Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
Bilal dan arsi


__ADS_3

Dua bulan sudah Zahra menjalani hari-harinya tanpa kesempurnaan matanya untuk melihat. Tongkat yang menjadi teman keseharian nya, hingga saat ini belum ada pendonor. Antrian begitu banyak di rumah sakit. Rafa sudah mulai merangkak, dan kini kehamilan Najwa sudah berumur sembilan bulan. Najwa di perintahkan dokter untuk tidak banyak bergerak mengingat kondisinya yang lemah. Tinggal menunggu kesehatan Najwa stabil baru bayi bisa di angkat. Faras tak pernah melalaikan kedua istrinya meskipun ia bekerja, jika pulang Faras selalu mengontrol satu persatu mereka.


Hari ini Laila datang menjenguk zahra sahabatnya, Laila merasa bersalah dengan semua yang terjadi pada Zahra. sepulang dari kampus lebih sering Laila datng ke rumah Zahra. Laila selalu membacakan hasil yang ia peroleh dari kampus juga Laila membacakan buku pelajaran yang sering di baca oleh Zahra. kini Laila tak pernah lelah membacakan buku untuk Zahra. Keluarga Laila juga masih berusaha mencarikan pendonor untuk Zahra namun sampai saat ini mereka belum menemukan nya.


" Laila jangan paksa dirimu untuk kesini setiap hari, aku akan lanjutkan kuliah ku ketika nanti aku bisa melihat".


" tak apa Zahra aku juga bosan di rumah tak ada hiburan seperti mu, di sini aku senang bisa menemanimu membacakan buku untuk mu dan yang jelas ada Rafa yang selalu menghibur ku". ucap Laila yang mulai membuka bukunya untuk ia bacakan ke Zahra.


***


Selama sepuluh hari terakhir arsi melakukan shalat istikharah untuk Bilal. Semua nyata jawaban dari shalat istikharah nya adalah seorang Bilal. Arsi menutup kitab sucinya ia mendengar ada yang mengetuk pintunya. umi Aisha meminta arsi untuk berganti pakaian dan menemui keluarga Bilal untuk mendengar langsung jawaban dari arsi.


" Nak ini adalah waktu yang sudah di sepakati bersama, sepuluh hari sudah berlalu Bilal ingin langsung mendengar dari mu jawaban atas shalat istikharah mu". ucap Abah Hasan kepada arsi yang duduk di sebelah uminya.


" Bilal tak sabar ingin ke sini terus." kata papa Bilal membuat semua orang tertawa.


" Ayo nak tak baik menunda lagi, lebih cepat dengan kejelasan yang ada itu lebih baik". ucap Abah. Bilal gugup ingin mendengar jawaban arsi, mau tutup telinga rasanya tak mungkin.


" mas Bilal arsi ingin tanya. apa yang membuat mas Bilal kembali mengkhitbah arsi". tanya arsi.


" Dari awal mas melihat mu yakin jika kamu akan cocok menjadi seorang istri dan ibu bagi anak-anak mas".


" atas dasar apa mas".


" akhlak yang kamu miliki " arsi tersenyum.


" Lalu kenapa mas Bilal harus memilih arsi di luar sana masih banyak wanita yang lebih dari arsi, arsi hanya seorang gadis kampung mas jauh dari peradaban di luar sana. apa mas tak akan malu berdampingan dengan arsi."


" insyaAlloh tidak, entah arsi mas juga mencoba melupakan mu karena mas takut zina hati memikirkan mu. tapi Allah mempertemukan kita lagi untuk itu mas mengkhitbah mu lagi".


" Bismillah arsi menerima khitbah mas Bilal".


" Alhamdulillah". semuanya mengucap syukur dan merasa lega.

__ADS_1


" arsi punya syarat untuk mas".


" apapun akan mas penuhi".


" maafkan arsi beberapa hari ini pikiran arsi selalu memikirkan mas Bilal, arsi tak mau berdosa lagi dengan memikirkan yang bukan halal. Arsi mau malam ini juga mas Bilal mengucapkan ijab kabul untuk arsi". semua orang saling pandang, Abah hasan justru malah terkekeh.


" Bismillah Abah boleh Bilal mengucap ijab kabul saat ini juga". Bilal meminta izin dulu kepada Abah Hasan.


" Bilal nak apa kata orang nanti, ini terlalu cepat". ..ucap mama


" Bilal juga tak mau ma syetan mengganggu kami, izinkan Bilal umi menikahi arsi malam ini".


" itu lebih baik ma dari pada menundanya".


ucap papa menyetujui.


" tapi mama mau pernikahan anak mama satu-satunya di hadiri oleh temen-temen mama".


" Nanti bisa mama undang teman mama saat resepsi". mama tersenyum ia lupa jika masih bisa mengadakan resepsi.


" tidak perlu berganti pakaian Bilal".


" tidak perlu ini hanya akad saja menunjukkan mereka sudah halal, untuk surat menyurat nanti akan cepat di urus dan resepsi akan saya adakan hari Minggu besok di pesantren ini".


Semua sudah berkumpul Bilal sudah siap, Abah memberikan kopiah yang biasa Abah pakai untuk di pakai kan di kepala Bilal. Abah mengganti nya dengan sorban untuk di pakai Abah. Abah menjabat tangan Bilal ia yang akan menikahkan anaknya sendiri.


Kata Syah menggema di pondok pesantren ini, arsi menitikkan air mata akhirnya ia menikah. begitu juga dengan Bilal bertahun-tahun ia berdoa untuk bisa di pertemukan arsi kembali. air mata melewati pipinya.


***


Zahra di antar oleh Faras hari ini ia akan cek ke dokter, ketika nanti ada yang mendonorkan mata untuk nya kesehatan Zahra stabil dan bisa langsung melakukan operasi pemindahan mata.


" Bagaimana dok istri saya."

__ADS_1


" Alhamdulillah cukup baik, sehat. non Zahra bisa mengelola emosi dengan baik. terus makan makanan sehat dan jangan stres ya non". ucap dokter


" iya dok insyaAlloh"


Faras membawa Zahra ke kantor agar Zahra tak merasa bosan ada di rumah terus. ada pekerjaan yang harus Faras selesai kan saat ini juga, Faras menuntut Zahra pada karyawan melihat nya merasa iba. Meskipun tak bisa melihat Zahra selalu melontarkan senyum kepada siapapun yang menyapanya.


" Tunggu di sini ya sayang mas hanya sebentar saja, biar kamu tak bosan juga ada di rumah terus".


" iya mas" Zahra tersenyum.


Sekitar dua jam Faras menyelesaikan pekerjaan nya, handphone Faras berbunyi ada seseorang yang menghunginya.


" iya dengan saya sendiri ada apa ya".


" pendonoran mata untuk ibu Zahra sudah ada, silahkan besok ke rumah sakit untuk melakukan cek dan tanda tangan melengkapi berkas".


" Alhamdulillah ya Allah".


" ada apa mas"


" baik dok besok saya akan langsung bawa istri saya".


" Alhamdulillah sayang kita sudah dapat pendonor mata, besok kita ke rumah sakit". Zahra justru menangis.


" kenapa menangis sayang hmmm"


" Zahra takut mas".


" kenapa takut, besok kamu akan bisa melihat lagi. jangan takut ada mas yang akan selalu ada di samping mu sayang".


" mas jangan terus perhatikan Zahra terus, mas juga harus perhatikan mba Najwa sebentar lagi mba Najwa akan melahirkan".


" mas tak pernah melupakannya sayang, mas terus berusaha adil untuk kalian. Najwa ada yang menemani untuk besok kamu dulu yang mas temani ya. Kamu harus semangat, Najwa pasti akan senang mendengarnya". Zahra mengangguk Faras mencium kepala Zahra lalu mereka bergegas pulang untuk memberitahukan kepada Najwa .

__ADS_1


___


__ADS_2