
Zahra belum bisa melupakan Najwa, setiap malam setiap kali ia melihat foto Najwa ia akan menangis. ingin menahannya namun Zahra tak bisa, Najwa sangat berarti dalam kehidupan nya. Kini di dunia Faras menjadi Zahra seutuhnya itu yang membuat Zahra semakin bersalah. Faras melihat Zahra setiap malam selalu begitu, ia pun tak bisa menghentikan tangisnya.
Sebenarnya Faras juga merasakan hal yang sama, masih perih di dalam hatinya namun Faras setiap hari belajar untuk ikhlas seperti yang kiyai Umar katakan mertuanya. Faras menarik Najwa ke dalam pelukannya semakin erat dan semakin hangat.
" menangis boleh tapi jangan berlarut gini sayang, kasihan Najwa yang melihat mu di sana". ucap Faras masih memeluk Zahra.
" mba Najwa orang yang sangat baik mas, aku tak bisa melupakan nya". Zahra sembari terisak.
" tak akan ada yang akan melupakan Najwa sayang, hanya kita jangan terlalu bersedih begini. Di dunia ini semua akan tiba pada masanya, meninggalkan atau di tinggalkan hanya saja waktu yang berbeda. kita masih di beri kesempatan untuk merawat anak-anak kita menjadi anak yang Soleh. sudah ya jangan nangis terus, kapan kita akan mendaftar kan Rafa ke sekolah. Usianya sudah cukup untuk masuk taman kanak-kanak." Zahra tersenyum benar ternyata Rafa kini sudah besar ia akan masuk ke sekolah.
" mas kapan ada waktu tak sibuk di kantor". Faras berfikir dengan jadwalnya.
" Besok insyaAlloh mas tak begitu sibuk, kalau hari ini mas ada pertemuan dengan klien nanti jam 10 dan sehabis makan siang". Faras membenarkan jilbab istri nya yang sebenarnya tidak bermasalah.
" ya sudah ini sudah siang mas berangkat sana tak baik jika terlambat". Zahra membenarkan dasi dan jas suaminya.
" aku tak akan tenang berangkat ke kantor jika masih melihat istri ku sedih begini, jangan terus bersedih sayang nanti jika stres terus adik Rafa dan Fathan tak akan cepat launching". Faras terkekeh melihat wajah Zahra merona seperti tomat, kini mereka selalu bersama tak akan ia bagi dengan yang lain lagi. jika dulu Najwa tak meminta untuk menikahi Zahra, Faras juga tak akan pernah membagi cintanya. namun takdir berkata lain itulah yang harus mereka jalani, hidup dalam satu atap dengan dua istri.
Faras dan Zahra berjalan turun ke bawah, Faras menggemgam tangan istrinya sangat erat. di lihatnya Rafa dan Fathan sudah menunggu di bawah untuk sarapan pagi. mereka tersenyum senang bertemu orang tua nya di pagi hari.
" selamat pagi sayang". Faras mencium kedua anaknya.
" pagi Abi kerja". tanya Rafa yang sudah mulai lancar berbicara.
" iya sayang Abi kerja, sayang jagain umi juga adik fathan ya. jangan biarkan mereka menangis, Rafa kan ank hebat anak kuat. anak laki-laki itu melindungi keluarganya". Rafa mengangguk, Fathan turun dari gendongan suster ia berlari menemui abinya.
" adik fathan minta gendong". Fathan tertawa menunjukkan giginya yang mulai penuh tumbuhnya.
" anak hebat anak pintar Abi, jangan nakal ya". Fathan mengangguk ia menunjuk pada kursi minta duduk. Faras meletakkan Fathan duduk di kursi dekatnya.
__ADS_1
Zahra memijat kepalanya ia merasa pusing, dan perutnya terasa mual dengan bau masakan yang di meja. Faras melihat istrinya tampak tak baik-baik saja.
" kenapa sayang". tanya Faras .
" ngga apa-apa mas, cuma bau masakan ini bikin Zahra mual. Mungkin asam lambung Zahra naik mas, dari kemarin Zahra malas makan rasanya tak nafsu".
" Jangan sakit sayang, kalau gitu mas ngga kerja".
" jangan katanya tadi ada meeting, Zahra ngga apa-apa "
" kalau gitu sarapan dulu lalu minum obat, istirahat. mas akan cepat pulang jika sudah selesai, hubungi mas jika ada apa-apa". Zahra mengangguk.
" mas suapin". Zahra sebenarnya menolak tapi gmfaras memaksa untuk menyuapi kedua anaknya tertawa cekikikan ia senang melihat Abi dan uminya terlihat lucu saja. apalagi Faras memaksa Zahra agar menghabiskan makanannya.
" umi manja" ucap Rafa, Fathan yang mendengar kakaknya ngomong mengangguk anggukan kepala sembari tertawa. Faras kalau menyuapkan ke mulut kedua anaknya, semua tertawa tampak mereka keluarga bahagia. umi yang melihat menitikkan air mengingat sosok Najwa. Abi menggenggam tangan umi dan mengangguk agar umi mengahapus air matanya tak boleh ada kesedihan lagi
Faras dan Zahra juga sering ke rumah kiyai Umar, mereka masih menjalin silaturahmi bahkan semakin dekat. kiyai Umar tak membedakan antara Rafa dan Fathan, ia juga menganggap kini Faras dan Zahra adalah anaknya.
" Zahra kamu kenapa nak" umi melihat Zahra berlari ke kamar mandi dan terdengar ia muntah-muntah, Zahra sudah menahannya sejak tadi tak ingin Faras tau.
" umi telepon Faras ya kamu sakit".
" jangan umi Zahra tidak apa-apa, mas Faras hari ini ketemu dua klien jangan ganggu mas Faras. Zahra biar istirahat saja."
" beneran kamu tidak apa-apa, kita panggil dokter saja ya umi khawatir".
" tidak umi, Zahra tidak apa-apa". umi mengusap kepala Zahra, zahra pamit naik ke atas ke kamarnya. anak-anak bermain bersama suster, Zahra juga tak ingin memperlihatkan kepada anaknya jika ia sedang tak baik-baik saja.
" ada apa". tanya Abi.
__ADS_1
" Zahra muntah bi, sepertinya masuk angin,"
" beri obat atau panggilkan dokter, Abi tak mau kejadian Najwa terulang kembali ia menyembunyikan penyakitnya hingga kita semua tak ada yang tau". ucap Abi sendu.
" sudah umi katakan bi tapi Zahra tak mau, ia bilang tidak apa-apa hanya mual saja".
" mungkin non Zahra ngidam umi". celetuk bibik yang masih membereskan bekas makanan. Abi dan umi saling pandang kemudian tersenyum.
" bisa jadi". umi langsung menyuruh sopir untuk ke apotik membelikan tespek. umi sangat semangat sekali.
" apa benar Zahra hamil umi".
" berdoa saja Abi itukan yang kita mau, anak-anak juga sudah besar sudah pantas mereka punya adik".
" Alhamdulillah akan ramai lagi rumah ini, semoga saja cucuku yang ini perempuan". Abi sangat senang.
" apapun Abi, laki-laki atau perempuan tak apa".
" ya kan abi berdoa umi berharap itu boleh, biar ada Najwa kecil".
" Abi sudah biarkan Najwa tenang di sana jangan Abi buat yang di rumah ini mengingat Najwa, kasihan Najwa Abi".
" maaf umi, Abi masih merasa Najwa masih ada di sekitar kita".
Zahra di atas ia merebahkan tubuhnya di ranjang sembari membaca novel kesukaan nya, novel online aplikasi yang berwarna biru. di lihatnya handphone nya berdering sejak tadi ternyata Faras suaminya, Faras mengkhawatirkan keadaan Zahra.
" sayang sudah baikan".
" Zahra tak apa-apa mas, ini istirahat" Zahra menampakkan senyumnya agar suaminya tak khawatir.
__ADS_1
" Alhamdulillah, ya sudah mas mau ketemu klien dulu." Zahra mengangguk lalu Faras menutup teleponnya.
______