
Semua melihat ke arah Najwa bahkan Zahra masih berfikir dengan keseriusan yang di katakan Najwa.
" Nak sudah kamu pikirkan semuanya, membagi suami dengan Zahra itu sama saja separuh hidup nak Faras nanti akan terbagi untuk Zahra". ucap pak Zainal ingin benar-benar meyakinkan Najwa.
" insyaAlloh pak sudah saya pikirkan atas apa yang saya lakukan ini".
" Nak Najwa maaf, Zahra itu baru lulus madrasah ia minim pengetahuan dan ilmu kamu tidak salah memilih putri umi ini untuk di jadikan istri suamimu". umi menekankan atas kejelasan karena umi juga tidak mau hal buruk terjadi pada putrinya.
" tidak ibu saya tidak salah untuk memilih. Zahra pantas untuk mas Faras Najwa sangat yakin". ucap Najwa sembari tersenyum.
" bagaimana Zahra nak Najwa memintamu, ia melamar mu untuk Faras suaminya." Zahra diam semua tegang ingin mendengar jawaban Zahra. Zahra masih dalam keadaan menunduk ia bingung ingin menolak tapi hatinya benar-benar luluh ia mengingat mimpi-mimpi yang selama ini ada dalam tidurnya.
Zahra mengangkat wajahnya seketika netranya bertemu dengan Faras tatapannya berhenti sejenak di mata Faras hal yang sama Faras juga tatapannya terkunci pada Zahra gadis kecil itu. Zahra beristighfar dalam hati ia lalu menyapu tatapannya pada seluruh nya sampai pada Najwa, terdapat pengharapan besar pada diri Najwa. pikiran Zahra berputar-putar mengingat kebaikan-kebaikan Najwa, melihat Abi nya Zainal ia sedih melihat abinya belum mendapatkan pengobatan maksimal. zahra kembali menunduk lagi menyiapkan kata-kata yang akan ia keluarkan.
" Bismillahirrahmanirrahim Zahra menerima lamaran mba Najwa". ucap Zahra menahan tangis.
" Alhamdulillah". ucap Najwa.
Namun yang lain terbengong seperti tak percaya jika benar ini akan terjadi. Bahkan umi Faras dan umi Zahra menitikkan air mata merasa pedih hatinya, mereka seorang wanita pasti merasakan atas apa yang di rasakan kedua wanita di hadapannya itu.
" Pernikahan kita laksanakan Minggu besok, lebih cepat lebih baik. Waktu satu Minggu cukup untuk mempersiapkan pelaksanaan pernikahan." ucap Najwa senang.
" mba, Zahra mau pernikahan sederhana saja tanpa ada apapun".
" kenapa Zahra, ini pernikahan mu seharusnya bisa di lakukan meriah seperti pernikahan pada umumnya. kami yang akan mengurus semuanya Zahra kamu jangan khawatir".
" tidak mba, Zahra tidak mau. cukup ijab Kabul saja di persaksikan keluarga saja mba." Najwa melihat kepada semuanya lalu pak Zainal mengangguk.
__ADS_1
" baiklah Zahra seperti apa maumu, tapi kita tetap fiting baju pengantin jangan menolak". ucap Najwa.
" Saya mau pernikahan akan di laksanakan di rumah ini saja, karena zahra adalah anak perempuan saya satu-satunya jika setelah ijab kabul akan kalian bawa langsung ke rumah kalian tidak apa-apa. Saya tetap mengundang tetangga terdekat karena pernikahan itu memang harus di umumkan agar tidak terjadi fitnah".
" baik pak tidak apa-apa, tapi maaf setelah ijab kabul Zahra langsung saya bawa ke rumah saya.".
" mas..."
" hanya itu permintaan ku, jangan paksa mas biar aku dan Zahra lebih mengenal dulu."
" iya nak Faras silahkan".
Kesepakatan dil antara dua keluarga, Najwa sudah membawakan beberapa perhiasan untuk Zahra sebagai pengikat. hal itu tidak di ketahui Faras sama sekali jika Najwa sudah membelikannya.
___
Najwa dan Faras akan menjemput Zahra untuk melakukan fiting baju pengantin di butik langganan Najwa, pemiliknya adalah sahabat Najwa juga. Setelah shalat Zuhur keduanya menjemput Zahra.
" yang mau menikah kan kamu Zahra masak mba juga pakai baju pengantin". Najwa masih terkekeh Faras hanya diam saja dan fokus menyetir.
" kalau mba Najwa tidak mau Zahra juga lebih baik tidak fiting baju pengantin nya". Zahra sedikit tegas.
" kamu ini ada-ada saja, mba itu sudah pernah jadi pengantin Zahra masak mau dua kali." Najwa tertawa lagi.
" Pak Faras juga dua kali akan jadi pengantin mba, Zahra mau mba menemani Zahra kita dua pengantin mba". Najwa menoleh ke arah Faras dan Faras mengangguk.
" Jangan panggil pak lagi Zahra dia calon suamimu panggil mas ya seperti mba memanggil mas Faras. kedudukan kita nanti akan sama, sama-sama istri dari mas Faras."
__ADS_1
" Mas..."
" iya Zahra lakukan itu, baiklah mba akan ikut fiting baju pengantin".
Sahabat Najwa pemilik butik menyambut nya dengan ramah ia sendiri yang akan mengukur pakaian untuk Najwa dan calon madunya. Ketika Najwa menceritakan Laila sahabatnya itupun terkejut mendengar apa yang di katakan Najwa.
" baju yang terbaik Laila untuk kami".
" okey silahkan pilih modelnya". tak ada yang cocok sama sekali bagi Zahra, Zahra tak mau pakai baju pengantin seperti itu padahal Desain terbaru yang di buat Laila.
" Lalu kamu mau yang seperti apa Zahra". Zahra berjalan ke arah baju-baju yang sudah di gantung. Ia memilih baju yang sangat sederhana dengan Tulle sederhana berwarna putih dan ada sedikit manik-manik. Sangat terlihat bahwa Zahra bukanlah wanita yang gila akan harta, membuat Najwa dan Laila saling pandang.
" Najwa calon istri suamimu begitu sangat sederhana".
" untuk itulah Laila aku memilihkan nya untuk mas Faras, dia gadis polos lugu dan sangat baik dia adalah murid di madrasah aku mengajar".
" aku berdoa untuk kalian semoga kehidupan kalian bertiga akan adem ayem, jika pun ada masalah cepat larut terselesaikan" doa Laila.
" terimakasih Laila, baiklah kita nurut saja apa kemauan Zahra. kamu ukur ya untuk Zahra dan untuk ku". Laila menoleh ke arah Najwa memastikan apa yang Najwa katakan.
" Jangan kaget lagi Laila, Zahra yang meminta agar aku juga memakai baju pengantin yang sama dengan nya". Laila tertawa.
" MasyaAlloh Najwa benar-benar kalian ini ". Najwa pun ikut terkekeh.
Faras hanya menyesuaikan saja dengan apa yang di pakai oleh Zahra. Zahra dan Najwa lalu di ukur oleh Laila dengan desain yang di buat sangat sederhana. hampir dua jam mereka berada di butik Laila, Laila adalah sahabat semasa SMA nya dan kini ia sudah memiliki dua anak. Setelah selesai mereka makan di restauran, Zahra sebenarnya menolak ia ingin pulang saja namun Najwa memaksanya agar ikut makan bersama mereka.
Suara keluarga dan tetangga yang bergosip tentang pernikahan yang akan di lakukan lusa sangat riuh. apalagi tetangga yang tidak menyukai keluarga pak Zainal, ada yang menyebut Zahra seorang pelakor. Ada yang berkata jika Zahra dan keluarganya hanya ingin harta dari Faras. pedih saat di dengar oleh telinga, umi hanya diam saja. pak Zainal menyuruh umi untuk tidak perlu menggubris semua perkataan para tetangga. Fokus dengan pernikahan yang akan di lakukan.
__ADS_1
_____
bersambung