Rahasia Menantu Billionaire

Rahasia Menantu Billionaire
Taruhan


__ADS_3

...Percayalah cinta akan datang ketika satu sama lain saling mengenal. ...


...~JBlack...


...****************...


"Ya?"


"Kenapa diam terus? Kamu mikirin apa? Lihat kamu kalah kan?" Kata Mela dengan cerewet.


Fort baru menyadari sesuatu. Akh terlalu mulai menyukai Mela membuatnya lupa bahwa dia sedang bermain.


"Aku tak mau taruhan dengan tak sportif!" Kata Mela dengan menaikkan salah satu alisnya dan menepuk dadanya. "Ayo kita main lagi dan Fort! Kau harus fokus jika tak mau kalah dariku!"


"Kamu yakin mau main lagi? Kamu gak capek?" Tanay Fort pada Mela yang telriaht berkeringat.


Kepala Mela menggeleng. "Ini belum seberapa buat aku. Jadi ayo kita main dan jangan lupa, yang kalah traktir yang menang!"


"Kalahkan aku, Fort. Tapi sepertinya aku yang akan menang!" Kata Mela dengan percaya diri.


"Jangan berbangga dulu. Aku pasti akan mengalahkanmu!" Kata Fort dengan tak mau kalah.


Kedua orang itu seakan lupa dengan apa yang terjadi di antara mereka. Pertemuan yang harus berakhir dengan adu mulut, rasa canggung yang sejak tadi terjadi antara mereka berdua ternyata mampu terhempas hanya dengan permainan ini.


"Gak bakal bisa. Mela yang akan jadi pemenangnya!"


***


Canda tawa begitu terdengar di area wahana permainan itu. Tanpa Mela dan Fort sadari. Keduanya seakan seperti teman yang sudah kenal bertahun-tahun lamanya. Keduanya bukan seperti dua orang yang pernah berantem. Keduanya bukan seperti orang yang baru bertemu.


Mela yang terbuka. Suka berteman dengan siapapun. Tentu membuat siapapun yang mengenalnya menjadi nyaman dan tenang. Apalagi dia yang cerewet dan barbar membuat Fort yang pendiam menjadi ikut arus miliknya.


Abraham dan Aufa yang melihatnya tentu tersenyum bahagia. Setidaknya dia telah memberikan jalan. Jalan untuk keduanya saling mengenal. Dia tak tahu jodoh apa yang tertulis untuk keduanya. Takdir apa yang telah tuhan siapkan.


Namun, bukankah berharap dan berdoa adalah jalan ninja utama untuk saling menerima takdir apa yang telah tuhan siapkan. Aufa hanya ingin sahabatnya tak merasakan sakit hati lagi. Aufa ingin sahabatnya memiliki sandaran di setiap masalah yang dia hadapi.


Jujur selama ini meski dia sudah bahagia dengan Abraham. Dia selalu memikirkan nasib sahabatnya. Maka dari itu Aufa meminta orang tuanya membawa Mela kesini karena dia tahu pasti sahabatnya itu kesepian.

__ADS_1


"Yey, menang!" pekik Mela bertepuk tangan.


"Ayo main lagi! Aku tak mungkin kalah darimu," seru Fort yang terlihat lelah tapi dia merasa senang.


"Wah. Bagus. Ayo! Kau belum menyerah yah?" goda Mela dengan wajahnya yang antusias.


Mela memang anak yang aktif. Kedua wanita itu sebenarnya wanita yang aktif. Mela dan Aufa bisa menjadi dua wanita ekstrovert jika sudah nyaman dengan teman mainnya


Mela adalah wanita yang menyenangkan. Sikapnya yang terbuka pada siapapun. Tak memilih teman untuknya. Membuatnya dengan mudah berteman dengan orang lain. Mau itu lebih tua atau lebih muda. Semua orang suka dengannya.


Aufa hanya tersenyum melihat keduanya. Dia lekas menatap ke samping. Dia melihat suaminya yang berusaha mendapatkan boneka itu untuknya.


"Bisa, Sayang?" Tanya Aufa pada Abraham yang fokus dengan stik di depannya.


Abraham tak menjawab. Sampai akhirnya sebuah pekikan dari bibirnya dan kepalan tangan ke atas menandakan bahwa Abraham berhasil.


"Untukmu, Sayang!" Kata Abraham memberikan sebuah boneka panda pada istrinya.


Aufa menatap boneka itu dengan mata berbinar. Dia menerima boneka itu dengan antusias. Dia tak percaya jika perjuangan yang dilakukan oleh suaminya sejak tadi membawa hasil.


Ya sejak tadi Abraham berusaha. Dia bahkan entah berapa kali menggesekkan kartu bermain itu untuk mendapatkan boneka ini.


"Ini tak gratis!" Bisik Abraham dengan senyuman nakal yang membuat mata Aufa mendelik.


"Dasar otak mesum. Udah tau disini malah bahas hal-hal aneh!" Bisik Aufa dengan mata melotot ke arah suaminya itu.


Abraham hanya tertawa. Dia melingkarkan tangannya di pinggang sanga istri lalu tanpa kata mencium pipi Aufa yang membuat wanita itu hampir berteriak.


"Abra!"


"Ustt!" Abraham mengedipkan salah satu matanya dengan manja. "Disini New York, Sayang. Sudah biasa!"


Aufa memutar matanya malas. "Aku tau tapi lihat beberapa wanita melihat kamu itu!"


Abraham tersenyum. Bukannya kapok dan malu pria itu malah semakin mengeratkan lingkaran tangannya di pinggang sangat istri lalu berbisik tepat di telinga Aufa.


"Aku tak peduli pada mereka, Sayang. Dimataku hanya ada kamu dan calon anak kita!" Kata Abraham dengan serius sambil mengusap perut istrinya dengan sayang.

__ADS_1


Hati Aufa menghangat. Dia tak percaya melihat dan mendengar ucapan suaminya. Namun, apa yang Abraham lakukan selalu dia buktikan.


Pria itu tak pernah melihat kemanapun kecuali dirinya. Bahkan ketika jalan pria itu hanya akan menatap ke depan tanpa memikirkan lalu lalang manusia atau wanita cantik yang sedang menatapnya.


"Ayo kita ke Mela dan Fort, Sayang!" Ajak Aufa dengan semangat.


"Mereka dimana?" Tanya Abraham pada istrinya


"Itu! Mereka sedang bermain bersama," Kata Aufa yang membuat matanya mengikuti petunjuk tangan istrinya. "Aku tak yakin mereka tak akan bisa akrab. Tapi ternyata dugaanku salah, Sayang. Mereka bisa akrab secepat itu!"


Abraham tersenyum. Dia juga lihat kedekatan Fort dan Mela dari tempatnya berdiri. Pria itu benar-benar bisa melihat dua manusia itu bermain dengan bebas. Bahkan tawa dan candanya sangat terdengar jelas dari sini.


"Aku bahagia melihat Mela tertawa, Sayang. Aku bahkan berharap kalau mereka bisa saling mencintai. eh… "


Aufa menutup mulutnya. Dia tak percaya bibirnya keceplosan akan harapan untuk sahabatnya itu.


"Aku tau yang kamu maksud," kata Abraham dengan tersenyum. "Aku juga merestui Fort jika dia ingin mendekati Mela."


Aufa menatap Abraham tak percaya. Dia menatap kedua mata itu mencoba mencari pembenaran. Anggukan kepala dari suaminya membuat Aufa mulai percaya. Percaya bahwa suaminya mendukung sahabatnya itu mendekati sahabatnya.


"Fort orang baik. Aku yakin dia bisa menjaga dan mejadi sandaran Mela, Sayang. Aku yakin dia bisa menjadi sosok yang baik untuk sahabatmu," lanjut Abraham dengan jujur.


Apa yang dikatakan oleh Abraham benar. Apa yang pria itu katakan benar menurut Aufa. Aufa sendiri juga berharap. Berharap jika kisah mereka berdua. Kisah antara sahabatnya dan sahabat suaminya akan berakhir bahagia.


"Semoga mereka berjodoh ya, Sayang. Aku berharap cinta mereka kuat dan menyusul kita."


***


Di tempat dua orang yang sama-sama aktif itu. Keduanya sudah pindah tempat. Mereka berdiri di balik mesin permainan bola basket. Dua orang itu saling pindah karena baju mereka sudah berkeringat. Apalagi skor keduanya sama yang membuat Mela dan Fort berpindah mencari tempat yang lain untuk dijadikan taruhan.


Tatapan Mela dan Fort saling beradu pandang dengan mereka yang saling memajukan tangan kanan mereka untuk bertos ria.


"Siapa yang kalah, maka…" jeda Fort pada Mela.


"Dia traktir lawannya yang menang!" Lanjut Mela dengan begitu percaya dirinya.


"Oke!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2