
Perjalanan pernikahan ini sudah yang ke 1 tahun mereka menikah, belum ada tanda-tanda jika Najwa hamil. namun Faras tak pernah mempermasalahkan hal itu, kebahagiaan nya adalah Najwa istrinya. Faras selalu menepis jika ada yang bertanya hamil atau belum. Sebelum tidur mereka biasa murajaah hafalannya dengan saling menyimak, setelahnya obrolan sedikit menjelang tidurnya. Najwa selalu tidur dalam pelukan suaminya.
" mas pernikahan sudah satu tahun lamanya tapi Najwa belum hamil juga". Faras menyelipkan anak rambut yang menutupi mata istri nya.
" baru satu tahun sayang belum lama, tak apa mungkin kita di suruh untuk pacaran dulu". ucap fars sambil tersenyum, sebenarnya sakit hati Faras kala istrinya membahas hal itu. Faras sungguh tak ingin membuat istrinya bersedih, ia sangat mencintai istrinya.
" semua teman Najwa yang menikah bareng dengan kita sudah hamil semua mas".
" mungkin kita belum giat saja bikin anaknya" Faras menggoda Najwa, membuat Najwa jadi terkekeh geli selalu itu yang Faras perbuat di kala istrinya merajuk karena belum memberikan anak. Berakhir di bawah selimut.
sensor ... sensor... sensor...
*****
Lantunan ayat suci terdengar di telinga Najwa membuat ia jadi terbangun, Faras hanya mengaji dengan pelan namun Najwa terbangun. Di liatnya sang suami mengaji dengan lantunan ayat suci yang begitu merdu.
' engkau benar laki-laki idaman sayang, tak pernah sekalipun membuatku kecewa atau sedih' bulir air mata turun di wajah Najwa.
merasa istrinya sudah bangun Faras berhenti mengaji, ia menoleh ke arah sang istri yang masih di ranjang.
" sudah bangun sayang, mau di mandikan". Najwa tertawa kecil selalu saja Faras membuatnya makin sayang.
" Najwa mandi sendiri saja mas, tadi masih menikmati suara ngaji mas yang selalu bikin Najwa kangen."
" sama orang nya ngga kangen nih". Najwa terkekeh.
" pasti selalu rindu ".
" wah jadi meleleh hati Abang". mereka tertawa.
" mas sudah siapkan air nya cepetan mandi keburu subuh,". Najwa mengangguk kemudian berjalan ke kamar mandi dengan badan terbalut selimut.
****
jadwal seperti biasa najwa mengajar dan Faras ke kantor, Faras mengantar Najwa terlebih dahulu ke madrasah lalu ia melajukan mobilnya menuju kantor. Hari ini jam Najwa tidak penuh ia berniat akan ke rumah jihan sahabatnya. Setelah mengajar dan meminta izin kepada Faras Najwa pergi ke rumah jihan. di perjalanan ia melihat seseorang yang ia kenal yaitu Zahra ia menangis di luar rumah bersama orang tuanya. Najwa berhenti melihat jika itu adalah murid nya.
" Zahra ada apa"
" i ibu". ia masih menangis dengan barang di tangannya beserta kedua orang tua dan adik Zahra. ada juga dua orang bertubuh besar sedang berdiri di depan Abah Zahra.
__ADS_1
" saya sudah peringatkan anda berulang kali dan ini adalah hari terakhir anda jika tidak bisa membayar silahkan angkat kaki". ucap laki-laki itu dengan sangar.
" tolong beri kami kesempatan untuk mencicilnya".
" jualan mu saja hanya singkong goreng mana bisa kamu membayar hutang bos kami". ucap kembali laki-laki itu.
Najwa mendekat ia ingin tau permasalahan yang ada, Najwa juga tidak tega melihat semuanya menangis.
" maaf pak sebenarnya ada apa".
" Anda ingin tau, mereka punya hutang pada bos kami dan waktunya sudah habis. sudah beberapa kali bos kami mengulur waktu tapi tetap saja mereka tidak bisa membayar bahkan bunganya saja tak bisa".
" berapa hutang bapak ini". tanya Najwa.
" 50 juta beserta bunganya". ucap laki-laki itu dengan wajah masih sangar.
" jangan khawatir saya yang akan bayar, biarkan mereka masuk kembali menempati rumah ini saya yang akan bayar". Najwa kemudian mengeluarkan cek ia tulis sesuai jumlah hutang Abah nya Zahra.
" nah ini baru benar, kenapa tak dari dulu rumah ini pun kalau di jual tak akan laku hingga segini". ucap laki-laki sebagai kaki tangan dari rentenir.
" nak Najwa maaf kan kami nak, " ucap Abah.
" tak apa Abah sekarang Abah masuk dan istirahat tak akan ada lagi yang datang ke sini buat mengusir Abah dan umi, "
" kalian rawat saja rumah ini dengan baik dan ini ada sedikit uang bisa Abah atau umi pakai untuk modal jualan".
" tidak usah nak kamu sudah terlalu baik kepada kami, jika tak ada putri pak kiyai ini tak tau kami akan tinggal di mana ini tempat kami satu-satunya".
" Allah yang menuntun Najwa ke sini Abah, tolong terima uang ini". Najwa menyodorkan uang kepada orang tua Zahra. Dengan berat hati dan perasaan tidak enak akhirnya orang tua Zahra menerima.
" terimakasih nak terimakasih banyak semoga nak Najwa selalu bahagia".
" aamiin terimakasih juga doanya Abah, pakailah dengan baik uang ini agar tak perlu berhutang lagi. Zahra juga bisa sekolah dan adiknya" ucap Najwa.
" Bu Najwa, Zahra terimakasih banyak". Najwa mendekat ke Zahra dan memeluk Zahra, ia tau jika Zahra ini anak yang pandai hafalannya di antara temannya paling banyak.
" tetap belajar yang benar jadi orang pintar ya". Zahra mengangguk kemudian Najwa pamit jika ia akan pergi ke rumah jihan.
***
__ADS_1
" Najwa sudah dari tadi".
" ngga barusan saja Jihan"
" ada apa kamu ke sini, perlu penting atau apa".
" tidak ada apa-apa aku kangen sama kamu,".
" ye... kirain udah lupa sama teman sendiri".
" tak mungkin aku lupa sama sahabat ku".
" tapi aku yakin pasti ada yang penting, yuk kita ke kamar saja". Jihan menarik tangan Najwa agar mengikuti ke kamar.
" kamar mu masih sama ya Jihan". Najwa matanya masih mengelilingi kamar Jihan
" maklum kamar gadis seperti ini, ada Najwa yang membuat mu ke mari" Jihan selalu tau kegundahan sahabatnya. Najwa melempar kan tubuhnya di kasur.
" Jihan kamu tau kan berapa usia pernikahan ku sama mas Faras".
" baru aja satu tahun Najwa, masih seumur jagung". jawab Jihan ia berharap tebakannya salah.
" satu tahun itu sudah lama Jihan dan kami belum ada tanda akan di beri momongan". ucap Najwa. Jihan rasanya tak ingin membahas ini takut sahabatnya itu kecewa.
" Mungkin memang belum saatnya Najwa bersabarlah, tidak hanya kamu pasangan yang belum di beri momongan bahkan kamu baru saja setahun menikah". ucap Jihan agar sahabatnya itu tidak kecewa.
" tapi aku merasa bersalah sama mas Faras dan orang tua nya, bahkan Nina yang menikah bareng denganku sudah lahiran". ucap Najwa.
" Najwa kehidupan orang itu tak sama, mungkin memang kalian dekat dulu kan kalian kenal aja sudah menikah".
" iya Tapi..."
" Najwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, apa masalah ini pernah mas Faras bahas dan membuatnya kecewa atau orang tua suamimu itu membahasnya".
" di depan ku mereka tak pernah membahasnya, bahkan mas Faras selalu mengalihkan pembicaraan jika aku membahasnya.
_____
bersambung
__ADS_1
mohon tinggalkan jejak like komen dan hadiah.
terima kasih🥰