benar-benar beruntung punya kamu. Suami yang menjagaku, menyayangiku dan perhatian padaku," Kata Aufa dengan pelan.


Gadis itu perlahan meletakkan kepalanya di tangan. Dia menelusupkan kepalanya di sana dengan pikiran yang membahana kesana kemari.


Pikirannya berputar. Berputar ke kejadian sejak awal pertemuan dirinya dan Abra. Pikirannya memutar. Memutar bakal kaset rusak seakan semua kejadian itu kembali nyata dalam otaknya.


Dia masih sangat apa yang sudah dia lakukan saat pernikahannya dulu.


"Aku gak mau, Kak. Gak mau!" Seru seorang perempuan dengan mencoba melepaskan tangan yang menariknya.


"Diam, Aufa! Lihatlah penampilanmu juga! Kau merusak gaun pernikahanmu," Seru seorang perempuan yang terlihat lebih tua dari perempuan yang memakai baju pengantin.


"Aku memang merusaknya! Aku tak sudi menikah dengan pria miskin. Pasti dia jelek, udik dan kumuh!" Umpat Aufa yang membuat Abraham spontan terdiam.


Hinaan itu tentu terdengar dan didengar oleh semua orang yang ada disana. Beberapa orang menjadi merasa kasihan pada sosok Abraham yang sejak tadi berwajah datar. Namun, tidak dengan Tuan Akmal.


Pria paruh baya itu berjalan dengan tegas menaiki tangga. Dia menyusul putrinya yang terlihat saling berdebat dan terus mengatakan hal hina dari bibirnya.


"Papa… "


"Ayo, Aufa. Suamimu sudah menunggumu!" Kata Tuan Akmal sambil memegang lengan putrinya dan menariknya.


Mata Abraham mulai fokus pada sosok perempuan dengan penampilan acak-acakan. Pernikahan yang biasanya identik dengan gaun yang bagus kini terlihat sangat amat berbeda.

__ADS_1


Gaun indah yang melekat di tubuh istrinya itu kini terdapat bekas gunting dimana-dimana. Robekan itu tak beraturan dan juga make up yang sudah tak rapi terlihat jelas disana.


"Kak," Lirih Bia dengan menyematkan tangannya di jemari kakaknya dan berdiri tepat di belakang Abraham.


Abraham menoleh. Dia tersenyum dan mengangguk menandakan bahwa dirinya baik-baik saja.


"Lihatlah suamimu, Aufa!" Kata Tuan Akmal pada putrinya yang menunduk.


"Aku gak mau, Pa. Aku sudah bisa menebak wajahnya seperti apa!" Kekeh Aufa dengan suaranya yang ketus.


Abraham hanya mampu melihat. Sampai saat papa mertuanya itu entah membisikkan apa. Perempuan dengan penampilan berantakan itu mulai mendongak secara perlahan.


"Aufa, ini Abraham. Suamimu," Kata Tuan Akmal mengenalkan.


Abraham terpaku. Dia menatap sepasang mata dengan bola mata berwarna coklat yang terlihat begitu menawan. Meski beberapa make upnya terlihat luntur, semua itu tak bisa menutupi wajah cantik dari wanita yang telah dinikahi beberapa menit yang lalu.


"Nak, ini istrimu. Aufa Falisha," Kata Tuan Akmal pada Abraham.


Setelah mengatakan itu. Aufa terlihat memalingkan wajahnya. Dia menegakkan tubuhnya dan menatap ke samping.


"Ayo. Cium tangan suamimu, Aufa!"


"Tapi, Pa…"


Aufa segera mengulurkan tangan. Abraham dengan pelan menyodorkan nya dan langsung diterima oleh Aufa dan diletakkan di pipinya.


"Aufa!"


"Ini udah saliman, Pa. Sama aja!" Seru Aufa yang langsung bergeser berdiri di dekat Papanya.


...****************...


Akhirnya acara tiap acara mulai berlangsung sampai selesai. Selama itu juga, Abraham tak mendapatkan perlakuan baik. Bahkan telinganya sudah ditebalkan sejak tadi semenjak keluarga besar Aufa datang mendekati mereka berdua.


"Kau yakin menikah dengan pria seperti ini Aufa?"


"Kau dari keluarga terpandang, Aufa. Lalu suamimu ini, kasta rendahan yang bermimpi menjadi pangeranmu!"


Kata-kata menyakitkan itu terus terdengar di telinga Abraham tapi tak ada yang dibalas sedikitpun. Dia seakan masih tetap tenang. Bahkan wajahnya tetap datar saat mengikuti langkah kaki istrinya kemanapun.

__ADS_1


"Aku mau ke kamar mandi. Gak usah ikut! Kamu diam disini!" Seru Aufa dengan nada mengancam.


"Aufa!" Panggil suara seorang pria dengan menepuk pundaknya yang membuat lamunannya buyar.


Wanita itu mengangkat kepalanya dan menatap sosok papanya yang berdiri di dekatnya.


Aufa menghapus air mata itu. Kenangan di masa lalu membuatnya ingin mengulang semua kejadian yang pernah terjadi antara dirinya dan Abraham. Kenangan di malam pernikahan itu rasanya Aufa ingin kembali lagi.


Pernikahan yang harusnya bahagia dan begitu hangat. Berubah menjadi lautan cacian dan hinaan untuk suaminya.


"Ayo makan. Kamu belum makan, Nak," Kata Papa Akmal pada putrinya.


Aufa terlihat menarik nafasnya begitu dalam. Wanita itu menggeleng sambil matanya berkaca-kaca.


"Aufa ingin Abra, Pa. Aufa ingin melihat Abra bangun," Ujar Aufa dengan menangis.


Papa Akmal tak tega. Dia lekas menarik putrinya dalam pelukan dan membiarkan anak keduanya itu menangis semakin jadi.


Sebagai seorang ayah dia sangat tahu dan paham bagaimana perasaan putrinya sekarang. Dia sangat yakin dan paham Aufa sekarang pasti menyesali semuanya. Menyesali kejadian di masa lalu.


Menyesali semua kenangan buruk yang terjadi antara dirinya dan sang suami.


"Jangan diingat, Nak. Jadikan masa lalu kamu dan Abra, sebagai sebuah pembelajaran," Kata Papa Akmal dengan pelan.


"Tak ada yang bisa merubah semuanya. Kamu, Abra ataupun Papa. Semua yang terjadi di masa lalu anggap saja pelajaran untuk menjadi sosok yang terbaik di masa depan," Lanjut Papa Akmal dengan begitu pengertian.


"Tapi, Pa," Sela Aufa dengan menghapus air matanya. "Aku benar-benar ingin menikah lagi, Pa. Bolehkan aku meminta resepsi pernikahan diadakan?"


Aufa serius meminta ini. Ya dia ingin mengadakan resepsi. Dia ingin membuat kenangan indah dengan pria yang sangat dia cintai.


Aufa ingin menghapus ingat di malam akad menjadi resepsi yang indah. Dia ingin membuat kenangan yang begitu menyenangkan dan penuh cinta dengan Abraham.


"Tentu. Papa setuju, Nak. Setelah Abraham sembuh. Papa akan menyiapkan semuanya," Ujar Papa Akmal yang membuat mata Aufa berbinar. "Tapi untuk sekarang. Kamu harus makan. Kamu harus punya tenaga untuk menjaga suamimu. Oke?"


"Oke, Papa."


"Papa tunggu di luar yah. Kamu pamit dulu sama Abra," Kata Papa Akmal lalu segera meninggalkan putri dan menantunya berdua.


Aufa akhirnya menoleh. Dia mengusap rambut suaminya dengan pelan dan perlahan.

__ADS_1


"Cepet sembuh suaminya Aufa. Nanti kita akan mengadakan resepsi bersama dan mengulang kenangan yang pahit menjadi lebih indah."


~Bersambung


__ADS_2