Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Bule Gila!


__ADS_3

...Percayalah pertemuan pertama adalah takdir untuk pertemuan selanjutnya. ...


...~JBlack...


...****************...


Mela menceritakan semuanya dengan gamblang. Dia sangat ingat betul pertemuan mereka. Pikirannya memutar. Berputar ke kejadian yang terjadi beberapa jam yang lalu yang terjadi padanya di depan market.


Tiba-tiba sebuah tabrakan keras di tubuhnya membuat kantong belanjaan dan ponselnya jatuh berserakan di lantai. Hal itu tentu membuat mata Fort mendongak, dia sedikit emosi saat melihat sosok wanita yang menabraknya.


Namun, bukan itu puncak masalahnya. Telinga Fort mendengar apa yang sedang wanita itu cibirkan dari bibirnya.


"Kalau jalan lihat-lihat dong. Mangkanya jangan main HP. Jadinya gini kan!" Seru wanita itu mengomel. "Dasar bule gila!"


Saat wanita itu itu hendak berjalan melanjutkan langkahnya. Fort lekas mencekal tangannya dan membuat langkah kaki wanita itu terhenti.


"Hey, Tuan. Lepaskan tanganmu dari tanganku!" Seru wanita itu dengan marah


Bukannya melepas. Fort semakin memegangnya dengan erat. Kedua kata Fort menatap sosok wanita itu dalam diam. Dia juga meraih ponsel yang jatuh ke lantai dan melihat sebuah panggilan masuk disana.


"Ya" Sahut Fort dengan mata yang menatap ke arah wanita itu.


"Lepasin!" Seru wanita itu dengan tertahan.


"Ustt!" Kata Fort tanpa suara.


"Ya. Ada apa?" Tanya Fort saat panggilan itu tersambung. "Gue udah selesai belanja. Entar lagi gue bakal langsung ke rumah Lo. Oke!"


Tanpa menunggu lagi dia mematikan panggilan itu. Menatap sosok wanita yang berusaha terlepas dari cengkramannya.


"Bukannya minta maaf kamu malah ngomel sendiri. Kamu kira aku tak paham apa yang kamu katakan!" Kata Fort dengan senyum miring di sudut buburnya yang membuat wanita menatap tak percaya.


"Kamu!"


"Kaget aku bisa bicara yang sama denganmu?" Kata Fort dengan meledek.


"Lepasin!"


"Aku gak bakal lepasin kamu sampai kamu bilang siapa namamu!" Kata Fort dengan percaya diri.


Perempuan itu memutar matanya malas. Dia benar-benar tak percaya jika pria di depannya ini malah menanyakan hal yang tak penting menurutnya.


"Untuk apa Anda menanyakan itu, Tuan. Itu privasi!" Seru perempuan itu dengan kesal.


"Sebagai permintaan maaf karena kamu sudah menabrakku!"


"Kalau aku tak mau?" Seru perempuan itu tak mau kalah.

__ADS_1


"Aku tak akan melepaskan tanganku ini!"


"Kau!" Umpat wanita itu dengan kesal.


"Katakan dulu namamu, maka aku akan memaafkanmu!"


Wanita itu terlihat begitu emosi. Wajahnya memerah dengan tangan mengepal. Fort sepertinya berhasil membuat wanita itu marah dan sebal.


"Katakan siapa namamu maka aku akan melepaskanmu!"


Wanita itu terlihat mulai tak tahan. Di menatap lekat kedua mata Fort dengan tajam.


"Namaku Mela. Puas!"


Bibirnya yang mengoceh jelas semua dia ungkapan. Apalagi ucapan dan tindakan Fort semua diungkapkan dan membuat Aufa.


"Awwww."


Aufa bertepuk tangan. Hal itu entah kenapa cerita sahabatnya membuatnya bahagia.


"Kenapa kamu bahagia banget? Gak ada yang lucu. Yang ada kesel kalau liat dia. Semoga gak ketemu lagi. Amit-amit!" Kata Mela dengan bergidik.


Ih jangan gitu. Ati-ati tau gak. Nanti kalau jodoh gimana hayoo?" Tanya Aufa dengan menaikkan alisnya.


"Jodoh apaan? Dia sama aku? Omegat gak dulu, Fa. Bule gila tebar pesona gitu. Gak mau gue!"


"Aku izin pakai dapur mertua kamu yah?"


"Pakai aja. Kamu mau bikin apa?"


"Salad," Sahut Mela sambil mulai membuka apel itu.


Aufa masih duduk diam tenang. Dia menatap belanjaan yang dibeli oleh sahabatnya itu.


"Jadi kamu gak bantuin belanjaan Kak Fort yang jatuh?" Tanya Aufa yang masih kepo.


"Ya nggak. Bodo amat! Siapa suruh dia gak lihat juga. Matanya dia kira ada di kaki gitu."


Aufa geleng-geleng kepala. Sebenarnya dia mengakui jika ia dan Mela adalah sebelas dua belas. Sifatnya sama kaku dan egois. Apalagi Mela yang sering ditinggal oleh orang tuanya membuatnya menjadi wanita yang benar-benar galak.


Mela juga selalu mengatakan pada dirinya bahwa dia ingin mencari suami yang tak seperti ayahnya. Dia tak mau suami yang memang bertanggung jawab akan nafkah. Rajin bekerja tapi pada anaknya.


Mela selalu ditinggal oleh pelayan. Dia besar dan ditemani oleh para pembantu di rumahnya.


Mama dan papanya akan pulang sebentar lalu pulang lagi. Uang jajannya juga tak pernah kurang tapi bukan itu yang Mela inginkan.


Mela ingin kasih sayang, Mela ingin waktu orang tuanya ada untuknya. Dia ingin kebersamaan mereka. Dia ingin keduanya selalu ada untuknya

__ADS_1


Bukan hanya bunyi transferan saja. Bukan hanya uang saja yang dikirimkan padanya.


"Tapi kamu juga salah loh yah. Kamu harusnya minta maaf," Kata Aufa dengan pelan.


"Bodo amat, Fa. Aku gak peduli. Serah dia. Dia juga centil banget. Pegang tangan aku! Bener bener bule gila, bule sinting. Banyak tebar pesona. Kesel kalau liat dia atuh!"


Aufa hampir memekik. Jika saja pria yang baru saja datang ke dapurnya menutup mulutnya. Dia meminta Aufa terdiam agar dirinya mendengar ocehan wanita yang masih sangat familiar dan ia kenal di telinganya.


"Kak Fort!" Lirih Aufa dengan pelan.


Aufa melirik ke arah sahabatnya. Mela masih fokus dengan apelnya tapi mulutnya juga tak berhenti mencaci maki Fort.


"Gapapa. Kamu ke depan dulu. Bisa?"


Aufa terdiam. Dia menelan ludahnya paksa sambil melirik ke arah sahabatnya yang masih mengoceh.


"Tapi sahabatku… "


"Gapapa. Kamu ke depan aja. Abraham panggil," Kata Fort pada istri sahabatnya itu dengan suaranya yang kecil.


"Oke!"


Akhirnya dengan sangat amat terpaksa. Dengan dirinya yang benar-benar terpaksa meninggalkan sahabatnya. Aufa berjalan ke depan. Meninggalkan Fort dan Mela berdua di dapur.


"Aku gak mau ketemu dia lagi, Fa. Usir aja dia dari rumah Kak Abra. Amit-amit mau ketemu laki model kasmaran begitu. Beneran gak masuk ke otak gue!"


"Yakin?" Bisik Fort yang membuat Mela terperanjat kaget.


Dia berbalik dan spontan mundur saat Fort sudah ada di belakang tubuhnya. Pria itu menatap tajam kedua bola mata Mela.


Meletakkan kedua tangannya di samping kanan kiri Mela. Menatap wanita itu dengan pandangannya yang menusuk.


"Mau apa kau?"


"Katakan sekali lagi bule gila atau…"


"Atau apa hah?" Seru Mela tak takut. "Apa lagi? Jangan macam-macam denganku!"


Aufa menatap Fort dengan tak kalah tajam. Dia meletakkan kedua tangan di depan dada seakan seperti pertahanan untuk melindungi dirinya.


"Aku akan mencium bibirmu ini!"


"Dalam mimpimu, Tuan!" Kata Mela lalu dengan sekali gerakan.


Dia menyikut milik Fort dengan kakinya. Menendang burung luar biasa itu hingga membuat pemiliknya mengadu.


"Mampus kan, Lo! Mangkanya jangan macam-macam atau rasain tendangan maut gue!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2