Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
dosen Zahra


__ADS_3

Najwa masih berada di dalam kamar mandi ia terus mencoba menghentikan darah yang mengalir dalam hidungnya, Najwa mencari obat nya yang belum sempat ia minum tadi. Bersyukur darah itu berhenti setelah hampir lima belas menit Najwa berusaha menghentikannya.


" Sayang ayo kita berangkat*. ucap Faras sednag menunggu di sofa.


" iya mas sebentar". panggilan sayang itu sudah melekat di bibir Faras menjadi kebiasaan untuk Najwa.


Najwa buru-buru mengganti bajunya, di bagian tangan ada bercak darah juga pada jilbabnya. Faras menunggu di sofa sembari melihat-lihat handphone nya.


" ayo mas". Najwa tersenyum. Faras berjalan beriringan dengan Najwa mereka berangkat seperti biasa namun tanpa Zahra.


" kenapa tadi lama sayang". fars memasangkan sabuk pengaman. Faras mencoba memberi perhatian lebih pada Najwa, Faras takut dengan kehadiran istri keduanya membuat Najwa merasa tidak di perhatikan lagi.


" ada sedikit masalah di kamar mandi mas". ucap Najwa.


" masalah apa".


" sedikit mules perut Najwa". Najwa berbohong.


" sekarang gimana sayang, istirahat saja tidak usah ke madrasah ya". pinta Faras sembari mengusap perut Najwa.


" tidak apa-apa mas cuma buang air saja mungkin tadi sedikit kebanyakan ambil sambalnya"


" beneran tidak apa-apa" tanya Faras menekankan.


" iya, ayo kita berangkat keburu Najwa juga telat mengajar anak-anak". Faras mencium tangan Najwa kemudian ia melajukan mobilnya mengantar Najwa terlebih dahulu.


Setelah sampai ke madrasah Najwa pamit masuk, Najwa salim lalu Faras mencium keningnya. Faras juga langsung ke kampus dulu sebelum ia berangkat ke kantor, ia mencari dosen nya Zahra untuk mengantar tugas-tugasnya. Faras bertanya-tanya kepada mahasiswa mencari ruangan dosen pak Habibi.


" Faras..." mendengar ada yang memanggil faras menoleh ke arah suara.


" Ahmad..." sapa Faras.


" hey apa kabar kawan". Faras memeluk sahabatnya yang sudah lama mereka tidak bertemu itu.


" Alhamdulillah aku baik, mencari siapa". tanya Ahmad.


" aku sedang mencari seorang dosen, mau antar tugas punya Zahra".


" Zahra Khoirun Nisa mahasiswi ekonomi". tuding Ahmad.

__ADS_1


" iya betul kamu mengenalnya". tanya Faras.


" dia mahasiswi ku, dosen siapa yang kamu cari"


" katanya Habibi ". Ahmad tersenyum itu adalah namanya, di kampus Ahmad terkenal dengan panggilan Habibi.


" itu aku Faras, apa kamu lupa dengan kepanjangan namaku". Faras mengingat-ingat lalu ia ingat.


" Habibi Ahmad, maaf bro kita udah lama tak bertemu bukan aku melupakan tapi aku bener-bener lupa".


" kenapa Zahra tidak berangkat"


" ia lagi tak enak badan gara-gara semalam menyelesaikan tugas mu sampai larut malam". Faras terkekeh ia bercanda.


" ya ampun kenpa ia tak istirahat, ia keponakan mu". Ahmad tau jika Faras adalah anak tunggal.


" Zahra bukan keponakan ku tapi dia isteri ku". Ahamd melongo seperti tidak percaya, Zahra anak yang energik pandai ternyata sudah menikah. Ahmad berniat untuk memperkenalkan dengan keponakannya.


" kamu serius Faras " Faras mengangguk.


" umur kalian...".


" bagaimana bisa kamu punya istri dua apalagi yang satunya sangat muda sekali". Ahmad berfikir namun lalu mengamati Faras dari ujung kaki sampai kepala.


" istriku yang mencarikan nya". kembali lagi Ahmad terbengong dosen itu benar-benar terkejut.


" kamu ngga bercanda kan Faras". Ahmad menekankan.


" masa masalah beginian aku bercanda sih mad".


" aku seperti mimpi". ahmad menepuk pipi nya, Zahra di kampus banyak di sukai oleh para mahasiswa selain cantik cerdas juga ramah.


" sudah ini tugas istriku, kapan-kapan kita bertemu lagi ya pak dosen aku mau ke kantor ini sudah siang. ini kartu namaku hubungi aku setelah ini". pinta Faras ia menjabat tangan Ahmad pamit pergi ke kantor.


Di siang hari Faras mengingat-ingat istrinya Zahra, kejadian semalam masih teringat di kepala faras. ia tak habis fikir bisa meniduri istri kecilnya itu, bukan karena hatinya yang ingin tapi keterpaksaan hasrat yang harus di salurkan. Faras mengambil handphone nya ia menghubungi Zahra terlebih dahulu sebelum menghubungi Najwa. seperti biasa Faras menghubungi Najwa jika tak sibuk.


Zahra sedang membaca buku pelajarannya, tak ada yang bisa ia lakukan kecuali hanya berdiam diri di kamar. Di lihatnya handphone yang berbunyi ia mengernyit melihat nama suaminya di layar.


" assalamu'alaikum mas"

__ADS_1


" wa'alaikumsalam Zahra gimana kamu udah baikan". tanya Faras


" Zahra kan memang tidak apa-apa mas".


" itu maksudnya masih sakit tidak". Zahra mengernyit ia baru ingat jika mereka baru melakukan penyatuan.


" sudah membaik tidak seperti tadi pagi, sudah ngga begitu sakit". Faras khawatir ia mengingat begitu brutalnya ia semalam dan Zahra masih kecil menurutnya.


" oh ya sudah, makan lalu istirahat saja ya biar lekas sembuh"


" iya mas". Faras lalu menutup handphone nya, Zahra tersenyum mengingat kejadian semalam. Faras suaminya memang tampan pesonanya membuat para wanita meleyot meski sedikit berewokan tapi tak mengurangi ketampanan suaminya.


" astaghfirullah". gumam Zahra.


" mas Faras milik mba Najwa, ada apa dengan aku ini. tapi tak apa-apa bagaimana pun juga mas Faras tetap suamiku membayangkan nya bukanlah dosa". Zahra terkekeh ia berkata sendiri.


Setelah menghubungi Zahra Faras menelepon Najwa istri tercintanya.


" sudah makan belum sayang". setelah salam terucap dan berbalas.


" sudah mas barusan saja, mas sudah makan".


" iya ini baru mau makan". Jawab fatas.


" ya sudah kalau begitu cepetan makan, isi amunisi biar kuat". Najwa terkekeh.


" iya sayang besok malam ya". Najwa terkekeh mendengar ucapan Faras.


" insyaAlloh mas, nanti mas langsung pulang biar Najwa...".


" jangan pulang sendiri mas jemput, jangan pulang sebelum mas jemput". pinta Faras ia tak ingin kebersamaannya dengan najwa hilang. Karena jatah tiga hari ini ia bersama Zahra, jadi jika tak di luar rumah ia tak bisa dekat dengan Najwa. Faras mencoba adil untuk keduanya.


" okey mas..." Faras lalu makan dengan layar masih menyala, Najwa sibuk menyiapkan pelajaran ia akan mengajar satu jam mata pelajaran siang ini.


Faras menjemput Najwa setelah shalat ashar, mereka akan pulang bersama tapi Faras ingin ke supermarket terlebih dahulu tadi umi nitip sesuatu yang harus di beli.


Zahra mandi ia berpakaian dan memakai wangi-wangian ia berniat bahwa mulai detik ini akan menjaga penampilan untuk suaminya, merengkuh pahala sebagai seorang istri. Zahra tak tau kenapa ia senang menyambut Faras, suaminya sebentar lagi akan pulang. Zahra menyiapkan air untuk mandi juga pakaian ganti untuk Faras. Zahra melihat jam dinding biasanya Faras samoai di rumah setelah ashar namun sampai jam 5 belum datang. Zahra khawatir namun di tepis nya karena Faras pergi bersama Najwa istri pertamanya.


____

__ADS_1


bersambung


__ADS_2