Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
ke panti


__ADS_3

umi dan Abi sudah bersiap hari ini hari libu mereka akan berkunjung ke panti asuhan di mana mereka sebagai donatur di panti tersebut. Faras dan Najwa pun sudah bersiap hari ini mereka akan ikut berkunjung. Pergi dengan pakai satu mobil bersama dengan Faras sebagai sopir, Abi duduk di sebelah Faras sedangkan Najwa dan umi duduk di belakangnya. Mobil sudah penuh dengan bawaan, oleh-olehnya makanan ringan untuk anak-anak. Setiap bulan sebagian penghasilan dari perusahaan mereka sedekah kan di panti. Keluarga Faras memang dari dulu seorang dermawan, banyak sekali uang yang mereka sedekah kan dari mulai berdirinya panti ini.


Ada seseorang berlari menghampiri Faras seorang anak berumur sekitar lima tahun, anak itu memeluk Faras terlihat senang dan bahagia Faras menjenguk.


" Hay jagoan apa kabar". tanya Faras ia mensejajarkan diri nya dengan anak kecil itu.


" aku baik om, sangat baik hanya saja aku rindu dengan om". anak kecil itu terlihat begitu menyayangi Faras.


" hebat jagoan om". kalau rindu kenapa tak telpon.


" oh ya om ini Tante yang om bilang bidadari cantik itu, wah ...Tante sangat cantik. om selalu cerita dengan ku jika ia memiliki bidadari cantik yang selalu menemani nya". ucap jeko nama anak itu, Najwa tersenyum ia gemas.


" iya sayang ini bidadari om yang sangat cantik dia calon bidadari surga". jeko senang ia menarik tangan Faras juga Najwa untuk memberitahu mainannya.


" ini mainanku, mobil-mobilan pemberian dari om. masih baguskan". Faras mengusap kepala jeko ada perasaan miris dalam hatinya. namun jeko adalah anak yang sangat ceria, sudah beberapa kali ada yang ingin mengadopsi nya namun ia tak mau, jeko lebih senang tinggal di panti.


" jeko mau mainan lagi". tanya Faras ia sudah membawa beberapa mainan di mobil namun untuk jeko Faras selalu memberi nya yang spesial.


" hmmm... ini sudah cukup om, aku tak bisa membayar semuanya". ucap jeko dengan sikap lucunya.


" om hanya minta bayaran jeko menambah lebih banyak lagi hafalan". jeko menoleh ke wajah Faras melihat keseriusan Faras, Najwa masih terkekeh melihat sikap jeko.


" berapa surat yang harus ku hafal untuk membayar semuanya". jeko sangat pandai sekali bernego.


" yang penting konsisten terus menghafal saja, banyak atau tidak bukan masalah". ucap Faras ia mengajukan kelingkingnya tanda kesepakatan dengan jeko.


" benarkah om, oke Dil jeko setuju". Faras kemudian memeluk jeko, di panti ini hanya satu anak yang bisa menarik perhatian Faras. hatinya sudah terpaut oleh dia.


" jeko, Tante punya penawaran, kalau di tambah dengan panggil om dan Tante dengan sebutan umi dan Abi mau". Faras menoleh ke arah Najwa ia tak menyangka jika Najwa akan berkata seperti itu. Najwa yang tau ia di perhatikan Faras kemudian mengusap lengan suaminya.


" Tante mau kasih hadiah jeko apa". tanya jeko ia pasti bernego lagi, Faras dan Najwa tertawa.


" jeko mau apa". tanya Najwa ia mensejajarkan dirinya dengan jeko.

__ADS_1


" es krim". jawab jeko dengan polosnya.


" hanya es krim yang lain". jeko menggeleng.


" okey Dil". najwa juga menautkan kelingkingnya di kelingking jeko.


" yah Dil tante, kata ibu panti saat kita melakukan kesepakatan harus di tepati tak boleh di ingkari.". jelas jeko dengan mengarah pada kelingkingnya yang masih bertaut dengan kelingking Najwa.


" Tante tak akan mengingkari insyaallah, akan Tante kirim es krim setiap Minggu nya untuk jeko ". jeko berlonjak-lonjak senang, penawaran yang cukup baik.


Faras merangkul bahu Najwa, mereka melihat jeko yang begitu senang. kemudian jeko mengajak keliling panti dan bertemu dengan anak yang lain. Najwa terkejut melihat seseorang yang ia kenal, sedang bermain bersama anak-anak.


" jeko kamu tau siapa dia". tanya Najwa sembari mengarahkan telunjuknya ke orang itu.


" dia kak Zahra, setiap Minggu ke sini membacakan dongeng dan mengajari kami mengaji".


" naik apa kak Zahra ke sini". jeko menunjuk sepeda yang bersender di pohon mangga samping gedung panti.


" kak zahra sangat baik, selalu mengajari kami. hampir setiap hari Minggu kak zahra ke sini". Najwa tersenyum, Zahra benar-benar wanita yang baik.


sedangkan umi dan Abi Faras menemui kepala panti untuk memberikan beberapa kebutuhan yang di bawa.


" Zahra kamu di sini". tanya Najwa mendekati Zahra yang sedang bermain bersama anak-anak. Zahra menoleh ke asal suara yang memanggil namanya.


" ibu, MasyaAlloh ibu Najwa ada di sini". Zahra mengakhiri bermain dengan anak-anak kemudian menemui ibu dan Salim.


" iya ibu ikut mertua ibu dan suami ibu ke sini". ucap Najwa berjalan duduk di tepi teras panti dan di ikuti oleh Zahra.


" senang bisa bertemu ibu di sini".


" kamu sering ke sini ya Zahra". tanya Najwa menegaskan dari cerita yang di dengar dari jeko.


" jika hari Minggu zahra tak ke sekolah, lalu Zahra ke sini bermain bersama anak-anak". jelas Zahra.

__ADS_1


" kamu mulia sekali Zahra, apalagi bisa menyempatkan datang ke panti ini".


" Zahra hanya bermain saja kak kesini tak ada yang bisa Zahra lakuin selain mengajak mereka bermain". Zahra menyunggingkan senyumnya yang manis, gadis remaja itu adalah murid di sekolah Najwa yang beberapa hari Najwa beri pakaian bekasnya.


' sungguh mulia sekali hatimu Zahra,' batin Najwa melihat kepolosan Zahra.


" sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan balasannya adalah pahala yang besar, selagi kita bisa dan mampu lakukanlah. kebaikan tidak hanya dengan materi, seluruh ilmu yang kamu berikan kepada mereka menjadi amal jariyah untuk mu. ibu sangat senang mendengarnya zahra". ucap Najwa sembari menatap ke arah depan.


" insyaAlloh ibu hanya ini yang bisa Zahra lakukan".


" kamu naik apa ke sini". tanya Najwa, sebenarnya ia sudah tau dari jeko tadi yang sedikit cerita tentang Zahra.


" naik sepeda Bu, Alhamdulillah dari pada harus jalan bisa putus kaki Zahra". Zahra terkekeh di ikuti Najwa.


Jarak antara rumah Zahra dan panti lumayan jauh sekitar lima kilometer, jika di lalui dengan berjalan itu akan bisa membuat kaki bengkak. untung saja masih ada sepeda Zahra setiap Minggu masih bisa sampai di sini.


" semangat mu luar biasa Zahra ibu senang".


" saya belajar dari ibu saya, kiyai dan ibu Najwa. setiap nasihat kalian jika Zahra bisa akan Zahra lakukan, doakan zshra bisa selalu Istiqomah ya Bu,".


" aamiin pasti akan ibu doakan selalu untuk mu agar tetap sehat dan selalu Istiqomah".


" aamiin, terimakasih ibu".


," sama-sama, jika ada sesuatu jangan sungkan bilang sama ibu".


" terimakasih ibu, ibu sudah terlalu banyak membantu Zahra juga keluarga Zahra.


Keduanya tersenyum dan melanjutkan bermain bersama anak-anak, saatnya mendongeng Najwa ikut di dalamnya. Najwa senang melihat zahra, anak yang luar biasa baginya.


___


bersambung

__ADS_1


tinggalkan jejak like kakak.


__ADS_2