
Tak akan ada yang bisa menghindari kematian di dunia ini, tak terkecuali seorang kiyai.
____
Zahra menyiapkan pakaian suaminya, piyama untuk tidur malam. sungguh Zahra tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Faras berada dalam posisi terdesak, bimbang bingung. Faras memeluk Zahra dengan erat kembali ia menangis lagi, saat ini hanya Zahra yang bisa menenangkan nya. Zahra mengusap-usap punggung suaminya agar tenang.
" Allah maha baik mas, Allah menyayangi mas Faras sehingga di beri cobaan yang bertubi-tubi. Berserah diri kepada Nya agar hati mas lebih tenang."
" Terimakasih Zahra kamu selalu menguatkan ku di saat aku rapuh, mas benar-benar bingung Zahra apa yang mas harus lakukan. mas sangat mengkhawatirkan kesehatan Najwa. Pengorbanannya sungguh terlalu banyak untuk mas, mas takut jika...hiks..hiks.." Faras menangis ia tak bisa menahannya.
" mas apapun itu adalah kehendak Nya, belum tentu yang sakit di panggil nya terlebih dahulu. banyak orang yang sakit bertahun-tahun Allah berikan panjang umur, justru yang sehat Allah panggil lebih dulu. sesungguhnya yang paling dekat dengan makhluk adalah kematian mas. Kuatkan mba Najwa mas, minta sama Allah agar di mudahkan segalanya urusan kita". Zahra terlihat dewasa dengan nasehatnya. Najwa sangat pandai memilih madunya, semoga ada madu seperti ini di dunia nyata he..he...
" Dokter Arif menyarankan untuk menggugurkan kandungan Najwa, tapi Najwa tak pernah mau. ia kekeh ingin melahirkan janinnya, mas harus bagaimana sayang". Faras tak bisa berkonsentrasi melakukan apapun, saat di kantor pun ia tak fokus di hadapkan dengan pilihan yang sulit lagi.
" mas coba datanglah ke kiyai Umar ia pasti akan bisa memberikan jalan keluar nya". ucap Zahra itu yang terbaik, kiyai Umar mertuanya lebih bijak mengambil keputusan.
" astaghfirullah kenapa mas tak ingat dengan baba, mas akan ke sana". Faras tersenyum ia menemukan titik terang nya.
Zahra mengajak Faras tidur namun sebelum tidur Faras di minta Zahra untuk melihat Najwa dan Rafa di kamar Najwa. Sebenarnya Zahra tak apa jika Faras akan tidur bersama Najwa karena memang Najwa masih butuh pendampingan namun Najwa kekeh ia ingin tidur bersama Rafa. Pikiran Faras sudah sedikit tenang malam ini ia tidur cukup nyenyak, Zahra pun senang melihat suaminya tidur dengan pulas.
_
Seperti yang di katakan zahra, mendatangi kiyai Umar. sebelumnya Faras sudah menghubungi mertuanya itu jika ia ingin ke sana untuk bicara, kiyai Umar mengosongkan jadwalnya pagi itu. kiyai tau jika menantunya pasti ingin minta pendapat yang sangat serius. Najwa sudah tidak mengajar ke madrasah lagi ia memilih untuk berhenti, karena diagnosa dokter, kandungan nya lemah ia di anjurkan untuk banyak istirahat tidak melakukan apapun.
Zahra izin ke kampus tapi sebenarnya ia akan menemani suaminya, Faras pun izin pergi ke kantor. keduanya datang ke rumah kiyai umar, kita sudah menunggunya. Zahra mengusap lengan Faras sebelum mereka turun dari mobil agar ia tenang saat menyampaikan kepada kiyai Umar.
__ADS_1
" Yang tenang mas, sampaikanlah kepada kiyai dengan tenang. Semoga ada titik terang untuk masalah ini, Zahra yakin kiyai akan memberi jalan keluar yang terbaik. Serahkan semuanya kepada Allah." ucap Zahra sembari tersenyum, Faras lalu mengusap kepala Zahra. mereka turun bersamaan, kiyai sudah duduk menunggu di depan.
" assalamu'alaikum baba". Faras mengucapkan salam.
" wa'alaikumsalam ". di sambut baba dengan senyuman hangat.
" gimana kalian sehat semua, Rafa". tanya kiyai agar tak ada ketegangan.
" Alhamdulillah kiyai semua sehat, Rafa juga sehat ia sudah mulai tengkurap".
" Alhamdulillah semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan untuk kalian".
" aamiin". jawab faras dan Zahra bersamaan.
" iya baba Faras bingung, Najwa hamil".
" iya baba sudah tau kemarin Najwa mengabari kepada umma mu.
" tapi baba masalahnya Najwa masih dalam proses pengobatan, Faras di hadapkan lagi dengan pilihan yang sulit. mempertahankan ibu nya atau calon anak Faras." ucap Faras, kiyai mendengus lemah. seseorang jika berada di posisi Faras pasti akan melakukan hal yang sama.
" Lalu bagaimana dengan keputusan Najwa". baba tau pasti anaknya seorang Najwa tak akan mau melanjutkan pengobatan nya.
" Najwa memilih mempertahankan janinnya Baba, dari kemarin Najwa sudha tidak mau mengkonsumsi obat-obatan nya".terang Faras.
" anak itu pasti akan memilih hal itu, kamu taukan siapa Najwa ia tak akan pernah mengubah keputusan nya". ucap kiyai.
__ADS_1
" Faras bingung baba, di sisi lain Faras juga menginginkan janin itu tapi bagaimana dengan najwa ia harus berhenti melakukan pengobatan. kankernya sudah masuk stadium 4." Kiyai diam suasana menjadi hening tak akan ada yang bisa ia lakukan kecuali menuruti kemauan anaknya.
" Bantu Faras untuk mengambil keputusan baba, Faras bingung".
" Tak akan ada di dunia ini makhluk yang bisa menghindari kematian nak, tak terkecuali seorang kiyai. Sakitnya Najwa adalah penggugur dosanya, Najwa meyakini hal yang sudah baba ajarkan. Keputusan mempertahankan anaknya, baba yakin ia berfikir jika kelak ia harus pergi ada yang akan mendoakan nya". jelas kiyai. Zahra dan Faras membetulkan ucapan kiyai.
" Nak Faras harus belajar ikhlas apapun yang terjadi dan terus melantunkan doa tetap ikhtiar semoga semuanya akan baik-baik saja. Istikharah nak ambil keputusan yang menurut Allah baik" ucap baba panjang lebar.
" bismillah insyaallah ba Faras akan shalat istikharah malam ini". baba tersenyum, meski perih hati baba mengetahui kenyataan yang ada bagaimana pun juga ia harus ikhlas.
Faras dan Zahra kemudian pamit, Zahra ke kampus dan Faras ke kantor. Banyak sekali pekerjaan yang sudah Faras tinggalkan di kantor, ia akan selesaikan dulu berkas-berkas nya.
" Nanti di jemput sopir ya langsung pulang temani Najwa". ucap Faras mengusap kepala Zahra. Zahra mengangguk ia Salim sebelum Faras pergi ke kantor.
najwa kini hanya di rumah saja di temani oleh suster yang menjaga Rafa, Najwa benar-benar bahagia sebentar-sebentar ia mengusap perutnya mengajak ngobrol janin dan Rafa. umi menangis melihat Najwa yang tampak bahagia, bukan karena umi tak bahagia namun ia tidak tega melihat Najwa. keinginan yang bertahun-tahun Allah kabulkan namun di saat itu juga ia harus melawan penyakitnya.
" Biar Rafa sama umi, Najwa istirahat saja ya sayang. ingat kata dokter harus banyak istirahat". ucap umi mengambil Rafa dalam gendongan Najwa.
" iya umi terimakasih, umi Najwa sama adek istirahat dulu ya Rafa sayang. ". Najwa mengusap perut nya dan memberikan Rafa kepada umi.
Rafa lalu minta susu ia ngantuk akhirnya tertidur dalam gendongan umi, suster menyiapkan tempat tidur nya agar Rafa tidur dengan nyaman.
___
bersambung
__ADS_1