Rahim Untuk Suamiku

Rahim Untuk Suamiku
menikahi Zahra atau tinggalkan najwa


__ADS_3

Seperti biasa Faras hari ini akan berangkat ke kantor dan sebelumnya akan mengantar Najwa ke madrasah. Masih ada perasaan canggung antara mereka karena pembicaraan tadi malam, ucapan Najwa membuat Faras berfikir. apa yang membuat Najwa rela jika suaminya menikah lagi, seribu satu wanita yang menginginkan suaminya menikahi wanita lain.


Faras melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang namun tak ada pembicaraan antara mereka, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Najwa hanya menoleh ke samping saja melihat ramainya jalanan jika pagi.


" mas ucapan Najwa semalam serius mas, ku mohon beri kesempatan aku untuk jadi seorang ibu". ucap najwa mencair kan suasana yang sejak tadi sama-sama diam.


" Menjadi seorang ibu gak harus menyuruhku untuk menikah lagi sayang, masih banyak cara lain misal kita mengadopsi anak," ucap Faras berusaha tenang.


" Mas Faras subur mas bisa memperoleh anak dari darah daging mas, mas masih bisa menikah lagi. Rasulullah saja Istrinya tak hanya satu, dan ada alasan kenapa mas harus menikah lagi demi keturunan mas". Najwa berusaha untuk meyakinkan suaminya.


" tapi sayang aku tak bisa seperti Rasulullah yang mampu bersikap adil". Faras mencoba menekan emosinya.


" Najwa tak akan menuntut keadilan darimu mas, Najwa akan mengerti posisi Najwa". pungkas Najwa ia berusaha agar Faras mau menyetujui nya.


" mas yang tak bisa sayang". najwa diam.


Faras masih dengan santai melajukan mobilnya hingga tiba sampai madrasah. Masih dalam mode hening bahkan Najwa tidak langsung seperti biasanya.


" sayang mau ke madrasah tidak". Najwa lalu menoleh ke arah suaminya.


" mas ku mohon, ". Najwa memegang kedua tangan suaminya wajahnya memelas memohon.


" sayang ini hal berat sayang aku tak akan sanggup". ucap Faras.


" nikahi Zahra atau ceraikan Najwa".


" Najwa..." Faras mengeras kan volume suaranya, untung di dalam mobil jadi orang di luaran sana tak mendengarkan. Faras benar-benar marah karena sudah tak memanggil nama sayang lagi, Faras memanggil nama istri nya dengan keras.


" apa maksudmu sayang". Faras mencoba menekan emosinya ia berkata lirih.

__ADS_1


" Najwa serius mas, pilih salah satunya mas. Nikahi Zahra atau tinggalkan Najwa". Faras mengeratkan giginya agar ia tak emosi, selama menikah Faras tak pernah membentak, berkata kasar ataupun marah dengan istrinya. Faras sangat mencintai Najwa.


" astaghfirullah sayang pilihan apa itu bahkan aku tak sanggup keduanya".


" Jika mas menikahi Najwa kita masih akan terus bersama, jika mas tidak mau lebih baik tinggal kan Najwa." Najwa menarik tangan suaminya untuk Salim kemudian ia pergi masuk ke madrasah. Faras hanya diam saja menjawab salam Najwa pun setelah Najwa jauh dari mobilnya, Faras baru sadar bahwa istrinya benar-benar mengatakan hal itu. Faras memukul setir dengan keras, ia kesal .


" ya Allah Najwa kenapa kamu memberiku pilihan yang sangat sulit, aku tak mungkin meninggalkan mu". gumam faras ia pun masih belum menjalankan mobilnya.


Di kantor Faras sangat tidak bisa berkonsentrasi, kepalanya pusing ucapan Najwa terngiang-ngiang dalam benaknya bahkan ia mencancel jadwal meeting hari ini. Faras ingin cepat pulang menemui Najwa, hatinya gundah resah sangat tak baik.


Sebelum ashar Faras bergegas pulang, ia ingin cepat sampai ke rumah. Namun di perjalanan ia mengingat gadis itu, Zahra yang Najwa maksud. Faras memberhentikan mobilnya sedikit jauh darinya tempat jualannya ibunya Zahra. ia melihat Zahra sedang membantu ibunya berjualan, Zahra melayani pembeli dengan baik senyumnya sangat manis.


" astaghfirullah". Faras menikmati senyumnya Zahra hingga ia beristighfar. lalu Faras melajukan mobilnya menuju rumah Baba, Najwa ternyata masih istirahat di kamar ditemui sang istri yang masih tertidur kemudian ia ikut berbaring di samping Najwa.


Najwa terbangun kaget melihat suaminya terlelap di sampingnya. Faras tidak memberitahu Najwa jika ia akan pulang ke lebih cepat. Najwa membelai wajah suaminya yang masih tidur ia tersenyum namun air matanya luluh.


Pikiran Faras masih sangat pusing dengan permintaan istri nya, tak ada niatpun Faras untuk menikah lagi namun ini yang memintanya adalah Najwa. Baba juga heran tak biasanya melihat Faras istirahat siang di sini, kali itu kiyai Umar tidak ada jadwal kemanapun.


" tak biasanya Faras pulang cepat lalu istirahat di sini ma, ada apa dengan mereka". tanya baba yang penasaran dengan mereka.


" mungkin emang dia lelah ba makanya langsung istirahat atau mungkin Faras lagi gak enak badan ya". umma menelisik ada kemungkinan dua hal itu.


" bisa jadi si ma, semoga tidak apa-apa kenapa perasaan baba sangat tidak enak begini ya ma".


" Jangan berprasangka buruk ba tak baik, kita doakan untuk mereka semoga tak ada masalah apapun" baba mengangguk melanjutkan membaca kitab di tangannya.


" Najwa kenapa Faras pulang lebih awal nak apa dia sakit, ". tanya umma penasaran.


" Najwa juga tidak tau mas Faras tadi pulang jam berapa ma"

__ADS_1


" suamimu sudah pulang sejak siang mungkin kamu tertidur". ucap umma.


" sejak siang ma". umma mengangguk Najwa lalu ke kamar nya takut jika yang umma katakan benar bahwa suaminya sakit. Najwa pegang dahi suaminya, leher ingin memastikan tapi tidak ada apa-apa. Faras yang merasakan tangan istrinya ia menggenggam erat tangan Najwa lalu mengecupnya.


" Mas, mas tidak apa-apa kan. kata umma mas sudah pulang sejak siang". Faras mengerjapkan matanya ia masih malas untuk bangun justru Faras menarik istri nya agar tidur bersamanya.


" ngga sayang mas ngga sakit tapi pikiran mas yang sakit saat ini". Najwa mengerutkan keningnya.


" apa yang mas pikirkan, jangan terlalu di pikirkan terlalu dalam mas. bekerjalah jika lelah ya istirahat jangan di forsir tubuh juga butuh istirahat". ucap Najwa sedikit panjang.


" Kenapa kamu masih tanya dengan apa yang mas pikirkan, kamu ingat apa yang kamu katakan tadi pagi. itu membuat mas tidak konsentrasi dalam bekerja . mas mencancel semua jadwal meeting hari ini, mas tak fokus ingin cepat ketemu kamu istri mas". jelas Faras masih memeluk istrinya dari belakang.


" maafkan Najwa mas, hanya itu yang aku inginkan dari mu".


" sayang kamu tau berlaku adil itu tak mudah, sudah ku katakan beberapa kali hal ini padamu" kata Faras ia membuka jilbab istri nya Faras sangat suka menciumi bau harum rambut istri nya. khasnya lembut membuat gairah Faras membuncah.


" mas kita coba ya insyaAlloh mas akan bisa. dan aku tak akan menuntut keadilan lebih darimu".


" lalu bagaimana dengan Zahra ". tanya Faras.


" mas, Najwa memilihkan mas istri bukan hanya istri biasa. meski Zahra seseorang yang biasa namun ia mempunyai pemahaman yang luas. Zahra wanita saliha ia pantas untuk menjadi maduku menjadi istri mas."


hening


Faras memejamkan kembali matanya sembari memeluk sang istri.


______


bersambung

__ADS_1


__ADS_2