
Faras menjatuhkan dirinya si sebelah Zahra, Zahra menarik selimutnya hingga menutup seluruh tubuhnya ia masih menitikkan air mata. Tiga bulan pernikahan baru malam ini mereka melakukan penyatuan. Faras mengatur nafasnya ia masih lelah setelah kegiatan panasnya, di lihatnya Zahra memunggunginya. Ia tau jika Zahra tadi menangis lalu Faras menarik tubuh Zahra agar berada dalam pelukannya ia mengusap air mata Zahra tangan kirinya mengusap kepala Zahra.
" maaf kan aku Zahra, aku memaksamu" Zahra menggeleng.
" tidak mas memang ini seharusnya terjadi, ini adalah hak mas Faras". Faras lalu menarik Zahra ke dalam pelukannya, Faras mengecup kening Zahra agar Zahra tenang.
" tidurlah ini pertama kalinya untuk mu pasti sakit dan lelah". Zahra mencari posisi ternyaman dalam pelukan Faras. Mereka akhirnya tertidur karena lelahnya.
Di balik kamar yang lain ada seseorang yang sedang menangis, kemarin ia tak merasakan apapun jika Faras dekat dengan Zahra. kini Najwa tak tau kenapa dadanya sesak sekali mengingat mereka malam ini pasti melakukan penyatuan.
" maafkan aku ya Allah ini aku yang melakukannya aku sendiri yang menanggung sakitnya, baru kali ini hatiku rasanya perih sekali".Najwa menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya hingga ia tertidur.
Suara alarm membangunkan Faras, ia bergegas ke kamar mandi setelah membenarkan posisi tidurnya Zahra. Faras mandi membersihkan diri, ingin rasanya ia berteriak. Faras merasa jika ia telah mengkhianati Najwa cintanya, hampir satu jam Faras berendam di bathtub. Setelah ia sedikit tenang mandi dan memakai pakaian sholat nya melakukan shalat malam.
Zahra terbangun saat mendengar suara suaminya mengaji, lantunan ayat suci yang di bacakan Faras sangat indah di dengar oleh telinga. Zahra bangun namun ia merasa tubuhnya remuk badannya sakit, dan merasakan sakit pada bagian int**nya. Faras yang merasakan ada pergerakan di ranjang ia menutup kitabnya mengakhiri mengajinya.
" itu akan terasa sakit Zahra sebentar aku siapkan airnya kamu jangan bergerak". Zahra mengangguk emang benar apa yang di katakan Faras jika Zahra merasakan sakit.
" Zahra bisa jalan sendiri mas". ucap Zahra saat Faras akan menggendongnya, namun Faras tidak menjawab ia menggendong Zahra hingga ke kamar mandi di letakkan Zahra ke dalam bathtub kemudian Faras keluar. Hal pertama kalinya terjadi antara dirinya dan Zahra kini pertama kali juga Faras menyiapkan pakaian zahra. Faras mengingat Najwa istri pertamanya ia menitikkan air mata.
" maafkan aku Najwa, ". hanya ucapan itu yang Faras lantunkan.
Zahra keluar kamar mandi menggunakan bathrobe ia tak membawa baju ganti di dalam fars yang menyiapkan baju mandinya di dalam. Zahra bingung ia malu dengan yang di kenakan nya.
" Cepat pakai nanti kamu masuk angin kedinginan". Zahra berjalan sembari tertatih Faras hanya melirik nya ia sebenarnya kasihan tapi Faras masih kaku, Zahra juga masih malu dengan adegan mereka semalam karena Zahra benar-benar menikmati nya itu pengalaman pertama Zahra. Sprei sudah Faras ganti dengan yang baru, ia melihat bercak darah di sprei itu.
" Zahra hari ini mas tak mengizinkan mu ke kampus, istirahat lah di rumah saja." Faras bersiap untuk ke kantor hari ini, Faras membiarkan Zahra untuk tidak beranjak dari ranjang, seperti yang Faras liat Zahra sangat kesakitan.
" tapi mas tugas Zahra banyak dan harus dikumpulkan hari jni juga". Zahra berjalan tertatih mencari tugas kampus yang ia kerjakan semalam.
__ADS_1
" apa kamu mau ke kampus dengan berjalan seperti itu Zahra, apa jawabmu jika ada yang bertanya.".
" ya aku..." Zahra berhenti berucap saat Faras memelototi nya.
" aku apa ?..., kamu mau bilang jika kamu semalam bersama suamimu sudah...". Faras menghentikan ucapannya, Zahra diam menunduk tak ingin membalas tatapan Faras ia malu.
" istirahat di rumah saja, biar aku yang ke kampus mengantarkan tugasmu beritahu saja nanti aku siapa dosenmu". Zahra mengangguk.
" Dan ngga perlu turun untuk mengambil makanan, nanti aku antarkan sarapannya di kamar". Faras lalu mengecup kening Zahra agar Zahra tenang tidak kaku lagi.
Faras turun ke bawah, umi, Abi dan Najwa ternyata sudah menunggu. Faras berusaha tenang, ia tau pasti yang memberi nya obat semalam adalah Najwa istri nya.
" mana Zahra apa dia hari ini tidak ke kampus". tanya umi.
" Zahra ngga enak badan umi ia izin hari ini tak ke kampus"
" sakit apa Faras, kenapa kamu tak membawanya ke dokter". umi khawatir.
" Sarapan dulu mas nanti kita antarkan sarapannya untuk Zahra". ucap Najwa menyiapkan makanan untuk Faras.
Umi dan Abi naik ke atas lebih dulu, Najwa mempersiapkan makanan untuk Najwa juga minuman tradisional yang pernah umi berikan untuk nya. Faras membawakan makanan nya dan Najwa membawa minumannya naik ke atas.
" Zahra, kamu sakit apa nak". umi melihat Zahra sedang memainkan ponselnya.
" umi, maaf kepala Zahra pusing".
" jangan di forsir belajar nya jika kamu kesulitan minta bantuan Faras".
" iya umi maaf" ucap Zahra, baru kali ini Zahra berbohong tapi tak mungkin juga ia mengatakan yang sebenarnya.
__ADS_1
" ya sudah kamu istirahat saja dulu" Zahra 'mengangguk.
Faras dan Najwa datang mbawakan sarapan pagi Zahra. umi dan Abi lalu pamit untuk turun,.
" makan dulu Zahra lalu minum jamu ini". ucap Najwa.
" ini apa mba" Zahra melihat minuman di gelas yang berwarna kecoklatan.
" ini jamu biar kamu seger lagi, kepalanya tak sakit lagi". Zahra menurut ia menghabiskan makanannya.
" rasanya begini ya mba". Zahra mengernyit meminum jamunya.
" namanya obat pasti rasanya tak enak Zahra, tapi setelah minum ini nanti badanmu akan terasa lebih baik". Zahra meminum sedikit demi sedikit.
Najwa merasakan ada sesuatu yang keluar dari hidungnya, saat Najwa usap ternyata darah. Lalu Najwa tutupi dengan jilbabnya agar tak mengalir, ia tak mau ada yang tau. Pagi ini Najwa lupa belum meminum obatnya, kemudian Zahra ke kamarnya tanpa ada yang tau kenapa Najwa menutup hidungnya.
Darah keluar dari hidung Najwa, kental dan segar. Najwa lalu membersihkan nya ia meminum obat, dan di tekan agar darah nya cepat berhenti.
" ya Allah ku mohon jangan sampai ada yang tau dulu". ucap Najwa sembari membersihkan darahnya.
Faras pamit kepada Zahra mengusap kepala Zahra, Zahra merasakan ketenangan saat tangan Faras kini lebih sering menyentuh kepalanya. Ada rasa yang mulai tumbuh antara keduanya.
" istirahat lah Zahra ngga usah keluar kamar dulu jika perlu sesuatu kamu telepon bibik ya". Zahra mengangguk. Faras berjalan ke arah pintu.
" mas.." panggil Zahra, Faras berhenti dan menoleh ke arah Zahra.
" hati-hati" Faras tersenyum dan mengangguk kemudian ia keluar dari kamar nya.
Mungkinkah rasa cinta keduanya telah tumbuh......
__ADS_1
___
bersambung