
Sudah satu Minggu pak Zainal ayahnya Zahra di rawat di rumah sakit kini sudah di perbolehkan pulang. Kondisinya sudah stabil hanya saja belum bisa jalan karena bekas luka nya yang dulu terkena pukulan saat jatuh. Pak Zainal harus memakai kursi roda, satu beban lagi bagi keluarga Zahra namun mereka tak pernah mengeluh meski banyak sekali rintangan yang mereka hadapi. Zahra sudah berangkat sekolah tiga hari yang lalu.
" Zahra,,," panggil Najwa yang melihat Zahra melintas. Zahra berhenti berjalan dan mencari arah suara di mana berasal.
" oh ibu maaf Zahra berjalannya agak cepat".
" kenapa cepat-cepat belum juga masuk". ucap Najwa kini kelas itu Najwa yang akan mengajar.
" supaya tidak terlambat dan saya harus belajar dulu beberapa hari tidak berangkat Zahra ketinggalan pelajaran" ucap Zahra sembari menyalami gurunya itu.
" bagaimana keadaan abimu".
" Alhamdulillah Bu sudah lebih membaik, semuanya berkat ibu. Zahra dan keluarga banyak terimakasih".
" bukan ibu tapi Allah, Ia yang memberi kemudahan. Syukur Alhamdulillah jika sudah membaik". ucap Najwa.
" tapi Abi belum bisa berjalan masih menggunakan kursi roda"
" iya pelan-pelan mungkin memang masa pemulihan, kita doakan saja dan beri dukungan untuk Abi penyemangat agar lebih sehat". Zahra mengangguk kemudian mereka masuk menuju kelas.
_
_
Najwa berencana untuk pergi menemui Zaskia dokter pribadinya saat ini, ia izin untuk tidak masuk ke madrasah. Najwa seperti biasa di antar oleh Faras ke madrasah namun Najwa bilang mau ke rumah orang tua nya dulu , Faras menurunkan Najwa di rumah orang tua nya. Setelah Najwa tau mobil suami nya terlihat jauh ia berjalan ke depan mencari taksi, Najwa sudah membuat janji kepada Zaskia.
" Gimana keadaan mu Najwa sudah siap untuk kemoterapi". tanya Zaskia.
" nanti ya mba saat ini belum". ucap Najwa.
" terus mau kapan Najwa sebaiknya kamu lakukan pemeriksaan lagi sampai mana penyakit mu sekarang ini sudah satu tahun kamu juga belum melakukan pengobatan lebih dalam". Najwa hanya tersenyum saja.
" obat ini cukup mba, Najwa ngga merasakan sakit lagi". ucap Najwa.
__ADS_1
" ini hanya pengobatan yang tidak bisa mematikan kanker mu Najwa, ayo lebih cepat lebih baik". ucap Zaskia.
Najwa tak lama berada di rumah sakit setelah ia menerima obat yang di resepkan oleh Zaskia ia pamit untuk pulang. Najwa langsung pulang menuju rumah orang tua nya sebelum makan siang, di setiap makan siang Faras selalu menelepon nya.
" Dari mana nak". tanya umma yang tau Najwa turun dari taksi.
" dari ketemu teman ma "
" ngga di antar Faras". tanya umma biasanya Najwa selalu sama Faras jika pergi, kalau sendiri Najwa hanya naik motor nya membuat ibunya curiga.
" tadi di antar mas Faras ma sekarang mas Faras langsung ke kantor". Najwa menyunggingkan senyum untuk ibunya agar ibunya tak banyak bertanya Najwa membalikkan keadaan menanyakan segala sesuatu. hingga umma lupa dengan apa yang tadi di pikirkan.
___
Madrasah Aliyah tempat di mana Zahra mengenyam pendidikan hari ini di lakukan ujian Akhir sekolah. Zahra belajar dengan giat ia hanya ingin nilai terbaik untuk ujiannya. memberikan hadiah terindah untuk kedua orang tuanya. Setelah lulus Zahra berniat akan bekerja untuk membantu orang tuanya, Abi nya sudah tidak bisa bekerja lagi karena harus duduk di kursi roda. Kini yang menjadi tulang punggung keluarga adalah umi, di setiap pagi umi menjajakan jajanan keliling dan sore hari seperti biasa akan mangkal untuk berjualan.
Najwa dari pagi merasa badannya tidak enak ia harus mengawasi ujian hari ini namun Najwa tak bicara dengan Faras, suaminya pun tak tahu jika Najwa sakit pagi tadi Najwa terlihat biasa saja. Jam kedua ujian Najwa terlihat sangat pucat, tiba-tiba ia pingsan saat ujian telah usai semua guru panik melihat Najwa.
" Bu Najwa " teriak salah satu pengawas yang mengawasi kelas itu. semua guru berjalan ke arah Najwa, Najwa hanya di bawa ke ruang UKS saja.
" kami tidak ada yang memiliki nomor suaminya". ucap guru BK saat itu.
" mungkin Jihan punya no suaminya mereka kan sahabat".
Jihan yang masih melayani pembeli ia langsung menuju ke madrasah ia meminta agar membawa Najwa ke rumah sakit. karena memang hanya Jihan yang tau penyakit Najwa. Untung saja Zaskia dinas hari itu, Zahra ikut ke rumah sakit juga karena ujian telah selesai.
" Bu Najwa sakit apa mba Jihan". tanya Zahra kemudian terlihat tadi Jihan benar-benar panik.
" tidak apa-apa mungkin dia kelelahan, gimana ujiannya Zahra". tanya balik Jihan hanya ingin mengalihkan pembicaraan.
" Alhamdulillah berjalan dengan baik mba, berkat Bu Najwa memberikan pengarahan saat ujian kami semua murid bisa dengan mudah tanpa hambatan mengerjakannya.". Jihan lalu tersenyum.
Zaskia masih dalam pemeriksaan kini ia tak sendiri Zaskia memanggil dokter arif spesialis ahli kanker. Dokter arif menghela nafas kasar ia memijat pelipisnya, Zaskia yang tau mesti yakin bahwa Najwa tidak baik-baik saja.
__ADS_1
" apa pasien masih ngotot tak mau kemoterapi". tanya dokter arif.
" iya dok selama ini hanya mengkonsumsi obat yang saya resepkan"
" kamu tau ini sudah mengarah ke stadium 4 meski belum menyebar ke beberapa titik namun ini membahayakan, pasien tak akan hidup lebih dari dua tahun. Itu hanya diagnosa saya sebagai dokter". ucap dokter arif lagi masih memeriksa najwa dengan alatnya.
" lalu apa yang akan kita lakukan dok,"
" jika pasien tak mau kemoterapi lakukan pengobatan dengan resep yang saya beri ini, mudah-mudahan membantu".
" baik dok". kemudian dokter arif keluar kini Najwa yang sudah sadar sebenarnya mendengar apa yang dokter katakan.
" sudah sadar Najwa". tanya Zaskia yang kini sedang memeriksa infusan Zakia.
" siapa yang membawa saya ke sini mba". tanya Najwa ia tidak ingin ada yang tau penyakit Najwa yang sebenarnya.
" tapi teman mu juga yang membawamu kemari dan ada satu muridmu juga ikut". ucap Zaskia.
" mba jangan katakan sama siapapun mba." Zaskia mengerutkan keningnya kenapa Najwa kekeh tak mau melibatkan siapapun.
" Najwa lebih baik kamu cepat lakukan kemoterapi". saran Zaskia sejak lama.
" mba kemoterapi apa menjanjikan saya sembuh". tanya Najwa.
" ikhtiar Najwa kita tidak boleh menyerah meskipun kemoterapi tidak menjanjikan tapi kita tidak boleh pesimis, optimis lah untuk sembuh".
" Untuk saat ini Najwa tidak mau kemo dulu mba sebelum tujuan Najwa tercapai"
" memang apa tujuanmu, kamu sudah punya segalanya suami yang baik, harta yang banyak. anak-anak panti yang menyayangi mu kamu mau apa lagi Najwa".
" aku ingin anak dari darah daging mas Faras".
___
__ADS_1
bersambung