
" kenapa gelap sekali apa lampunya mati" Faras dan Najwa saling pandang. Faras melambaikan tangan nya di depan wajah Zahra namun tak ada respon.
" kenapa ini mas gelap sekali Zahra tak bisa liat apapun".
" tenang Zahra dokter sedang memeriksa ya kamu tenang". dokter datang bersamaan dengan Zaskia juga datang menghampiri keduanya.
" sebentar saya periksa dulu". dokter menghidupkan baterai menyinari mata Zahra. dokter geleng-geleng kepala, kornea mata Zahra rusak ia buta tak bisa melihat.
" bagaimana dok apa yang terjadi dengan istri saya". dokter mengajak Faras untuk keluar.
" pak Faras istri anda mengalami kebutaan kornea matanya rusak,".
" astaghfirullah... Zahra". Faras menyugar rambut nya dengan kasar tampak ia frustasi.
" tenang pak Faras istri anda bisa melihat lagi jika ada pendonor untuk matanya".
" apa yang akan saya katakan dengan istri saya dok saya tak sanggup melihat ia hancur".
" semua sudah terjadi pak, katakan yang sebenarnya saja itu akan lebih baik. bagaimana pun ia akan bertanya kenapa gelap ia tak bisa melihat apapun". terang dokter.
" di mana saya bisa mendapatkan donor itu dok, saya akan membayar berapapun". ucap Faras ia bersikeras untuk dapatkan donor mata untuk Zahra. Faras mengingat semua pengorbanan zahra untuk dirinya.
" Kita tunggu saja pak, mudah-mudahan kita akan cepat mendapatkan pendonor nya". Faras berusaha tenang ia tak boleh terlihat panik di depan ke dua istrinya.
Dengan badan yang begitu lemah ia masuk ke ruangan Zahra, matanya sayu menatap ke arah Zahra dan Najwa. Faras memeluk Najwa sangat erat, Najwa tau jika terjadi sesuatu ia berusaha menguatkan sang suami. Kemudian faras memeluk Zahra, Zahra kaget ia terkesiap saat ia buka matanya masih gelap ia tak bisa melihat apapun. Zahra tau jika Faras tak sanggup mengatakannya kepada Zahra yang terjadi sebenarnya.
" Jangan menangis mas, mas Faras tak boleh menangis karena Zahra. Zahra tidak apa-apa mas,". Faras justru semakin terisak mendengar ucapan Zahra begitu juga dengan Najwa, Najwa mengusap punggung Zahra.
" maafkan mas, zahra". suaranya tercekat serak ia menahan tangis.
__ADS_1
" jangan minta maaf mas, Zahra ikhlas semuanya takdir. seperti Zahra yang di takdir kan menikah dengan mas Faras". Faras tak bisa menahannya lagi air matanya tumpah begitu juga dengan Najwa, Faras lalu memeluk kedua istrinya secara bersamaan.
" Dokter memvonis jika kamu..." ucapan Faras terhenti.
" Zahra buta..." sahut Zahra kemudian. Ia menahan tangis tak ingin ada seorang yang melihat jika ia hancur dengan kenyataan yang ada.
" Zahra kamu kuat, kamu wanita terhebat yang pernah mba temui dalam hidup mba". Najwa memeluk Zahra kemudian, Faras hanya menatap kedua istrinya yang saling menguatkan.
" jangan menangis mba, kasihan debay yang di perut ini". Zahra melerai pelukannya kemudian mengusap air mata yang menetes di pipi Najwa.
" Kamu akan cepat mendapatkan donor Zahra mba dan mas Faras pastikan itu".
" Zahra pasrah saja mba dengan kenyataan ini, alhamdulilah masih bisa berkumpul dengan semuanya meskipun Zahra tidak melihat". Najwa terus menitikkan air matanya.
***
Zahra lalui hari-harinya dengan terus selalu tersenyum, kini Zahra memakai tongkat kemanapun. kuliahnya berhenti sampai ia mendapatkan donor matanya. Faras membayar lagi satu perawat untuk mengurus Zahra, meskipun Zahra menolak tapi Faras tetap hadirkan untuk membantu Zahra saat ia tidak ada di rumah. tak mungkin Najwa yang akan melakukannya mengingat perut Najwa yang semakin besar. Jika Faras pulang ia yang akan full mengurus Zahra.
" tidak Zahra ketika mas di rumah mas yang akan merawatmu sayang. kamu adalah tanggung jawab ku dan ini kewajiban ku untuk merawat mu". Faras memaksa untuk memakaikan baju Zahra.
" terima kasih mas, mas begitu baik kepada Zahra bahkan semua orang ada sangat baik dengan Zahra".
" Zahra... Rafa menangis seperti nya ia haus". Najwa berjalan menemui Zahra ia sudah tidak di perbolehkan lagi menggendong Rafa, sebentar lagi Najwa akan melahirkan perutnya sudah sangat besar.
" iya mba sebentar". Zahra mencari tongkatnya dimana ia letakkan.
" pelan-pelan sayang". Zahra berjalan hingga ke kamar rafa lalu ia menyusui nya.
Zahra menangis ia mengingat wajah Rafa sewaktu ia masih bisa melihat, rasa rindunya terhadap anaknya itu. Faras yang mengetahui langsung mengusap air matanya.
__ADS_1
" kamu akan ssgera melihat sayang, sebentar lagi bisa melihat Rafa". Faras tau apa yang di rasakan Zahra.
Kiyai Umar bersama istri datang untuk melihat Zahra, ini kedua kalinya ayah Najwa berkunjung melihat Zahra. kiyai Umar selalu memberikan petuah untuk menguatkan Zahra madu dari anaknya.
" bagaimana keadaan mu nak".
" Alhamdulillah baba lebih baik dari sebelumnya". ucap Zahra ia duduk di sofa di tuntun oleh Faras.
" umi tidak tau terbuat dari apa sebenarnya hatimu itu nak, kamu sangat kuat".
" Kita belajar dari Zahra, mengingat kita yang masih bisa melihat. Dengan mata inj kita bisa melihat seluruh dunia baik dan buruknya, sudah kita pakai untuk apa mata kita ini selama masih bisa melihat. Musibah yang menimpa Zahra memberi pelajaran kita untuk selalu bersyukur, meskipun kamu Zahra tidak bisa melihat tapi masiih bisa mendengar. lalu bagaimana dengan kalian, di gunakan untuk apa saja mata ini. pergunakan lah untuk melihat yang baik-baik dan jangan lupa untuk membaca kitab suciNya selagi mata ini masih bisa untuk melihat dan mulutmu masih bisa untuk mengucapkan lafadz Nya". nasehat kiyai Umar...
" Tak ada di dunia ini yang luput dari pengawasan Nya, kadang sesuatu yang menurut kita baik ternyata itu buruk menurut Allah." semuanya mendengar penuturan baba.
" intinya dalam hidup ini kita harus terus bersyukur akan selalu ada kemudahan setelah kesulitan".
" Terima kasih baba, Zahra sangat bersyukur memiliki semuanya yang selalu mendukung Zahra".
" Kamu hebat Zahra kamu kuat bahkan kamu sebagai maduku tak pernah sekalipun menjelekkan ataupun cemburu denganku, mba jadi iri denganmu". Najwa tersenyum ia duduk di samping umi nya.
" mba yang hebat, mba membagi suami mba dengan Zahra. maafkan Zahra mba ".
" kenapa harus minta maaf Zahra, sudah selayaknya kita mencintai yang halal. mba senang akhirnya kamu mencintai mas Faras dan mas Faras juga mencintaimu tanpa menghilangkan cintanya dariku." Najwa tersenyum bahagia.
" ah..." semua terkejut Najwa kaget dengan tendangan debay ia selalu ikut bahagia jika orang tua nya bahagia.
" kenapa sayang". Faras langsung berdiri menghampiri Najwa.
" ngga apa-apa mas, anakmu ini mau ikut nimbrung dengan kita". semua tertawa bahagia rasanya tak sabar ingin melihat bayi mungil dari perut Najwa itu.
__ADS_1
____